BIMBINGAN IBADAH HAJI ARRAFIIYAH SIAP MENGANTAR DAN MEMBIMBING ANDA UNTUK MENGGAPAI HAJI MABRUR --- BERGABUNG SEGERA BERSAMA KAMI

Minggu, 19 Februari 2012

Menjadi Haji Mabrur Seorang Diri

Ibadah haji dan jihad fii Sabilillah adalah dua amal ibadah yg bernilai tinggi di sisi Allah. Atas dasar itulah, Syeikh Abdullah bin al-Mubarak selalu menunaikan dua hal tersebut, tahun ini naik haji, tahun berikutnya berangkat berjihad, demikianlah secara selang-seling selalu dilakukannya, betapapun sibuk menderanya.
Tibalah saatnya Abdullah bin al-Mubarak berangkat haji. Setelah bekerja keras Abdullah bin Mubarak berhasil mengumpulkan bekal tak kurang 500 dinar uang emas. Dari kediamannya di Hijaz beliaupun pun berangkat menuju Makkah al Mukarramah.
Pada suatu waktu, setelah selesai menunaikan tahap demi tahap rangkaian ibadah haji, beliau tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.
“Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“600.000,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” Beliaupun menangis.
“Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Pikir Ibnu Mubarak sedih
“ Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama.
“Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah.” Lanjut malaikat pertama menerangkan.
Ketika Abdullah Ibnu Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damasykus mencari orang yang bernama Ali bin Muwaffaq itu. Dia telusuri tempat tinggal Muwaffaq sampai beliau temukan. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya tentang namanya.
“Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh!” Sapa Ibnu Mubarak sambil mengetuk pintu.
“Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Ibnu al-Mubarak kepada lelaki yang ditemuinya.
“Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah Anda?”
Kepada lelaki itu Ibnu al-Mubarak menerangkan jadi dirinya dan maksud kedatangannya. Setelah tahu siapa yang datang serta maksud dan tujuannya. Tiba-tiba Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan.
Ketika sadar, Ibnu Mubarak memohon agar Muwaffaq berkenan untuk menceritakan semua yang dia alami terkait dengan hajinya. Dia mengatakan bahwa selama 40 tahun dia telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Untuk itu telah terkumpul dana sebanyak 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Maka tahun ini dia memutuskan untuk pergi ke Mekkah.
Suatu hari istrinya yang sedang hamil mencium aroma sedap makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah rumahnhya. Kemudian si istri memohon kepadanya agar ia bisa mencicipinya sedikit. Lalu Muwaffaq pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya.
Saat Muwaffaq mengutarakan maksud kedatangannya, tetangga itupun mendadak menagis.
“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.
“Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Terang tetangganya sambil menangis.
Saat mendengar cerita itu hati Muwaffaq serasa terbakar. Maka tabungan yang terkumpul untuk berhaji sebanyak 350 dirham diberikan kepadanya.
“Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Muwaffaq.
“Inilah perjalanan hajiku.” kata Muwaffaq dalam hati.
“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah Ibnu Mubarak selepas menemui Muwaffaq.
“Dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”
Beliau bernama Abdullah bin al-Mubarak, Abu Abdurrahman al-Marwazy, Maula Bani Hanzhalah. Beliau lahir di salah satu kota yang terdapat di Khurasan yang dikenal dengan nama Marwaz pada tahun 118H /726 M dari rahim seorang ibu keturunan Khawarizmi (Persia) dan ayah yang berkebangsaan Turki. Secara fisik beliau sangat mirip dengan ayahnya. Beliau wafat pada tahun 181 H/797 M setelah beliau kembali dari berjihad, dan jasad beliau yang mulia dikuburkan di desa Hayyat Bagdad.
Abdullah bin al-Mubarak tumbuh dan besar di Marwaz yang merupakan kota kelahirannya, beliau terdidik di tengah keluarga shaleh yang senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman lagi wara’. Pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya beliau belajar pada sebuah sekolah dan menimba ilmu-ilmu dasar disana, maka pada masa itu tampaklah kecerdasan dan kecepatan beliau dalam menghafal sebagaimana persaksian salah seorang temanyang selalu bersamamnya dia berkata: “Ketika kami masih duduk ditaman kanak-kanak akau bersama Ibnu al-Mubarak melewati seseorang yang sedang berkhutbah, dimana khutbah yang disampaikan oleh orang tersebut sangat panjang, setelah khutbah selesai Ibnu al-Mubarak berkata kepadaku: ‘Aku telah menghafalkan seluruh isi khutbah tersebut’. Seseorangyang ada disekitarnya mendengarkan perkataan Ibnu al-Mubarak lalu berkata: ‘kalau memang demikian sampaikanlah khutbah yang baru saja disampaikan oleh khatib tadi!’, kemudian Ibnu al-Mubarak mengulangi isi khutbah tersebut tanpa menambah dan menguranginya”.

Rabu, 11 Januari 2012

Seorang Muslim Mestinya Dapat Dipercaya

Tidak bisa kita pungkiri bahwa sifat amanah (kejujuran) adalah hal yang mulai langka saat ini. Padahal sifat amanah itu adalah syarat menuju kebangkitan dan kejayaan. Tidak akan ada orang yang tampil menjadi pemimpin besar tanpa memiliki sifat amanah. Karena keadilan tidak akan tegak kecuali di tangan orang-orang yang dapat dipercaya.

Hari ini, tidak sedikit orang yang mengutamakan cara berpikir pragmatis dalam bekerja juga termasuk dalam berdakwah. Inilah yang menjadikan kondisi umat Islam secara keseluruhan belum mampu tampil ke permukaan sebagai umat terbaik.

Akhirnya muncul logika, “Apa yang bisa saya dapatkan”. Padahal motto hakiki yang mesti dimiliki setiap Muslim adalah, “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan,” bukan sebaliknya. Apalagi ikut-ikutan pakai jurus ‘aji mumpung’.

Dalam dunia dakwah juga mulai banyak praktik pragmatisme ini. Ketika seorang aktivis ditunjuk sebagai ketua misalnya. Logika yang terbangun adalah, “Wah untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya saya bisa menikmati.

Logika itulah yang menjadi sebab utama, mengapa umat Islam miskin produktivitas, miskin prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah, tidak lagi murni karena memperjuangkan umat Islam.

Tengoklah bagaimana sikap kaum Anshor tatkala menerima kedatangan kaum Muhajirin yang datang ke Madinah. Kaum Muhajirin datang ke Madinah tanpa perbendaharaan harta (istilah sekarang MADESU alias masa depan suram).

Akan tetapi kaum Anshor tak ragu untuk berbagi dengan kaum Anshor. Seluruh milik mereka dipersilakan separuhnya untuk kaum Muhajirin.

Apa pasal kaum Muhajirin berani bersikap seperti itu? Karena kaum Anshor mengenal dengan pasti bahwa kaum Muhajirin adalah para pengikut utama rasulullah saw yang tentu jika diberi kepercayaan akan memiliki komitmen, punya etos kerja yang bagus, juga memiliki dedikasi yang tinggi.

Kunci Sukses Nabi

Amanah adalah senjata utama rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak kecil beliau telah dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Perangainya yang jujur tersebut membuat saudagar kaya-raya, Khadijah tertarik merekrut beliau sebagai direktur pemasaran dalam perniagaan yang diusahakannya.

Bahkan karena kekagumannya yang tak terbendung akan kejujuran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, Khadijah pun yakin dengan sepenuh hati, bahwa dirinya tidak akan merugi bila melamar rasulullah saw sebagai suaminya. Artinya sikap amanah nabi kala itu telah mengantarkan beliau sukses menjadi figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, sebagai pemimpin dan sebagai utusan Allah SWT.

Jadi pantaslah jika Rasulullah menegaskan bahwa amanah adalah cermin keimanan seorang Muslim. “Rasulullah tidak pernah berkhutbah untuk kami kecuali ia mengatakan : “Tidak adakeimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pandai memeliharanya.” (HR Imam Ahmad bin Hambal).

Etos Kerja dan Keuntungan Besar

Sikap amanah akan mendorong seorang Muslim memiliki etos kerja yang baik. Baginya, segala aktivitas adalah dalam rangka mendapat ridho Allah, termasuk dalam hal bekerja. Oleh karena itu, dia akan menjaga dirinya dari berbuat curang, korup, dan beragam tindak tercela lainnya yang dapat merusak kualitas keimanannya.

Seperti yang populer diriwayatkan dalam sejarah kekhalifahan Umar bin Khattab mengenai seorang gadis yang dipaksa oleh ibunya agar mencampur susu yang hendak dijual esok hari agar dicampur dengan air.
“Campurlah susu itu dengan air wahai putriku, ujar si ibu. “Tidak ibu, aku tidak akan pernah melakukan hal itu,” tegas sang anak. “Bukankah tidak ada orang yang melihat kita, tidak ada khalifah di sini,” timpal sang ibu. Sang anak langsung menjawab dengan tegas, “Apakah ibu lupa bahwa Allah melihat segala sesuatu.
Mendengar jawaban sang gadis, Umar yang ketika itu sedang dalam perjalanan patroli, langsung membuat satu keputusan besar. Khalifah kedua itu langsung menikahkan putranya dengan putri penjual susu itu.  Apa pasal, tidak akan merugi selamanya orang yang menjadikan amanah sebagai perangai dalam hidupnya.
Keuntungan dunia tak membuatnya tergoda untuk bertindak dosa. Justru sebaliknya, kesusahan hidup yang dirasa, justru membuatnya kian semangat bekerja dengan mematuhi sepenuh hati syariah Allah Subhanahu Wata’ala.

Luar biasa, atas kehendak Allah, akhirnya dari keturunan putra Umar dan gadis penjual susu itu lahirlah khalifah terbaik pasca khulafaur rasydin, yaitu Umar bin Abdul Azis. Sungguh satu keuntungan yang sangat besar.

Setiap Kita Mengemban Amanah

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda; “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dalam memelihara harta tuannya dan ia akan ditanya pula tentang kepemimpinannya”, (HR Imam Bukhori).

Oleh karena itu, marilah kita berupaya menumbuhkan sikap amanah dalam diri kita. Yaitu dengan sungguh-sungguh memelihara iman. Kaya jangan membuat kita kikir, apalagi sombong, semena-mena, karena harta benda itu hakikatnya hanyalah titipan bahkan boleh jadi justru sebuah ujian.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8 : 29).  

Sebaliknya Allah melarang setiap Muslim menjadi pengkhianat atau pengabai amanah. Sebagaimana Allah SWT tegaskan;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal : 27).

Ringkasnya sebagai apapun, kita wajib menjadi Muslim yang amanah. Jika anda guru, maka mengajarlah dengan penuh semangat dan keteladanan. Jika anda pejabat, maka bekerjalah dengan penuh semangat untuk kepentingan ummat. Jika anda pelajar, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh demi mendapat ilmu yang bermanfaat untuk menegakkan agama AllahSubhanahu Wat’ala.

Jika bukan amanah Allah yang kita perjuangkan lantas kebahagiaan dari siapa yang bisa kita harapkan? Tanpa mentalitas amanah yang baik, mustahil kebangkitan umat Islam akan tegak di muka bumi.  

Wallahu a’lam

Sabtu, 05 November 2011

BERHAJI UNTUK ALLAH

 Dan Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian untuk Allah“. (Al-Baqarah: 196)

Haji merupakan ibadah yang menampakkan sisi ‘ittiba’ aspek kepengikutan dan peneladanan kepada Nabi saw yang paling ketara. Sedikit saja dari amaliah haji seseorang yang bertentangan dengan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah bisa berakibat kepada sisi ‘mabrurnya’ haji seseorang terkurangi, bahkan tidak tercapai. Rasulullah saw bersabda tentang ini: “Ambillah dariku manasik haji”. Haji juga merupakan salah satu dari media pembelajaran ketakwaan dan ‘madrasah’ ibadah yang paling urgen. Disini akan nampak kuatnya hubungan dan pertalian hati seseorang dengan Allah yang merupakan harta kekayaan orang yang bertakwa dan modal orang yang ahli beribadah. Dalam hal ini, tauhid yang lurus merupakan buah sekaligus motifasi seseorang memenuhi undangan ke Baitullah.

Ayat di atas menurut As-Sa’di mengandung perintah untuk melaksanakan haji dengan ikhlas dan sebaik-baiknya sehingga mencapai kesempurnaan. Perintah ikhlas merupakan penjabaran dari nilai tauhid seseorang yang benar kepada Allah swt; bahwa hanya karena dan untuk Allah seseorang sukarela menjalankan seluruh manasik haji. Dalam konteks ini, terdapat beberapa aspek tauhid yang terekam dalam perjalanan ibadah haji, diantaranya:  

Pertama, Talbiyah yang merupakan syiar ibadah haji mengandung makna meng-Esa-kan Allah dan meniadakan sekutu bagi-Nya dalam setiap amalan. Sahabat Jabir ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bertalbiyah meng-Esa-an Allah dengan benyak mengucapkan,

لَبَيْكَ اللّهُمَّ لَبَيْكَ، لَبَيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu.Tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan juga kekuasaan hanyalah kepunyaan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”. (HR Muslim)

Dalam hadits yang lain Abu Hurairah ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. melantunkan talbiyah dengan membaca

لَبَيْكَ إِلَهِ الْحَقَّ، لَبَيْكَ


“Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Tuhan Kebenaran. Aku penuhi panggilan-Mu”.(HR Ibnu Majah). Talbiyah inilah yang paling banyak menyertai perjalanan haji seseorang yang mencerminkan kesiapan seseorang untuk senantiasa mentauhidkan Allah dalam seluruh kehidupannya. Tentu ini mengingatkan mereka agar senantiasa berada dalam koridor ‘tauhid’ kepada Allah swt.

Kedua, Nabi menekankan untuk beramal dengan ikhlas serta berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya’ (memperlihatkan amal perbuatan kepada orang lain) dan sum’ah (memperdengarkan amal kepada orang lain). Hadits riwayat Anas ra menyebutkan bahwa Nabi saw. berdoa,

اللَّهُمَّ حُجَّةٌ لاَ رِيَاءَ فِيْهَا وَلاَ سُمْعَةَ

“Ya Allah, Ku tunaikan haji ini, maka jadikanlah hajiku ini tanpa riya’ dan sum’ah”. (HR Ibnu Majah). Nabi saw juga mencontohkan agar membaca surat yang identik dengan tauhid dalam shalat dua rakaat selepas thawaf seperti dalam riwayat jabir bahwa Rasulullah senantiasa membaca قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ… dan قُلْ هُوَ الله أَحَدُ… . (HR Abu Daud)

Nabi saw berdoa di atas Bukit Shafa dan Marwa dengan membaca kalimah tauhid. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir ra., bahwa Nabi memulai (sa’i) dari bukit Shafa kemudian mendakinya hingga melihat Ka’bah. Lalu Nabi menghadap kiblat dengan mengucapkan kalimah tauhid dan takbir yaitu,

لاَإِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَإِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ …

“Tiada tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya. dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada tuhan selain Allah semata… ” Nabi melafalkan bacaan ini tiga kali hingga sampai bukit Marwa. Kemudian di atas bukit itu dia melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan di atas bukit Shafa. )HR Muslim (kemudian Nabi saw juga berdoa di Padang Arafah dengan membaca kalimah tauhid. “Sebaik-baik doa adalah doa di Padang Arafah, dan sebaik-baik bacaan yang aku dan para Nabi lantunkan adalah,

لاَإِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرِ

“Tiada tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (HR Tirmidzi).

Ketiga, selain dari aktifitas fisik, maka aktifitas terbanyak dalam ibadah haji adalah doa. Dalam ibadah haji, doa mendapatkan tempat yang istimewa dalam amalan Nabi saw. Rasulullah berdoa memohon kepada Allah ketika tawaf (HR Abu Daud). Ketika berada di bukit Shafa dan Marwah. Bahkan beliau memanjangkan doa pada hari Arafah. Beliau juga ketika berada di atas untanya mengangkat kedua tangan hingga pada bagian dada seperti seorang fakir menengadahkan tangan meminta-minta.. Demikian pula di Muzdalifah sebagai al-Masy’ar al-Haram, Rasulullah memperpanjang munajat sesudah shalat fajar di awal waktu hingga menjelang matahari terbit. (HR Muslim). Di hari-hari tasyriq sesudah melempar dua jumrah yang pertama, Nabi menghadap kiblat dan berdiri lama seraya berdoa sambil mengangkat kedua tangan. (HR Bukhari, hadits no.1751). Ibnu Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad menyatakan bahwa lama Nabi berdoa kira-kira selama membaca Surat Al-Baqarah).

Inilah beberapa riwayat mengenai petunjuk nabi dalam berdoa semasa menjalankan ibadah haji. Sedangkan mengenai wirid dan dzikir, hal ini tidak pernah lepas semenjak berangkat haji dari Madinah hingga pulang kembali. Nabi senantiasa mambasahi lisan dengan dzikir kepada Allah, banyak memuji dengan segala yang pantas bagi-Nya, baik berupa talbiyah, takbir, tahlil, tasbih ataupun tahmid, baik berjalan kaki ataupun berada di atas kendaraan dan dalam keadaan apapun. Lebih dari semua itu, dzikir kepada Allah adalah tujuan yang paling besar dari ibadah haji, sebagaimana dipahami dari firman Allah:  “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut(membangga-banggakan) nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. (Al-Baqarah [2]:199 – 201).

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. (Al-Hajj [22]: 28).

Demikian kesadaran yang tertinggi bagi seseorang yang menjalankan ibadah haji bahwa ia sedang mengimplementasikan tauhid dalam kehidupannya. Berawal dari motifasi untuk Allah, bersama Allah, karena Allah dan hanya untuk Allah semata. Pertanyaan besar yang terus membayangi para jemaah haji yang baru pulang dari BaituLlah adalah apakah nuansa tauhid dan kerja keras untuk Allah akan tetap terpelihara pasca haji? Ataukah justru sebaliknya, greget ibadah tersebut hanya bersifat sementara dan berskala lokal (musiman) seperti juga semangat ibadah di bulan Ramadhan yang terhenti dengan berakhirnya bulan tersebut??.

Sabtu, 22 Oktober 2011

MERENUNG DI ARAFAH


Diriwayatkan, Arafah merupakan tempat untuk wukuf bagi para jemaah haji. Nabi Muhammad SAW bersabda; "Haji adalah wukuf di Arafah." Ini artinya pelaksaan ritual wukuf memiliki makna penting dan tidak boleh ditinggalkan karena merupakan rukun yang dapat menentukan sah tidaknya haji.


Arafah disebutkan juga sebagai tempat nabi Adam meminta ampun karena telah melakukan pelanggaran atas larangan yang diperintahkan Allah yakni mendekati pohon terlarang. Di padang ini pula, Allah memberikan ampunan yang dimohonkan Nabiyullah Adam Alaihi Salam.

Mengambil pijakan pada riwayat tersebut, mari kita songsong waktu yang akan mengantar kita berkumpul di Arafah. Kemudian, tekadkan pada hati, betapa langkah kaki ini dalam menanapaki hidup tidaklah selalu membuahkan pahala.
Sebaliknya, kaki ini lebih banyak mengantar pada arah dosa. Mata yang tajam, lebih banyak menangkap kemaksiatan. Begitu pula telinga, lebih banyak mendengar bisikan-bisikan yang menyesatkan dan mulut lebih banyak menaburkan kata-kata dusta bukan dzikir yang menjernihkan jiwa.

Semua itu harus dibuka secara nyata. Lewat wukuf sebagai sarana dalam menciptakan keheningan raga. Lintaskanlah dalam pikiran atas segala lukisan dosa yang menjadi warna tidak indah sehingga menghambat dalam upaya melakukan pertemuan antara manusia dengan Sang Khlaik yang selalau didamba.

Lewat Wukuf juga, tanggalkan rasa takut. Jika cinta maka katakan sejujurnya dan mintalah ampun karena telah ingkar atas perikatan yang telah dilakukan supaya cinta Sang Khalik tidak luntur.

Saat merenungi ritual Wukuf di Arafah, mendadak terdengar ajakan untuk melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah, Mina sampai Jamarat.

Wahai Engkau Sang Pemilik
Matahari Mu tak seberapa terik
Ketika kaki menapaki Arafah
Dalam kering dan lelah
Aku datang bukan sekadar bertandang
Tapi, membawa jiwa yang kelam
Biar ku sucikan dengan ampunan Mu
Agar tak terhindar dari cinta Mu
Wahai Engkau Sang Pemilik
Izinkan aku datang kembali
Saat wukuf di Arafah Mu
Untuk merajut rindu dalam heningku

Kamis, 20 Oktober 2011

HARGA TIKET 'MASHAIR' 250 RIYAL

Tiket untuk menaiki kereta monorel "Mashair" akan dibuka mulai 25 Oktober hingga 3 Nopember 2011. Harga Tiker 250 riyal dan hanya diperuntukan peruntukan bagi perusahaan-perusahaan haji domestik, misi haji luar negeri dan departemen-departemen pemerintahan saja. Hal itu diumumkan petugas penjual tiket Farred Al Ghamdi seperti dilansir situs web Arabnews, belum lama ini.
Untuk tahun ini, kata Al Ghamdi, kereta Mashair akan dioperasikan maksimal yakni mengangkut 500.000 jemaah haji dari Mekah ke Mina, Arafah, dan Musdalifah. Dalam satu jam, proyek yang menghabiskan biaya 6,7 miliar riyal itu mampu memberangkatkan jemaah sebanyak 72.000 jemaah.
Deputi Menteri Urusan Hubungan Desa dan Kotapraja, Habib Zaine Al-Abidine, setiap jemaah yang naik Mashair ini akan dikenakan biaya 250 riyal selama musim haji. Harga itu untuk menutup perjalanan dari Mina ke Arafah dan dari Arafah ke Muzdalifah dan kembali lagi ke Mina.
Sebanyak 4.000 pemuda Arab Saudi yang bekerja untuk kereta Mashair ini telah dilatih bagaimana mengeoperasikan kereta tersebut. Mereka pun dilatih pengelompokan dan manajemen jemaah yang berjubelan.Bentuk monorel Mashair memanjang seperti kereta api listrik di Jakarta. Sekilas angkutan ini memang tampak sangat bagus. Apalagi bila tengah melaju di antara deretan-deretan tenda di Mina yang berwarna putih. Hilir mudik monorel nantinya di kawasan Arafah dan Mina akan menjadi pemandangan baru yang menarik.
Jemaah haji Indonesia tetap belum bisa menggunakan moda angkutan moderen tersebut. Nantinya, para jamaah haji Indonesia ketika akan melakukan ibadah di area Armina (Arafah dan Mina) tetap menggunakan angkutan biasa, yakni bus.
"Tak hanya Indonesia, jemaah haji dari Asia Tenggara pun tak ada yang naik monorel. Memang sempat ada penawaran dari pihak Saudi Arabia akan penggunaan fasilitas itu. Tapi kami berpikir lebih baik naik angkutan biasa. Jadi kecenderungannya sekarang fasilitas monorel itu hanya digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari kawasan Arab saja," kata Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Mekah, Arsyad Hidayat, beberapa waktu lalu.

Minggu, 16 Oktober 2011

MEMETIK PELAJARAN HIDUP DARI SITI HAJAR

Prosesi tawaf yang mempersatukan umat Islam seluruh dunia, boleh berhenti bagi setiap orang yang melaksanakannya. Namun, kebersamaan terus berlanjut manakala memasuki fase berikutnya yakni Sai dari bukit Safa dan Marwah yang letaknya lebih tinggi dari altar Ka`bah.

Tepat kaki ini bersama jemaah yang lain menginjakkan bukit Safa, maka terbayanglah perjuangan Siti Hajar dalam mempertahankan hidup bagi dirinya dan Ismail, putranya. Setelah itu, secara bersamaan wajah dipalingkan mengahadap Ka`bah. Saat itu pula, terbayang bagaimana Ismail yang disandaran di Ka`bah dalam keadaan yang perlu air di tengah terik matahari.

Ingatan ini terus melayang ke belakang, melukiskan keadaan di sekitar Ka`bah, bukit Safa dan Marwah yang tentu lebih gersang daripada sekarang. Karena itu, bagi jemaah haji yang melakukan napak tilas, hendaknya melakukan penjiwaan secara total ketika berada di bukit Shafa dan lorong-lorong yang mengantarnya sampai ke Marwah.

Melalui totalitas jiwa ini, siklus kita akan membawa pada perenungan masa lampau. Sosok Siti Hajar akan hidup kembali dalam bentuk kekuatan yang luar biasa di saat menghadapi penderitaan yang besar beserta putranya itu.

Sepanjang jalan dari Safa dan Marwan ketika itu adalah padang gersang, penuh bebatuan yang runcing dan tajam terhampar. Begitu pun terik matahari yang menyengat kepala, membakar tubuh dan hempasan angin yang menusuk pori-pori terasa kering.

Bayangan itu sangatlah kontradiktif dengan kondisi saat ini. Ini karena jejak-jejak Siti Hajar antara Safa dan Marwah telah berubah lantaran tanah yang dulu kasar kini terhampar pualam licin. Udara yang panas menyengat telah berubah menjadi sejuk.

Kesan yang didapat secara fisik, Sai itu tidak ada tantangan apa pun. Hal itu akan berbeda jika seluruh jiwa tenggelam dalam kesungguhan sehingga memenuhi ruang-ruang masa lampau. Atas dasar itu, maka hikmah yang diraihnya adalah berupa nilai perjuangan yang amat dahsyat bagi istri yang taat kepada suami, bertanggungjawab terhadap amanah yang diembannya dan selalu berserah diri pada Sang Khalik.

"Subhana Allah. Betapa berat bila dirasakan keadaan yang dihadapi Siti Hajar beserta putranya. Tapi, itulah cara Allah Yang Maha Besar menguji orang-orang pilihan dan yang disayangiNya," begitu bisik hati ini seraya menyeka air mata yang menetes tanpa dirasa.

Melalui Sai, jemaah mestinya menangkap simbol kemandirian Siti Hajar dalam memperjuangkan kehidupan untuk dirinya dan Ismail, putranya. Dari perjuangannya yang tak mengenal lelah dan menyerah itu, Allah memberinya mata air yang hingga kini masih terus mengalir yakni Zam Zam.

Hadiah dari Allah itu bentuk kasih sayang atas kesungguhan dan ketabahan dalam memperjuangkan kehidupan Siti Hajar. Ini hendaknya menjadi pelajaran penting dalam kehdupan umat Islam yang berjalan dan kadang berlari kecil antara Safa dan Marwah.

Keadaan jalan yang menuju dua bukit itu ada kalanya mendatar dan ada kalanya naik. Mendatar seolah mencerminkan jalan kehidupan ini kadang menimbulkan perasaan tenang baik dalam himpitan maupun kebahagian. Sebaliknya, dua bukit itu dapat diambil gambaran bahwa dalam meraih kesuksesan hidup ini tidak mudah karena harus berani mewati berbagai rintangan.

Kunci untuk keberhasilan ini juga harus sertai dengan tawakal dan tindakan nyata, bukan bertopang dagu dan bermalas-malasan. Hal itu harus dilakukan supaya mampu meraih apa yang menjadi tujuan hidup, baik untuk dunia maupun kelak di akhirat.

Tokoh sufi Jalaluddin Rumi mengatakan, "Tawakal dicintai Allah. Tuhan telah meletakkan tangga di depan kita agar kita mendaki hingga puncaknya. Anda punya tangan mengapa tak dilentangkan Anda punya kaki, mengapa dibiarkan lumpuh? Jika Anda ingin bertawakal, maka bertawakllah melalui pekerjaanmu yakni tebarlah bibit, barulah bertawakal."

Tawakal yang dicontohkan Siti Hajar itu telah melibatkan seluruh kekuatan tubuh dan kekuatan batin. Pasalnya, ia gerakkan kaki dan tangannya untuk terus berusaha menembus padang gersang mencari kehudupan. Kekuatan batinnya adalah menyandarkan sepunuhnya kepda kasih sayang Allah sehingga menemukan mata air Zam Zam.

Hikmah lainnya, melalui Sai telah mengajarkan kesungguhan dalam segala hal, baik dalam menjalani kehidupan secara fisik maupaun rohani. Nabi Muhammad Bersabda, "Sungguh, Allah sangat senang jika salah satu di antara kalian melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh."

Kesungguhan itu telah dicontohkan Siti Hajar melalui perjuangan antara Safa dan Marwah. Kini jemaah haji kita telah melakukan prosesi spiritual di antara dua bukit itu melalui Sai.

Harapannya, setelah kembali ke kampung halaman bersama keluarga, semoga jemaah haji kita lebih istiqomah dalam menjalani kehidupan dan dapat mengalirkan kasih sayang bagi sesama, seperti mata air Zam Zam yang bisa dirasakan setiap orang. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Jumat, 07 Oktober 2011

JAGA FISIK KUNCI SUKSES IBADAH HAJI

Menjalankan ibadah haji ke Arab Saudi sesungguhnya semata-mata bukan hanya melakukan kegiatan ritual sebagai tamu Allah, tapi lebih dari itu juga menjalankan kegiatan fisik yang cukup berat.
Banyak jamaah calon haji lupa atau mungkin mengabaikan bahwa selama berada di Tanah Suci, mereka akan dihadapkan dengan berbagai kegiatan ibadah sekaligus melakukan kegiatan fisik.

Seringkali jamaah saat tiba di Tanah Suci lupa terhadap kondisi fisiknya. Mereka begitu tiba di Madinah banyak yang langsung menjalankan sholat lima waktu di Masjid Nabawi untuk mengejar Arbain.
Bahkan tidak sedikit dari mereka saat mengejar untuk memperoleh pahala, lupa terhadap kebutuhan badannya sendiri seperti makan cukup dan teratur serta istirahat (tidur) cukup.
Akibatnya mereka sesungguhnya kondisi fisik lemah dan sakit tapi karena mengejar keinginan untuk beribadah keadaan tersebut diabaikan.

Jamaah sebetulnya bisa mengukur diri sendiri apakah kondisi fisiknya lemah atau tidak, orang lain bahkan saudara terdekat atau teman sekalipun.

Tanpa bermaksud menyalahkan takdir, wafatnya seorang jamaah calon haji asal Kebumen, Jawa Tengah, Kasiyah binti Ahmad Disan (79) di Balai Pengobatan Haji Indonesia Madinah, Arab Saudi, (4/10) disebabkan almarhumah mengabaikan makan yang cukup.

"Menurut keluarganya, sejak masuk ke Arab Saudi, almarhumah tetap ikuti acara ziarah dengan keluarganya, dan pingsan saat ziarah. Ternyata pingsannya ini kekurangan kalori," kata Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Madinah Dr Subagyo.

Kasiyah yang meninggal pada Selasa (4/10) pukul 15.30 waktu setempat atau pukul 19.30 WIB merupakan jemaah haji asal embarkasi S0C (Solo) 2 yang dirujuk oleh kerabatnya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPIH) setelah mengalami pingsan saat melakukan ziarah di Madinah.

Saat mendapat perawatan di BPHI, kata Subaygio, almarhumah sempat siuman dan kondisinya stabil. Namun saat keluarga yang mengantarkannya kembali ke sektor IV, kondisi almarhumah kembali lemas dan organnya tidak berfungsi.

"Masalah ketuaan membuah kondisinya labil. Kekurangan kalori, kelompok 65 tahun ke atas harus dapat pendampingan dan almarhumah memang ada hipertensi," katanya.
Subagyo mengingatkan agar para jemaah harus betul-betul mempersiapkan dengan baik saat melakukan perjalanan haji, termasuk menjaga kesehatannya.

"Harus mau makan dan minum. Apalagi masalah ketuaan, kondisinya sangat labil," kata Subagyo.

Sementara untuk menjaga kesehatan, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi Dr Mawari Edi mengingatkan jamaah calon haji disarankan terus menggunakan masker selama berada di Arab Saudi untuk menghindari penyakit saluran pernafasan.
"Suhu panas dan kelembaban rendah bisa sebabkan serangan saluran pernafasan yang berakibat tenggorokan kering, gatal dan terasa ingin batuk," kata Mawari.
Dikatakannya, rata-rata suhu di Arab Saudi saat ini cukup terik sehingga bagi warga Indonesia menjadikan cepat letih ketimbang berada di Indonesia.

Dia mengingatkan kelembaban udara rendah sehingga perlu diwaspadai jemaah calon haji.

Oleh sebab itu, katanya menyarankan calhaj hendaknya terus menggunakan masker dimanapun berada terutama saat berada di tempat terbuka.

"Penggunaan masker itu penting untuk cegah serangan saluran pernafasan dan jaga kelembaban udara. Jadi walaupun tidak sakit dianjurkan tetap pakai masker" kata Mawari.
Hal lain yang perlu dilakukan calhaj, tambahnya, perlu secara rutin minum air putih setidaknya tiga liter sehari.
Air putih penting dikonsumsi untuk menjaga dehidrasi dan meningkatkan daya tahan tubuh.

"Kalau sudah dehidrasi maka bisa menyebabkan disorientasi sehingga bisa menyebabkan daya tahan tubuh lemah dan pada akhirnya mudah sakit," katanya menambahkan.
Dari pengalaman tahun-tahun lalu, serangan saluran pernafasan merupakan penyakit yang paling banyak menyerang calhaj.

"Kami dari BPHI sudah 100 persen menyiapkan diri dengan tenaga dokter umum, bedah, jantung dan perawat untuk membantu calhaj," katanya.
Sesekali Boleh
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah Arsyad Hidayat mengingatkan jamaah hendaknya harus bener-benar mempersiapkan diri secara fisik saat menjalankan ibadah haji.

"Sesekali boleh menjalankan ibadah sunah tapi hendaknya jangan terlalu memaksakan diri sehingga nanti malah sakit dan tidak bisa jalankan ibadah wajibnya," katanya.
Dia mengingatkan rangkaian ibadah haji selama 40 hari di Tanah Suci Mekah bukanlah ibadah ringan dan memerlukan fisik yang prima, karena harus tawaf, sai, serta jalan kaki menuju Arafah saat puncak Haji.
Arsyad menilai jamaah Indonesia selama ini memang terlalu bersemangat saat tiba di Tanah Suci sehingga tidak lagi memperdulikan kondisi fisiknya yang letih setelah menempuh perjalanan udara dari Jakarta sekitar sembilan jam.
Memang dapat dipahami alasan para jamaah untuk terus melakukan ibadah mengingat ada kesan "Kapan lagi dapat pahala besar mumpung berada di Tanah Suci".
Belum lagi saat ini untuk bisa berangkat menjalankan ibadah haji harus antri sekitar empat hingga lima tahun.

"Saya memang bisa paham alasan jamaah mengapa memaksakan diri untuk ibadah. Tapi hendaknya mereka juga bisa tahu kondisi fisiknya masing-masing," katanya.
Apalagi, katanya, memang ada pendapat yang mengatakan bahwa apabila sholat lima waktu di Masjid Nabawi pahalanya 1.000 kali lipat dan di Masjid Haram 100 ribu kali lipat.

Untuk itu dia mengingatkan jangan sampai jamaah terlalu memaksakan diri beribadah, sesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing, sehingga nanti saat pucak haji di Arafah yang wajib hukumnya bisa menjalankan dengan baik.(Ahmad Wijaya)

Arsip Blog