<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759</id><updated>2012-02-19T07:07:52.676+07:00</updated><category term='Artikel'/><title type='text'>haji akbar</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>117</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-6938224392669717890</id><published>2012-02-19T07:07:00.000+07:00</published><updated>2012-02-19T07:07:52.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Menjadi Haji Mabrur Seorang Diri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nC1mfc8Tgi0/T0A9MeO7fdI/AAAAAAAABUw/S4TMzIKPkF4/s1600/kabah1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://1.bp.blogspot.com/-nC1mfc8Tgi0/T0A9MeO7fdI/AAAAAAAABUw/S4TMzIKPkF4/s200/kabah1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Ibadah haji dan jihad fii Sabilillah adalah dua amal ibadah yg bernilai tinggi di sisi Allah. Atas dasar itulah, Syeikh Abdullah bin al-Mubarak selalu menunaikan dua hal tersebut, tahun ini naik haji, tahun berikutnya berangkat berjihad, demikianlah secara selang-seling selalu dilakukannya, betapapun sibuk menderanya.&lt;br /&gt;Tibalah saatnya Abdullah bin al-Mubarak berangkat haji. Setelah bekerja keras Abdullah bin Mubarak berhasil mengumpulkan bekal tak kurang 500 dinar uang emas. Dari kediamannya di Hijaz beliaupun pun berangkat menuju Makkah al Mukarramah.&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, setelah selesai menunaikan tahap demi tahap rangkaian ibadah haji, beliau tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.&lt;br /&gt;“Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.&lt;br /&gt;“600.000,” jawab malaikat lainnya.&lt;br /&gt;“Berapa banyak dari  mereka yang ibadah hajinya diterima?”&lt;br /&gt;“Tidak satupun”&lt;br /&gt;Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.&lt;br /&gt;“Apa?” Beliaupun menangis.&lt;br /&gt;“Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Pikir Ibnu Mubarak sedih&lt;br /&gt;“ Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama.&lt;br /&gt;“Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah.” Lanjut malaikat pertama menerangkan.&lt;br /&gt;Ketika Abdullah Ibnu Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damasykus mencari orang yang bernama Ali bin Muwaffaq itu. Dia telusuri tempat tinggal Muwaffaq sampai beliau temukan. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya tentang namanya.&lt;br /&gt;“Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh!” Sapa Ibnu Mubarak sambil mengetuk pintu.&lt;br /&gt;“Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Ibnu al-Mubarak kepada lelaki yang ditemuinya.&lt;br /&gt;“Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah Anda?”&lt;br /&gt;Kepada lelaki itu Ibnu al-Mubarak menerangkan jadi dirinya dan maksud kedatangannya. Setelah tahu siapa yang datang serta maksud dan tujuannya. Tiba-tiba Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan.&lt;br /&gt;Ketika sadar, Ibnu Mubarak memohon agar Muwaffaq berkenan untuk menceritakan semua yang dia alami terkait dengan hajinya. Dia mengatakan bahwa selama 40 tahun dia telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Untuk itu telah terkumpul dana sebanyak 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Maka tahun ini dia memutuskan untuk pergi ke Mekkah.&lt;br /&gt;Suatu hari istrinya yang sedang hamil mencium aroma sedap makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah rumahnhya. Kemudian si istri memohon kepadanya agar ia bisa mencicipinya sedikit. Lalu Muwaffaq pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya.&lt;br /&gt;Saat Muwaffaq mengutarakan maksud kedatangannya, tetangga itupun mendadak menagis.&lt;br /&gt;“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.&lt;br /&gt;“Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Terang tetangganya sambil menangis.&lt;br /&gt;Saat mendengar cerita itu hati Muwaffaq serasa terbakar. Maka tabungan yang terkumpul untuk berhaji sebanyak 350 dirham diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;“Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Muwaffaq.&lt;br /&gt;“Inilah perjalanan hajiku.” kata Muwaffaq dalam hati.&lt;br /&gt;“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah Ibnu Mubarak selepas menemui Muwaffaq.&lt;br /&gt;“Dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”&lt;br /&gt;Beliau bernama Abdullah bin al-Mubarak, Abu Abdurrahman al-Marwazy, Maula Bani Hanzhalah. Beliau lahir di salah satu kota yang terdapat di Khurasan yang dikenal dengan nama Marwaz pada tahun 118H /726 M dari rahim seorang ibu keturunan Khawarizmi (Persia) dan ayah yang berkebangsaan Turki. Secara fisik beliau sangat mirip dengan ayahnya. Beliau wafat pada tahun 181 H/797 M setelah beliau kembali dari berjihad, dan jasad beliau yang mulia dikuburkan di desa Hayyat Bagdad.&lt;br /&gt;Abdullah bin al-Mubarak tumbuh dan besar di Marwaz yang merupakan kota kelahirannya, beliau terdidik di tengah keluarga shaleh yang senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman lagi wara’. Pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya beliau belajar pada sebuah sekolah dan menimba ilmu-ilmu dasar disana, maka pada masa itu tampaklah kecerdasan dan kecepatan beliau dalam menghafal sebagaimana persaksian salah seorang temanyang selalu bersamamnya dia berkata: “Ketika kami masih duduk ditaman kanak-kanak akau bersama Ibnu al-Mubarak melewati seseorang yang sedang berkhutbah, dimana khutbah yang disampaikan oleh orang tersebut sangat panjang, setelah khutbah selesai Ibnu al-Mubarak berkata kepadaku: ‘Aku telah menghafalkan seluruh isi khutbah tersebut’. Seseorangyang ada disekitarnya mendengarkan perkataan Ibnu al-Mubarak lalu berkata: ‘kalau memang demikian sampaikanlah khutbah yang baru saja disampaikan oleh khatib tadi!’, kemudian Ibnu al-Mubarak mengulangi isi khutbah tersebut tanpa menambah dan menguranginya”.&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-6938224392669717890?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/6938224392669717890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2012/02/menjadi-haji-mabrur-seorang-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6938224392669717890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6938224392669717890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2012/02/menjadi-haji-mabrur-seorang-diri.html' title='Menjadi Haji Mabrur Seorang Diri'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nC1mfc8Tgi0/T0A9MeO7fdI/AAAAAAAABUw/S4TMzIKPkF4/s72-c/kabah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-6308796081599888597</id><published>2012-01-11T16:24:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T16:24:39.676+07:00</updated><title type='text'>Seorang Muslim Mestinya Dapat Dipercaya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CSXWXfsXyEs/Tw1NHk18TTI/AAAAAAAABSs/EO_zt8UNkWw/s1600/ak89.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-CSXWXfsXyEs/Tw1NHk18TTI/AAAAAAAABSs/EO_zt8UNkWw/s200/ak89.jpg" width="171" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Tidak b&lt;/strong&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;isa kita pungkiri bahwa sifat amanah (kejujuran) adalah hal yang mulai langka saat ini. Padahal sifat amanah itu adalah syarat menuju kebangkitan dan kejayaan. Tidak akan ada orang yang tampil menjadi pemimpin besar tanpa memiliki sifat amanah. Karena keadilan tidak akan tegak kecuali di tangan orang-orang yang dapat dipercaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hari ini, tidak sedikit orang yang mengutamakan cara berpikir pragmatis dalam bekerja juga termasuk dalam berdakwah. Inilah yang menjadikan kondisi umat Islam secara keseluruhan belum mampu tampil ke permukaan sebagai umat terbaik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Akhirnya muncul logika, “&lt;/span&gt;&lt;span&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;pa yang bisa saya dapatkan”. Padahal motto hakiki yang mesti dimiliki setiap Muslim adalah, “&lt;/span&gt;&lt;span&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;pa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan,” bukan sebaliknya. Apalagi ikut-ikutan pakai jurus ‘aji mumpung’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam dunia dakwah juga mulai banyak praktik pragmatisme ini. Ketika seorang aktivis ditunjuk sebagai ketua misalnya. Logika yang terbangun adalah, “Wah untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya saya bisa menikmati&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Logika itulah yang menjadi sebab utama, mengapa umat Islam miskin produktivitas, miskin prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah, tidak lagi murni karena memperjuangkan umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tengoklah bagaimana sikap kaum Anshor tatkala menerima kedatangan kaum Muhajirin yang datang ke Madinah. Kaum Muhajirin datang ke Madinah tanpa perbendaharaan harta (istilah sekarang MADESU alias masa depan suram).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Akan tetapi kaum Anshor tak ragu untuk berbagi dengan kaum Anshor. Seluruh milik mereka dipersilakan separuhnya untuk kaum Muhajirin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Apa pasal kaum Muhajirin berani bersikap seperti itu? Karena kaum Anshor mengenal dengan pasti bahwa kaum Muhajirin adalah para pengikut utama rasulullah saw yang tentu jika diberi kepercayaan akan memiliki komitmen, punya etos kerja yang bagus, juga memiliki dedikasi yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kunci Sukses Nabi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Amanah adalah senjata utama rasulullah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Shallallahu Alaihi Wassalam&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. Sejak kecil beliau telah dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Perangainya yang jujur tersebut membuat saudagar kaya-raya, Khadijah tertarik merekrut beliau sebagai direktur pemasaran dalam perniagaan yang diusahakannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bahkan karena kekagumannya yang tak terbendung akan kejujuran&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;asulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, Khadijah pun yakin dengan sepenuh hati, bahwa dirinya tidak akan merugi bila melamar rasulullah saw sebagai suaminya. Artinya sikap amanah nabi kala itu telah mengantarkan beliau sukses menjadi figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, sebagai pemimpin dan sebagai utusan Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jadi pantaslah jika&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;asulullah menegaskan bahwa amanah adalah cermin keimanan seorang Muslim. “Rasulullah tidak pernah berkhutbah untuk kami kecuali ia mengatakan : “Tidak ada&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;yang tidak pandai memeliharanya.” (HR Imam Ahmad bin Hambal).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Etos Kerja&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;dan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Keuntungan Besar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sikap amanah akan mendorong seorang Muslim memiliki etos kerja yang baik. Baginya, segala aktivitas adalah dalam rangka mendapat ridho Allah, termasuk dalam hal bekerja. Oleh karena itu, dia akan menjaga dirinya dari berbuat curang, korup, dan beragam tindak tercela lainnya yang dapat merusak kualitas keimanannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Seperti yang populer diriwayatkan dalam sejarah kekhalifahan Umar bin Khattab mengenai seorang gadis yang dipaksa oleh ibunya agar mencampur susu yang hendak dijual esok hari agar dicampur dengan air.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Campurlah susu itu dengan air wahai putriku&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ujar si ibu&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. “Tidak ibu, aku tidak akan pernah melakukan hal itu&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;” tegas sang anak. “Bukankah tidak ada orang yang melihat kita, tidak ada khalifah di sini,” timpal sang ibu. Sang anak langsung menjawab dengan tegas, “Apakah ibu lupa bahwa Allah melihat segala sesuatu&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mendengar jawaban sang gadis, Umar yang ketika itu sedang dalam perjalanan patroli, langsung membuat satu keputusan besar. Khalifah kedua itu langsung menikahkan putranya dengan putri penjual susu itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Apa pasal, tidak akan merugi selamanya orang yang menjadikan amanah sebagai perangai dalam hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Keuntungan dunia tak membuatnya tergoda untuk bertindak dosa. Justru sebaliknya, kesusahan hidup yang dirasa, justru membuatnya kian semangat bekerja dengan mematuhi sepenuh hati syariah Allah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Subhanahu Wata’ala&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Luar biasa, atas kehendak Allah, akhirnya dari keturunan putra Umar dan gadis penjual susu itu lahirlah khalifah terbaik pasca khulafaur rasydin, yaitu Umar bin Abdul Azis. Sungguh satu keuntungan yang sangat besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Setiap Kita Mengemban Amanah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dalam memelihara harta tuannya dan ia akan ditanya pula tentang&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;em&gt;kepemimpinannya”, &lt;/em&gt;(HR Imam Bukhori).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Oleh karena itu, marilah kita berupaya menumbuhkan sikap amanah dalam diri kita. Yaitu dengan sungguh-sungguh memelihara iman. Kaya jangan membuat kita kikir, apalagi sombong, semena-mena, karena harta benda itu hakikatnya hanyalah titipan bahkan boleh jadi justru sebuah ujian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;em&gt;”&lt;/em&gt; (QS. 8 : 29).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sebaliknya Allah melarang setiap Muslim menjadi pengkhianat atau pengabai amanah. Sebagaimana Allah SWT tegaskan;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;em&gt;”&lt;/em&gt; (QS. Al-Anfal : 27).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ringkasnya sebagai apapun, kita wajib menjadi Muslim yang amanah. Jika anda guru, maka mengajarlah dengan penuh semangat dan keteladanan. Jika anda pejabat, maka bekerjalah dengan penuh semangat untuk kepentingan ummat. Jika anda pelajar, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh demi mendapat ilmu yang bermanfaat untuk menegakkan agama Allah&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Subhanahu Wat’ala&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jika bukan amanah Allah yang kita perjuangkan lantas kebahagiaan dari siapa yang bisa kita harapkan? Tanpa mentalitas amanah yang baik, mustahil kebangkitan umat Islam akan tegak di muka bumi.&amp;nbsp;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-6308796081599888597?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/6308796081599888597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2012/01/seorang-muslim-mestinya-dapat-dipercaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6308796081599888597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6308796081599888597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2012/01/seorang-muslim-mestinya-dapat-dipercaya.html' title='Seorang Muslim Mestinya Dapat Dipercaya'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CSXWXfsXyEs/Tw1NHk18TTI/AAAAAAAABSs/EO_zt8UNkWw/s72-c/ak89.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5591250412227152428</id><published>2011-11-05T04:06:00.002+07:00</published><updated>2011-11-17T15:51:15.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>BERHAJI UNTUK ALLAH</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-jCB5vazK8jU/TrRTsOw0qFI/AAAAAAAABFA/DiP7iya2paI/s1600/Ak-23.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-jCB5vazK8jU/TrRTsOw0qFI/AAAAAAAABFA/DiP7iya2paI/s200/Ak-23.jpg" width="153" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;“&lt;i&gt;Dan Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian untuk Allah&lt;/i&gt;“. (Al-Baqarah: 196)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji merupakan ibadah yang menampakkan sisi ‘&lt;i&gt;ittiba’&lt;/i&gt; aspek kepengikutan dan peneladanan kepada Nabi saw yang paling ketara.  Sedikit saja dari amaliah haji seseorang yang bertentangan dengan yang  pernah dicontohkan oleh Rasulullah bisa berakibat kepada sisi  ‘mabrurnya’ haji seseorang terkurangi, bahkan tidak tercapai. Rasulullah  saw bersabda tentang ini: “Ambillah dariku manasik haji”. Haji juga  merupakan salah satu dari media pembelajaran ketakwaan dan ‘madrasah’  ibadah yang paling urgen. Disini akan nampak  kuatnya hubungan dan  pertalian hati seseorang dengan Allah yang merupakan harta kekayaan  orang yang bertakwa dan modal orang yang ahli beribadah. Dalam hal ini,  tauhid yang lurus merupakan buah sekaligus motifasi seseorang memenuhi  undangan ke Baitullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menurut As-Sa’di mengandung  perintah untuk melaksanakan haji dengan ikhlas dan sebaik-baiknya  sehingga mencapai kesempurnaan. Perintah ikhlas merupakan penjabaran  dari nilai tauhid seseorang yang benar kepada Allah swt; bahwa hanya  karena dan untuk Allah seseorang sukarela menjalankan seluruh manasik  haji. Dalam konteks ini, terdapat beberapa aspek tauhid yang terekam  dalam perjalanan ibadah haji, diantaranya: &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;,  Talbiyah yang merupakan syiar ibadah haji mengandung makna meng-Esa-kan  Allah dan meniadakan sekutu bagi-Nya dalam setiap amalan. Sahabat Jabir  ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bertalbiyah meng-Esa-an Allah dengan  benyak mengucapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَبَيْكَ اللّهُمَّ لَبَيْكَ، لَبَيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، &lt;b&gt;لاَ شَرِيْكَ لَكَ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya  Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu.Tiada sekutu  bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan  dan juga kekuasaan hanyalah kepunyaan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”.  (HR&amp;nbsp;Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain Abu Hurairah ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. melantunkan talbiyah dengan membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَبَيْكَ إِلَهِ الْحَقَّ، لَبَيْكَ&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku  penuhi panggilan-Mu, wahai Tuhan Kebenaran. Aku penuhi  panggilan-Mu”.(HR Ibnu Majah). Talbiyah inilah yang paling banyak  menyertai perjalanan haji seseorang yang mencerminkan kesiapan seseorang  untuk senantiasa mentauhidkan Allah dalam seluruh kehidupannya. Tentu  ini mengingatkan mereka agar senantiasa berada dalam koridor ‘tauhid’  kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, Nabi menekankan untuk  beramal dengan ikhlas serta berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari  sifat riya’ (memperlihatkan amal perbuatan kepada orang lain) dan sum’ah  (memperdengarkan amal kepada orang lain). Hadits riwayat Anas ra  menyebutkan bahwa Nabi saw. berdoa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ حُجَّةٌ لاَ رِيَاءَ فِيْهَا وَلاَ سُمْعَة&lt;b&gt;َ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya  Allah, Ku tunaikan haji ini, maka jadikanlah hajiku ini tanpa riya’ dan  sum’ah”. (HR Ibnu Majah). Nabi saw juga mencontohkan agar membaca surat  yang identik dengan tauhid dalam shalat  dua rakaat selepas thawaf  seperti dalam riwayat jabir bahwa Rasulullah senantiasa membaca قُلْ يَا  أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ…  dan قُلْ هُوَ الله أَحَدُ… . (HR Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi  saw berdoa di atas Bukit Shafa dan Marwa dengan membaca kalimah tauhid.  Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir ra., bahwa Nabi memulai  (sa’i) dari bukit Shafa kemudian mendakinya hingga melihat Ka’bah. Lalu  Nabi menghadap&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kiblat dengan mengucapkan kalimah tauhid dan takbir yaitu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَإِلَهَ  إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ  وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لاَإِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada  tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Kerajaan dan pujian  hanyalah milik-Nya. dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada tuhan  selain Allah semata… ” Nabi melafalkan bacaan ini tiga kali hingga  sampai bukit Marwa. Kemudian di atas bukit itu dia melakukan hal yang  sama sebagaimana yang dilakukan di atas bukit Shafa. )HR Muslim  (kemudian Nabi saw juga berdoa di Padang Arafah dengan membaca kalimah  tauhid. “Sebaik-baik doa adalah doa di Padang Arafah, dan sebaik-baik  bacaan yang aku dan para Nabi lantunkan adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَإِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada  tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Kerajaan dan pujian  hanyalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (HR  Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, selain dari aktifitas fisik,  maka aktifitas terbanyak dalam ibadah haji adalah doa. Dalam ibadah  haji, doa mendapatkan tempat yang istimewa dalam amalan Nabi saw.  Rasulullah berdoa memohon kepada Allah ketika tawaf (HR Abu Daud).  Ketika berada di bukit Shafa dan Marwah. Bahkan beliau memanjangkan doa  pada hari Arafah. Beliau juga ketika berada di atas untanya mengangkat  kedua tangan hingga pada bagian dada seperti seorang fakir menengadahkan  tangan meminta-minta.. Demikian pula di Muzdalifah sebagai al-Masy’ar  al-Haram, Rasulullah memperpanjang munajat sesudah shalat fajar di awal  waktu hingga menjelang matahari terbit. (HR Muslim). Di hari-hari  tasyriq sesudah melempar dua jumrah yang pertama, Nabi menghadap kiblat  dan berdiri lama seraya berdoa sambil mengangkat kedua tangan. (HR  Bukhari, hadits no.1751). Ibnu Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad menyatakan  bahwa lama Nabi berdoa kira-kira selama membaca Surat Al-Baqarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah  beberapa riwayat mengenai petunjuk nabi dalam berdoa semasa menjalankan  ibadah haji. Sedangkan mengenai wirid dan dzikir, hal ini tidak pernah  lepas semenjak berangkat haji dari Madinah hingga pulang kembali. Nabi  senantiasa mambasahi lisan dengan dzikir kepada Allah, banyak memuji  dengan segala yang pantas bagi-Nya, baik berupa talbiyah, takbir,  tahlil, tasbih ataupun tahmid, baik berjalan kaki ataupun berada di atas  kendaraan dan dalam keadaan apapun.  Lebih dari semua itu, dzikir  kepada Allah adalah tujuan yang paling besar dari ibadah haji,  sebagaimana dipahami dari firman Allah:&amp;nbsp; “Kemudian bertolaklah kamu dari  tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun  kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan  menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut(membangga-banggakan)  nenek moyangmu atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.  (Al-Baqarah&amp;nbsp;[2]:199 – 201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam firman-Nya yang lain disebutkan,  “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya  mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki  yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. (Al-Hajj  [22]: 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kesadaran yang tertinggi bagi seseorang yang  menjalankan ibadah haji bahwa ia sedang mengimplementasikan tauhid dalam  kehidupannya. Berawal dari motifasi untuk Allah, bersama Allah, karena  Allah dan hanya untuk Allah semata. Pertanyaan besar yang terus  membayangi para jemaah haji yang baru pulang dari BaituLlah adalah  apakah nuansa tauhid dan kerja keras untuk Allah akan tetap terpelihara  pasca haji? Ataukah justru sebaliknya, greget ibadah tersebut hanya  bersifat sementara dan berskala lokal (musiman) seperti juga semangat  ibadah di bulan Ramadhan yang terhenti dengan berakhirnya bulan  tersebut??.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5591250412227152428?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5591250412227152428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/11/berhaji-untuk-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5591250412227152428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5591250412227152428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/11/berhaji-untuk-allah.html' title='BERHAJI UNTUK ALLAH'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jCB5vazK8jU/TrRTsOw0qFI/AAAAAAAABFA/DiP7iya2paI/s72-c/Ak-23.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-4943474626862998218</id><published>2011-10-22T07:13:00.001+07:00</published><updated>2011-11-17T15:49:45.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MERENUNG DI ARAFAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-G6Av8TQdjKs/TqIKssKVH5I/AAAAAAAAA-Y/hB_jtxEW48c/s1600/8068.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="130" src="http://2.bp.blogspot.com/-G6Av8TQdjKs/TqIKssKVH5I/AAAAAAAAA-Y/hB_jtxEW48c/s200/8068.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Diriwayatkan,  Arafah merupakan tempat untuk wukuf  bagi para jemaah haji. Nabi Muhammad &lt;span class="caps"&gt;SAW &lt;/span&gt;bersabda; "Haji adalah wukuf di Arafah." Ini artinya pelaksaan ritual wukuf memiliki makna penting dan tidak  boleh ditinggalkan karena merupakan rukun yang dapat menentukan sah tidaknya haji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Arafah disebutkan juga sebagai tempat nabi Adam meminta ampun karena telah melakukan pelanggaran atas larangan yang diperintahkan Allah yakni mendekati pohon terlarang. Di padang ini pula, Allah memberikan ampunan yang dimohonkan Nabiyullah Adam Alaihi Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil pijakan pada riwayat tersebut, mari kita songsong waktu yang akan mengantar kita berkumpul di Arafah. Kemudian, tekadkan pada hati, betapa langkah kaki ini dalam menanapaki hidup tidaklah selalu membuahkan  pahala.&lt;br /&gt;Sebaliknya, kaki ini lebih banyak mengantar pada arah dosa. Mata yang tajam,  lebih banyak menangkap kemaksiatan. Begitu pula telinga, lebih banyak mendengar  bisikan-bisikan yang menyesatkan dan mulut lebih banyak menaburkan kata-kata dusta bukan dzikir yang menjernihkan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua  itu harus  dibuka secara nyata. Lewat wukuf sebagai sarana dalam menciptakan keheningan raga.  Lintaskanlah dalam pikiran atas segala lukisan dosa yang menjadi warna tidak indah sehingga menghambat dalam upaya melakukan  pertemuan antara manusia dengan Sang Khlaik   yang selalau didamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat Wukuf  juga, tanggalkan rasa takut. Jika cinta maka katakan  sejujurnya dan mintalah ampun karena telah ingkar atas perikatan yang telah dilakukan supaya cinta Sang Khalik tidak luntur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat merenungi ritual Wukuf di Arafah, mendadak terdengar ajakan untuk melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah, Mina sampai Jamarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Engkau Sang Pemilik&lt;br /&gt;Matahari Mu tak seberapa terik&lt;br /&gt;Ketika kaki menapaki Arafah&lt;br /&gt;Dalam kering dan lelah&lt;br /&gt;Aku datang bukan sekadar bertandang&lt;br /&gt;Tapi, membawa jiwa yang kelam&lt;br /&gt;Biar ku sucikan dengan ampunan Mu&lt;br /&gt;Agar tak terhindar dari cinta Mu&lt;br /&gt;Wahai Engkau Sang Pemilik&lt;br /&gt;Izinkan aku datang kembali&lt;br /&gt;Saat wukuf di Arafah Mu&lt;br /&gt;Untuk merajut rindu dalam heningku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-4943474626862998218?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/4943474626862998218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/merenung-di-arafah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/4943474626862998218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/4943474626862998218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/merenung-di-arafah.html' title='MERENUNG DI ARAFAH'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-G6Av8TQdjKs/TqIKssKVH5I/AAAAAAAAA-Y/hB_jtxEW48c/s72-c/8068.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-3001228946478516651</id><published>2011-10-20T03:57:00.000+07:00</published><updated>2011-10-20T03:57:25.667+07:00</updated><title type='text'>HARGA TIKET 'MASHAIR' 250 RIYAL</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uP7iBh47wb8/Tp85l9ZwwwI/AAAAAAAAA9U/_7VBwaXPTr0/s1600/8038.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="125" src="http://2.bp.blogspot.com/-uP7iBh47wb8/Tp85l9ZwwwI/AAAAAAAAA9U/_7VBwaXPTr0/s200/8038.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tiket untuk menaiki kereta monorel "Mashair" akan dibuka mulai 25 Oktober hingga 3 Nopember 2011. Harga Tiker 250 riyal dan hanya diperuntukan peruntukan bagi perusahaan-perusahaan haji domestik, misi haji luar negeri dan departemen-departemen pemerintahan saja. Hal itu diumumkan petugas penjual tiket Farred Al Ghamdi seperti dilansir situs web Arabnews, belum lama ini.&lt;br /&gt;Untuk tahun ini, kata Al Ghamdi, kereta Mashair akan dioperasikan maksimal yakni mengangkut 500.000 jemaah haji dari Mekah ke Mina, Arafah, dan Musdalifah. Dalam satu jam, proyek yang menghabiskan biaya 6,7 miliar riyal itu mampu memberangkatkan jemaah sebanyak 72.000 jemaah.&lt;br /&gt;Deputi Menteri Urusan Hubungan Desa dan Kotapraja, Habib Zaine Al-Abidine, setiap jemaah yang naik Mashair ini akan dikenakan biaya 250 riyal selama musim haji. Harga itu untuk menutup perjalanan dari Mina ke Arafah dan dari Arafah ke Muzdalifah dan kembali lagi ke Mina.&lt;br /&gt;Sebanyak 4.000 pemuda Arab Saudi yang bekerja untuk kereta Mashair ini telah dilatih bagaimana mengeoperasikan kereta tersebut. Mereka pun dilatih pengelompokan dan manajemen jemaah yang berjubelan.Bentuk monorel Mashair memanjang seperti kereta api listrik di Jakarta. Sekilas angkutan ini memang tampak sangat bagus. Apalagi bila tengah melaju di antara deretan-deretan tenda di Mina yang berwarna putih. Hilir mudik monorel nantinya di kawasan Arafah dan Mina akan menjadi pemandangan baru yang menarik.&lt;br /&gt;Jemaah haji Indonesia tetap belum bisa menggunakan moda angkutan moderen tersebut. Nantinya, para jamaah haji  Indonesia ketika akan melakukan ibadah di area Armina (Arafah dan Mina) tetap menggunakan angkutan biasa, yakni bus.&lt;br /&gt;"Tak hanya Indonesia, jemaah haji dari Asia Tenggara pun tak ada yang naik monorel. Memang sempat ada penawaran dari pihak Saudi Arabia akan penggunaan fasilitas itu. Tapi kami berpikir lebih baik naik angkutan biasa. Jadi kecenderungannya sekarang fasilitas monorel itu hanya digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari kawasan Arab saja," kata Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Mekah, Arsyad Hidayat, beberapa waktu lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-3001228946478516651?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/3001228946478516651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/harga-tiket-mashair-250-riyal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/3001228946478516651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/3001228946478516651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/harga-tiket-mashair-250-riyal.html' title='HARGA TIKET &apos;MASHAIR&apos; 250 RIYAL'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uP7iBh47wb8/Tp85l9ZwwwI/AAAAAAAAA9U/_7VBwaXPTr0/s72-c/8038.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-8681932551815056639</id><published>2011-10-16T06:35:00.001+07:00</published><updated>2011-11-17T15:50:03.237+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MEMETIK PELAJARAN HIDUP DARI SITI HAJAR</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-H9qrMUTViE4/TpoYofyBTcI/AAAAAAAAA88/fo-K17pkerI/s1600/7960.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="126" src="http://4.bp.blogspot.com/-H9qrMUTViE4/TpoYofyBTcI/AAAAAAAAA88/fo-K17pkerI/s200/7960.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Prosesi tawaf yang mempersatukan umat Islam seluruh dunia, boleh berhenti bagi setiap orang yang melaksanakannya. Namun, kebersamaan terus berlanjut manakala memasuki fase berikutnya yakni Sai dari bukit Safa dan Marwah yang letaknya lebih tinggi dari altar Ka`bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat kaki ini bersama jemaah yang lain menginjakkan bukit Safa, maka terbayanglah perjuangan Siti Hajar dalam  mempertahankan hidup bagi dirinya dan Ismail, putranya. Setelah itu, secara bersamaan wajah dipalingkan  mengahadap Ka`bah. Saat itu pula, terbayang bagaimana Ismail yang disandaran di Ka`bah dalam keadaan yang perlu air di tengah terik matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan ini terus melayang  ke belakang, melukiskan keadaan di sekitar Ka`bah, bukit Safa dan Marwah yang tentu lebih gersang daripada sekarang. Karena itu, bagi jemaah haji yang melakukan napak tilas, hendaknya melakukan penjiwaan secara total ketika berada di bukit Shafa dan lorong-lorong yang mengantarnya sampai ke Marwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui totalitas jiwa ini, siklus kita akan membawa  pada perenungan  masa lampau. Sosok Siti Hajar akan hidup kembali dalam bentuk kekuatan yang luar biasa di saat menghadapi penderitaan yang besar beserta putranya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang  jalan dari Safa dan Marwan ketika itu adalah padang gersang, penuh bebatuan yang runcing dan tajam terhampar. Begitu pun terik matahari yang menyengat kepala, membakar tubuh dan hempasan angin yang  menusuk pori-pori terasa  kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan itu sangatlah kontradiktif dengan kondisi saat ini.  Ini karena jejak-jejak Siti Hajar antara Safa dan Marwah telah berubah lantaran tanah yang dulu kasar kini terhampar pualam licin. Udara yang panas menyengat telah berubah menjadi sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan yang didapat secara fisik, Sai itu tidak ada tantangan apa pun. Hal itu akan berbeda jika seluruh jiwa tenggelam dalam kesungguhan sehingga memenuhi ruang-ruang masa lampau. Atas dasar itu, maka hikmah yang diraihnya adalah berupa nilai perjuangan yang amat dahsyat bagi istri yang taat kepada suami,  bertanggungjawab terhadap amanah yang diembannya dan selalu berserah diri pada Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Subhana Allah. Betapa berat bila dirasakan keadaan yang dihadapi Siti Hajar beserta putranya. Tapi, itulah cara Allah Yang Maha Besar menguji orang-orang pilihan dan yang disayangiNya," begitu bisik hati ini seraya menyeka air mata yang menetes tanpa dirasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Sai, jemaah mestinya menangkap simbol kemandirian Siti Hajar dalam memperjuangkan kehidupan untuk dirinya dan Ismail, putranya. Dari perjuangannya yang tak mengenal lelah dan menyerah itu, Allah memberinya mata air yang hingga kini masih terus mengalir yakni Zam Zam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah dari Allah itu bentuk kasih sayang atas kesungguhan dan ketabahan dalam memperjuangkan kehidupan Siti Hajar. Ini hendaknya menjadi pelajaran penting dalam kehdupan umat Islam yang  berjalan dan kadang berlari kecil antara Safa dan Marwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan jalan yang menuju dua bukit itu ada kalanya mendatar dan ada kalanya naik. Mendatar  seolah mencerminkan jalan kehidupan ini kadang menimbulkan perasaan  tenang baik dalam himpitan maupun kebahagian. Sebaliknya, dua bukit itu dapat diambil gambaran bahwa dalam meraih kesuksesan hidup ini tidak mudah karena harus berani mewati berbagai rintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci untuk keberhasilan ini juga  harus sertai dengan tawakal dan tindakan nyata, bukan bertopang dagu dan bermalas-malasan. Hal itu harus dilakukan supaya mampu meraih apa yang menjadi tujuan hidup, baik untuk dunia maupun kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sufi Jalaluddin Rumi mengatakan, "Tawakal  dicintai Allah. Tuhan telah meletakkan tangga di depan kita agar kita mendaki hingga puncaknya. Anda punya tangan mengapa tak dilentangkan Anda punya kaki, mengapa dibiarkan lumpuh? Jika Anda ingin bertawakal, maka bertawakllah melalui pekerjaanmu yakni tebarlah bibit, barulah bertawakal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal yang dicontohkan Siti Hajar itu telah melibatkan seluruh kekuatan tubuh dan kekuatan batin. Pasalnya, ia gerakkan kaki dan tangannya untuk terus berusaha menembus padang gersang mencari kehudupan. Kekuatan batinnya adalah menyandarkan sepunuhnya kepda kasih sayang Allah sehingga menemukan mata air Zam Zam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah lainnya, melalui Sai telah mengajarkan kesungguhan dalam segala hal, baik dalam menjalani kehidupan secara fisik maupaun rohani. Nabi Muhammad Bersabda, "Sungguh, Allah sangat senang jika salah satu di antara kalian melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhan itu  telah dicontohkan Siti Hajar melalui perjuangan antara Safa dan Marwah. Kini jemaah haji kita telah melakukan prosesi spiritual di antara dua bukit itu melalui Sai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya, setelah kembali ke kampung halaman bersama keluarga, semoga jemaah haji kita lebih istiqomah dalam menjalani kehidupan dan dapat mengalirkan kasih sayang bagi sesama, seperti  mata air Zam Zam yang bisa dirasakan setiap orang.  Semoga menjadi haji yang mabrur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-8681932551815056639?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/8681932551815056639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/memetik-pelajaran-hidup-dari-siti-hajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8681932551815056639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8681932551815056639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/memetik-pelajaran-hidup-dari-siti-hajar.html' title='MEMETIK PELAJARAN HIDUP DARI SITI HAJAR'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-H9qrMUTViE4/TpoYofyBTcI/AAAAAAAAA88/fo-K17pkerI/s72-c/7960.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-2530255777852070428</id><published>2011-10-07T06:52:00.001+07:00</published><updated>2011-11-17T15:50:17.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>JAGA FISIK KUNCI SUKSES IBADAH HAJI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-i9S9AC32zbw/To4_JnacV-I/AAAAAAAAA6I/n9ezdLPR3tk/s1600/51high.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-i9S9AC32zbw/To4_JnacV-I/AAAAAAAAA6I/n9ezdLPR3tk/s200/51high.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Menjalankan ibadah haji ke Arab Saudi sesungguhnya semata-mata bukan hanya melakukan kegiatan ritual sebagai tamu Allah, tapi lebih dari itu juga  menjalankan kegiatan fisik yang cukup berat.&lt;br /&gt;Banyak jamaah calon haji lupa atau mungkin mengabaikan bahwa selama berada di Tanah Suci, mereka akan dihadapkan dengan berbagai kegiatan ibadah sekaligus melakukan kegiatan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali jamaah saat tiba di Tanah Suci lupa terhadap kondisi fisiknya. Mereka begitu tiba di Madinah banyak yang langsung menjalankan sholat lima waktu di Masjid Nabawi untuk mengejar Arbain.&lt;br /&gt;Bahkan tidak sedikit dari mereka saat mengejar untuk memperoleh pahala, lupa terhadap kebutuhan badannya sendiri seperti makan cukup dan teratur serta istirahat (tidur) cukup.&lt;br /&gt;Akibatnya mereka sesungguhnya kondisi fisik lemah dan sakit tapi karena mengejar keinginan untuk beribadah keadaan tersebut diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah sebetulnya bisa mengukur diri sendiri apakah kondisi fisiknya lemah atau tidak, orang lain bahkan saudara terdekat atau teman sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud menyalahkan takdir, wafatnya seorang jamaah calon haji asal Kebumen, Jawa Tengah, Kasiyah binti Ahmad Disan (79) di Balai Pengobatan Haji Indonesia Madinah, Arab Saudi, (4/10) disebabkan almarhumah mengabaikan makan yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut keluarganya, sejak masuk ke Arab Saudi, almarhumah tetap ikuti acara ziarah dengan keluarganya, dan pingsan saat ziarah. Ternyata pingsannya ini kekurangan kalori," kata Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Madinah Dr Subagyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasiyah yang meninggal pada Selasa (4/10) pukul 15.30 waktu setempat atau pukul 19.30 &lt;span class="caps"&gt;WIB  &lt;/span&gt;merupakan jemaah haji asal embarkasi &lt;span class="caps"&gt;S0C &lt;/span&gt;(Solo) 2 yang dirujuk oleh kerabatnya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPIH) setelah mengalami pingsan saat melakukan ziarah di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendapat perawatan di &lt;span class="caps"&gt;BPHI, &lt;/span&gt;kata Subaygio, almarhumah sempat siuman dan kondisinya stabil. Namun saat keluarga yang mengantarkannya kembali ke sektor &lt;span class="caps"&gt;IV, &lt;/span&gt;kondisi almarhumah kembali lemas dan organnya tidak berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masalah ketuaan membuah kondisinya labil. Kekurangan kalori, kelompok 65 tahun ke atas harus dapat pendampingan dan almarhumah memang ada hipertensi," katanya.&lt;br /&gt;Subagyo mengingatkan agar para jemaah harus betul-betul mempersiapkan dengan baik saat melakukan perjalanan haji, termasuk menjaga kesehatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harus mau makan dan minum. Apalagi masalah ketuaan, kondisinya sangat labil," kata Subagyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk menjaga kesehatan, Kepala Bidang Kesehatan &lt;span class="caps"&gt;PPIH&lt;/span&gt; Arab Saudi Dr Mawari Edi mengingatkan jamaah calon haji disarankan terus menggunakan masker selama berada di Arab Saudi untuk menghindari penyakit saluran pernafasan.&lt;br /&gt;"Suhu panas dan kelembaban rendah bisa sebabkan serangan saluran pernafasan yang berakibat tenggorokan kering, gatal dan terasa ingin batuk," kata Mawari.&lt;br /&gt;Dikatakannya, rata-rata suhu di Arab Saudi saat ini cukup terik sehingga bagi warga Indonesia menjadikan cepat letih ketimbang berada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengingatkan kelembaban udara rendah sehingga perlu diwaspadai jemaah calon haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, katanya menyarankan calhaj hendaknya terus menggunakan masker dimanapun berada terutama saat berada di tempat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penggunaan masker itu penting untuk cegah serangan saluran pernafasan dan jaga kelembaban udara. Jadi walaupun tidak sakit dianjurkan tetap pakai masker" kata Mawari.&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu dilakukan calhaj, tambahnya, perlu secara rutin minum air putih setidaknya tiga liter sehari.&lt;br /&gt;Air putih penting dikonsumsi untuk menjaga dehidrasi dan meningkatkan daya tahan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah dehidrasi maka bisa menyebabkan disorientasi sehingga bisa menyebabkan daya tahan tubuh lemah dan pada akhirnya mudah sakit," katanya menambahkan.&lt;br /&gt;Dari pengalaman tahun-tahun lalu, serangan saluran pernafasan merupakan penyakit yang paling banyak menyerang calhaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami dari &lt;span class="caps"&gt;BPHI &lt;/span&gt;sudah 100 persen menyiapkan diri dengan tenaga dokter umum, bedah, jantung dan perawat untuk membantu calhaj," katanya.&lt;br /&gt;Sesekali Boleh&lt;br /&gt;Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah Arsyad Hidayat mengingatkan jamaah hendaknya harus bener-benar mempersiapkan diri secara fisik saat menjalankan ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesekali boleh menjalankan ibadah sunah tapi hendaknya jangan terlalu memaksakan diri sehingga nanti malah sakit dan tidak bisa jalankan ibadah wajibnya," katanya.&lt;br /&gt;Dia mengingatkan rangkaian ibadah haji selama 40 hari di Tanah Suci Mekah bukanlah ibadah ringan dan memerlukan fisik yang prima, karena harus tawaf, sai, serta jalan kaki menuju Arafah saat puncak Haji.&lt;br /&gt;Arsyad menilai jamaah Indonesia selama ini memang terlalu bersemangat saat tiba di Tanah Suci sehingga tidak lagi memperdulikan kondisi fisiknya yang letih setelah menempuh perjalanan udara dari Jakarta sekitar sembilan jam.&lt;br /&gt;Memang dapat dipahami alasan para jamaah untuk terus melakukan ibadah mengingat ada kesan "Kapan lagi dapat pahala besar mumpung berada di Tanah Suci".&lt;br /&gt;Belum lagi saat ini untuk bisa berangkat menjalankan ibadah haji harus antri sekitar empat hingga lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memang bisa paham alasan jamaah mengapa memaksakan diri untuk ibadah. Tapi hendaknya mereka juga bisa tahu kondisi fisiknya masing-masing," katanya.&lt;br /&gt;Apalagi, katanya, memang ada pendapat yang mengatakan bahwa apabila sholat lima waktu di Masjid Nabawi pahalanya 1.000 kali lipat dan di Masjid Haram 100 ribu kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu dia mengingatkan jangan sampai jamaah terlalu memaksakan diri beribadah, sesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing, sehingga nanti saat pucak haji di Arafah yang wajib hukumnya bisa menjalankan dengan baik.(Ahmad Wijaya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-2530255777852070428?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/2530255777852070428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/jaga-fisik-kunci-sukses-ibadah-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/2530255777852070428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/2530255777852070428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/jaga-fisik-kunci-sukses-ibadah-haji.html' title='JAGA FISIK KUNCI SUKSES IBADAH HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-i9S9AC32zbw/To4_JnacV-I/AAAAAAAAA6I/n9ezdLPR3tk/s72-c/51high.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5950738881676749427</id><published>2011-10-02T03:55:00.001+07:00</published><updated>2011-10-02T03:55:59.149+07:00</updated><title type='text'>MENGATUR HAID ITU MUDAH</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OrBJQdEy_rE/Tod-Shr7slI/AAAAAAAAA4E/Il9cBV11Jlc/s1600/ATT00007.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-OrBJQdEy_rE/Tod-Shr7slI/AAAAAAAAA4E/Il9cBV11Jlc/s200/ATT00007.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Menjelang musim haji, calon jamaah haji perempuan yang masih berada dalam usia reproduksi, biasanya direpotkan dengan urusan haid. Perlu atau tidak 'mengatur' siklus haid, agar saat wukuf di Arafah tidak terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatur datangnya haid, biasanya dilakukan pada perempuan yang siklusnya tidak teratur. Caranya, adalah dengan mengkonsumsi pil KB secara teratur. “Namun, tidak boleh telat, satu hari pun tak boleh telat,” ujar ginekolog kondang, Dwiana Ocvianti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut dokter Ocvi, begitu dia biasa disama, kita pun harus mengingat jam makan pil KB tersebut. Hal ini dilakukan agar disiplin,&amp;nbsp; tak terjadi kelupaan atau keterlambatan makan pilnya. &lt;br /&gt;Apabila satu hari saja lupa memakan pilnya, pengaturan yang dilakukan pun tidak akan berhasil.&lt;br /&gt;Paling baik, adalah melakukan konsultasi terlebih dahulu pada dokter, tiga hingga enam bulan sebelum tanggal yang dipilih untuk tidak haid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perempuan yang siklus haidnya teratur, agar apada tanggal yang diinginkan kita tidak mengalami haid, kita bisa menunda ataupun memajukan haid. Namun, paling lama menunda haid kita, disarankan oleh dokter berkerudung ini, maksimal 40 hari saja menundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling umum dikerjakan, adalah menunda haid. “Namun juga tidak bisa lama-lama, jangan sampai juga dua bulan penuh ga kepengen haid,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunda haid, bisa menggunakan pil progesteron saja, ataupun pil kombinasi, yang mengandung estrogen dan juga progesteron. “Dalam satu kaplet pil KB, pil plasebonya dibuang saja,” ujarnya. Menurutnya, daripada nanti terminum, karena pil plasebo sifatnya berlawanan dengan penundaan haid.&lt;br /&gt;Waktu yang paling ideal untuk memulai mengkonsumsi pil KB ini, menurutnya adalah pada hari kedua hingga kelima haid. “Atau paling lambat 14 hari sebelum hari pertama haid yang ingin ditunda,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penundaan haid sudah tak diperlukan lagi, yang berarti ingin haid lagi, caranya sangat mudah. “Hentikan makan pilnya saja,” ujarnya. Setelah kita berhenti mengkonsumsi pilnya, dua atau tiga hari kemudian, haid pun datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita ingin memajukan haid, gunakanlah pil yang mengandung progesteron yang dimulai pada hari ketiga atau kelima saat kita haid. Kemudian dihentikan penggunaan pilnya, pada 3 atau 5 hari sebelum masa haid yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memajukan haid ini, umumnya digunakan pada perempuan yang siklus haidnya lebih dari 35 hari. “Jadi bisa makan pilnya mulai hari ke-19 haid,” ujarnya. Pada bulan depannya, haidnya pun akan bisa diketahui kapan.&lt;br /&gt;Obat pengatur haid, semuanya aman, namun agar tahu yang lebih cocok untuk kita, lebih baik konsultasikan dulu pada ahlinya, sebelum berniat mengatur datangnya haid kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5950738881676749427?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5950738881676749427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/mengatur-haid-itu-mudah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5950738881676749427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5950738881676749427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/mengatur-haid-itu-mudah.html' title='MENGATUR HAID ITU MUDAH'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-OrBJQdEy_rE/Tod-Shr7slI/AAAAAAAAA4E/Il9cBV11Jlc/s72-c/ATT00007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-6600296715246804516</id><published>2011-10-01T10:36:00.001+07:00</published><updated>2011-10-01T10:37:00.382+07:00</updated><title type='text'>MENATA NIAT CALON HAJI</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:WordDocument&gt;  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;  &lt;w:TrackMoves/&gt;  &lt;w:TrackFormatting/&gt;  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;  &lt;w:Compatibility&gt;   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;   &lt;w:CachedColBalance/&gt;  &lt;/w:Compatibility&gt;  &lt;m:mathPr&gt;   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;   &lt;m:dispDef/&gt;   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;&lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable	{mso-style-name:"Table Normal";	mso-tstyle-rowband-size:0;	mso-tstyle-colband-size:0;	mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;	mso-para-margin-top:0cm;	mso-para-margin-right:0cm;	mso-para-margin-bottom:10.0pt;	mso-para-margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:Arial;	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-er7QkBhsd7A/ToaKtAKzFEI/AAAAAAAAA4A/mOiOJUuZ75Q/s1600/ATT00002.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-er7QkBhsd7A/ToaKtAKzFEI/AAAAAAAAA4A/mOiOJUuZ75Q/s200/ATT00002.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Sebentar lagi, jemaah calon haji(calhaj) Indonesia mulai diberangkatkan dari semua embarkasi haji. Harapan paracalhaj adalah ingin menjadi haji yang mabrur, haji yang diterima Allah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Ibadah haji merupakan salah saturukun Islam yang punya banyak iming-iming. Ada iming-iming &lt;i&gt;al-hajjual-mabrur laisa al-jaza illa al-jannah&lt;/i&gt;, haji mabrur tiada balasan kecualisurga. Ada iming-iming ongkos naik haji sama dengan ongkos untuk berjihad dijalan Allah. Satu dirham akan diganti dengan tujuh ratus kali lipat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Ada pula iming-iming orang yangberhaji karena Allah dan dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Islam akankembali seperti pada hari ketika mereka dilahirkan dari rahim ibunya, bersihdari segala dosa dan masih banyak lagi iming-iming yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Dengan iming-iming semacam itu,banyak muslim Indonesia yang berlomba-lomba (fastabiqul khairat) untuk segeradapat menunaikan ibadah haji dengan berbagai cara. Niat beribadah haji tidakseperti minatnya orang-orang Islam dalam ibadah yang lain seperti untuk zakat,sedekah, infak dan lainnya, yang terkesan masih ogah-ogahan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Begitu antusiasnya masyarakatIndonesia untuk menunaikan ibadah haji dengan berbagai cara sehingga munculbanyak titel haji dalam humor religi yang hidup di tengah masyarakat. Ada titelhaji wahyu (beribadah haji dari sawahnya yang payu atau laku), ada titel hajidolmah (beribadah haji dari adol omah/adol lemah atau menjual rumah), ada titelhaji abidin (beribadah haji dari atas biaya dinas) dan masih banyak lagi titel hajilain dalam humor religi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Sejak 1998 sampai sekarangIndonesia masih dilanda krisis, namun jumlah orang yang mendaftarkan diri untukmenunaikan ibadah haji menurut data statistik makin bertambah. Pemerintahberupaya menambah kuota haji. Kondisi ini cukup membanggakan karena palingtidak menunjukkan semangat beribadah haji kaum muslim di Indonesia sangattinggi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Namun pada sisi yang lain sangatmemprihatinkan, karena bertambahnya jumlah &lt;i&gt;hujjaj&lt;/i&gt; (mereka yang sudahberibadah haji) selama ini belum memberikan implikasi positif terhadapperubahan perilaku dan kondisi masyarakat ke arah yang lebih baik. Padahalmenurut Imam Hasan dalam kitab Minahussaniyah, ciri haji mabrur adalah setelahberhaji perilaku mereka dalam kezuhudan dunia (kepekaan sosial) dan amal keakhiratanmakin bertambah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-6600296715246804516?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/6600296715246804516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/menata-niat-calon-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6600296715246804516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6600296715246804516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/10/menata-niat-calon-haji.html' title='MENATA NIAT CALON HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-er7QkBhsd7A/ToaKtAKzFEI/AAAAAAAAA4A/mOiOJUuZ75Q/s72-c/ATT00002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-7541079049229067568</id><published>2011-09-17T06:01:00.003+07:00</published><updated>2011-09-17T06:01:40.834+07:00</updated><title type='text'>MASJIDIL HARAM SEPI USAI IDUL FITRI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-J4MiOO0YtC4/TnPVG2jnpwI/AAAAAAAAA38/uZ_0rhKtP9g/s1600/Masjidil-Haram-Sepi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="126" src="http://1.bp.blogspot.com/-J4MiOO0YtC4/TnPVG2jnpwI/AAAAAAAAA38/uZ_0rhKtP9g/s200/Masjidil-Haram-Sepi.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Usai I’dul Fitri suasana kota Makkah tampak sepi setelah ditinggalkan secara besar-besaran oleh para jamaah umroh selama bulan suci ramadan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Banyak umat Islam memilih melakukan umrah di bulan suci ramadhan karena ibadah umrahnya setara dengan melakukan haji, demikian yang disunahkan Nabi Muhammad (saw).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyaknya jamaah yang meninggalkan kota suci Makkah, lalu lintas di kota suci itupun mulai kembali normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga sekarang bisa mencapai Masjidil Haram dari beberapa titik penting di kota Makkah dalam waktu hanya 10 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Ramadhan untuk mencapai Masjidil Haram dibutuhkan waktu berjam-jam, karena terjadi kemacetan luar biasa yang disebabkan oleh pejalan kaki dan kendaraan. Warga kota suci Makkah sekarang memiliki kesempatan untuk melakukan ibadah di Masjidil Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Makkah kini memiliki kesempatan untuk melakukan Tawaf dan ibadah lainnya dengan mudah dan nyaman, yang tidak mungkin dilakukan selama bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif taksi juga kembali normal. Penumpang kini dapat membayar antara SR10 dan SR25 dari mana saja di Makkah untuk mencapai Masjidil Haram. Selama Ramadhan, tarifnya bisa mencapai ratusan riyals.&lt;br /&gt;Tarif angkutan umum (mini bus) juga&amp;nbsp; telah kembali normal, untuk menjuju Masjidil Haram cukup mengeluarkan biaya SR2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian jamaah Umroh juga menurunkan tingkat hunian hotal dan pengunjung pusat perbelanjaan, hunian hotel merosot hingga 20 persen dari 100 persen selama bulan Ramadhan. Para pemilik toko memperkirakan penurunan ini terjadi sampai musim haji nanti yang diperkirakan mulai awal Oktober.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-7541079049229067568?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/7541079049229067568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/09/masjidil-haram-sepi-usai-idul-fitri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/7541079049229067568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/7541079049229067568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/09/masjidil-haram-sepi-usai-idul-fitri.html' title='MASJIDIL HARAM SEPI USAI IDUL FITRI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-J4MiOO0YtC4/TnPVG2jnpwI/AAAAAAAAA38/uZ_0rhKtP9g/s72-c/Masjidil-Haram-Sepi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5664854107548076104</id><published>2011-09-13T05:46:00.000+07:00</published><updated>2011-09-17T06:40:56.745+07:00</updated><title type='text'>AGAR IBADAH HAJI DITERIMA</title><content type='html'>&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-h-thnC8JKpA/S0My5TYIc6I/AAAAAAAAABM/0MFu6BvVhcA/s1600/Ak-22.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-h-thnC8JKpA/S0My5TYIc6I/AAAAAAAAABM/0MFu6BvVhcA/s200/Ak-22.jpg" width="155" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;H. Akbar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketua Bimbingan Ibadah Haji Arrafiiyah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;CP : 08159244764&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ibadah haji merupakan puncak peribadatan seorang muslim sebagai penunaian rukun Islam yang ke lima. Ulama menganalogikan haji sebagai pagar bagi sebuah bangunan, dimana berfungsi untuk menjaga dan memperindah bangunan tersebut. Namanya juga pagar, boleh jadi harus dibuat, jika mampu, namun jiga tidak mampu, ya tidak apa-apa.&lt;br /&gt;Berbeda dengan rukun Islam yang lain. Syahadat diibaratkan dengan pondasi, dan karenanya harus kuat. Shalat lima waktu ibarat tiang, yang juga harus kokoh. Puasa ibarat dinding, yang juga harus berdiri kuat. Dan zakat merupakan atap, dimana berfungsi untuk mengayomi isi bangunan.&lt;br /&gt;Ibadah haji, hanya dilaksanakan bagi mereka yang sudah mampu. Allah swt berfirman, &lt;i&gt;“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” &lt;/i&gt;QS. Ali Imran : 97.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sanggung atau mampu di sini yaitu sanggup mendapatkan perbekalan, alat transportasi, sehat jasmani dan perjalananpun aman.&lt;br /&gt;Semua orang mendambakan bangunan rumahnya memiliki pagar yang menarik dan rapi. Begitu juga setiap muslim pasti merindukan berziarah ke Baitullah Al Haram. Kita berdo’a agar Allah swt memudahkan kita untuk berziarah ke rumah-Nya. Berziarah tidak hanya untuk menunaikan ibadah haji, namun bisa umrah, ziarah makam Nabiyullah Muhammad saw. para sahabatnya dan napak tilas sejarah dari masa ke masa. &lt;i&gt;“Ya Allah, Mudahkanlah bagi kami berziarah ke rumah-Mu yang mulya dan berziarah ke makam nabi-Mu yang Engkau Mulyakan.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Persiapan Haji &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Biaya yang Halal.&lt;br /&gt;Satu-satunya ibadah yang membutuhkan biaya tinggi, paling tidak untuk muslim Indonesia adalah ibadah haji. Kurang-lebih lima puluh juta harus disiapkan untuk biaya ibadah haji. Dana yang besar itu harus  dihasilkan dari sumber yang halal. Dalam sebuah hadits sahih diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, &lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah Maha Baik, Dia tidak menerima sesuatu (amalan) kecuali dari sumber yang baik.”&lt;/i&gt; HR. Muslim (Sahih Muslim, Jilid 5, Hal. 192).&lt;br /&gt;Seseorang yang menunaikan ibadah haji dari sumber biaya yang haram, maka ketika ia menyeru, “Labbaikallahumma labbaik, Aku penuhi panggilan-mu Ya Allah.” Maka Allah swt langsung menolaknya, “Tidak ada kata selamat datang bagimu, tidak ada sambutan kebaikan bagimu.” Wal iyadzubillah.&lt;br /&gt;Ada kisah menarik di zaman nabiyullah Musa alaihissalam, dimana ketika itu kaumnya sedang dilanda paceklik dan kemarau panjang. Maka nabiyullah Musa mengumpulkan kaumnya bersama-sama untuk beristighatsah, memohon kepada Allah swt agar segera diturunkan hujan. Serentak mereka menengadahkan tangan berseru, namun dijawab Malaikat dengan suara lantang, “Tidak aka dikabulkan do’a-do’a kalian, sampai salah seorang di antara kalian keluar dari barisan, karena ia telah memakan harta yang haram. Nabiyullah Musa tidak berani dan tidak mengetahui siapa yang dimaskud. Dan orang yang merasa sumber masalahpun tidak berani keluar dari barisan sehingga semua orang pasti akan mengetahui kejelekannya. Mereka berdo’a berulang-ulang, dan disambut jawaban yang sama dari Malaikat. Sampai akhirnya orang yang memakan barang haram menjerit hatinya, menyesal gara-gara ia semua jadi susah. Ia bertaubat dengan sungguh-sungguh. Seketika itu Allah swt menurunkan hujan.”&lt;br /&gt;Kedua, Ikhlas karena Allah swt Semata&lt;br /&gt;Menunaikan haji bukan karena malu dengan orang lain, seperti seorang atasan berangkat haji karena bawahannya sudah berhaji. Atau ingin dipanggil dengan gelar ”pak haji”.  Atau menjadi bukti status sosial di masyarakat. Tidak karena itu, munanaikan haji hanya dilandasi oleh ketulusan dan keridhoan Allah swt semata sebagai wujud penghambaan kepada-Nya.&lt;br /&gt;Seseorang yang berangkat haji dengan niat ikhlas, akan di kabulkan do’anya ketika berdo’a, diberi ampun ketika beristighfar. Rasulullah saw bersabda diriwayatkan dari Abu Hurairah, &lt;i&gt;”Orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah. Jika mereka berdoa, pasti akan dikabulkan. Jika mereka minta ampun, pasti diampuni.” &lt;/i&gt;HR. Ibnu Majah (Sunan Ibnu Majah, Jilid 8, Hal. 439).&lt;br /&gt;Ketiga, Berbekal Taqwa&lt;br /&gt;Allah swt berfirman dalam rangkaian ibadah haji agar membekali diri dengan taqwa, yaitu sikap siap taat terhadap apa yang Allah swt perintahkan dan Rasul-Nya kerjakan serta siap meninggalkan segala apa yang Allah swt larang dan Rasul-Nya jahui. Ketika malaksanakan ibadah haji. &lt;i&gt;”Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” &lt;/i&gt;QS. Al Baqarah : 197.&lt;br /&gt;Termasuk bekal di sini adalah bekal materi sehingga di tanah Suci tidak kehabisan bekal dan akhirnya meminta-minta.&lt;br /&gt;Keempat, Menguasai Ilmu tentang Ibadah Haji&lt;br /&gt;Para ulama ushul sepakat bahwa ilmu itu lebih penting dan didahulukan dari pada amal perbuatan. Karena amal perbuatan yang tidak didasari ilmu pengetahuan, selain tidak akan diterima justru mengarah pada membuat-buat hal yang baru yang dilarang agama.&lt;br /&gt;Ilmu yang harus diketahui seputar haji adalah yang berkaitan dengan rukun haji, dimana rukun haji bila tidak dilaksanakan hajinya menjadi tidak sah.&lt;br /&gt;Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Ihram, yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk haji atau umroh di miqat makani.&lt;br /&gt;2. Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, berdzikir, berdo’a, beristghfar di padang Arafah pada tanggal 9 Dzul Hijjah.&lt;br /&gt;3. Thawah Ifadhah, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 1o Dzul Hijjah.&lt;br /&gt;4. Sa’i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, dilakukan sesudah Thawaf Ifadhah.&lt;br /&gt;5. Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan sa’i.&lt;br /&gt;6. Tertib, yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.&lt;br /&gt;Yang juga diketahui adalah Wajib Haji, Adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah :&lt;br /&gt;1. Niat Ihram, untuk haji dan umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram.&lt;br /&gt;2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Dzulhijjah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina).&lt;br /&gt;3. Melontar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;4. Mabit di Mina pada hari Tasyrik (Tanggal 11,12,13 Dzulhijjah).&lt;br /&gt;5. Melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari Tasyrik.&lt;br /&gt;6. Thawah Wada’, yaitu melakukan perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah.&lt;br /&gt;7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang waktu ihram, seperti memakai wangi-wangian, menyisir, menggunting kuku atau rambut, berpakaian berjahit.&lt;br /&gt;Kelima, Mengetahu Ilmu tentang Safar&lt;br /&gt;Ibadah haji atau umrah adalah ibadah yang memakan waktu panjang dan tempat yang jauh. Berarti terkait dengan safar atau perjalanan. Dalam fiqh orang yang sedang mengadakan perjalanan mendapatkan dispensasi-dispensasi dari Allah swt, seperti bertayamum, shalat di jama’ atau digabung, shalat di qashar atau di perpendek menjadi dua rekaat.&lt;br /&gt;Disinilah apresiasi agama Islam yang begitu besar terhadap ibadah ini, selain dispensasi diatas, ternyata safar itu sendiri menjadi ibadah yang berdiri sendiri, sehingga kita disunnahkan untuk berdoa ketika akan berangkat, mendo’akan dan dido’akan.&lt;br /&gt;Bahkan do’a yang tidak akan tertolak adalah do’a yang dilaksanakan pada saat sedang dalam safar.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika Di Tanah Suci&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya ibadah haji itu membutuhkan waktu lima hari saja, terhitung sejak tanggal 9 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah, inilah yang terkait dengan rukun haji. Tidak ada bacaan-bacaan khusus atau do’a-do’a khusus dalam praktek ibadah haji. Do’a yang masyhur dilantunkan adalah do’a sapu jagat,&lt;i&gt; ”Rabbana aatina fiddunya hasanah wafilaakhirati hasanah waqina adzabannar.” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang harus dihindari ketika melaksanakan ibadah haji di antaranya: berkata tidak senonoh atau yang mengundang syahwat, bersetubuh, berbuat fasik atau dosa, bertengkar. Allah swt berfimran:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (Kata-kata yang menimbulkan birahi atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” QS. Al Baqarah : 197&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ibadah haji lebih banyak berkaitan dengan fisik. Mengelilingi Ka’bah, lari-lari kecil, melempar jumrah, wukuf di terik matahari di padang Arafah. Semuanya membutuhkan fisik yang sehat dan prima.&lt;br /&gt;Hal lain yang harus dikuatkan adalah kesabaran, memaafkan, mendahulukan saudara, menolong sesama. Bisa dibayangkan lebih dari dua ratus juta manusia berkumpul di satu tempat dalam satu waktu.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sekembali di Tanah Air&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang jauh lebih berat untuk mempertahankan kemabruran ibadah haji adalah pasca pelaksaannya atau ketika dalam kehidupan sehari-hari. Tanda kemabruran seseorang bisa dilihat dari perubahan pada dirinya. Adakah perubahan menjadi lebih baik dari sebelumnya dan istiqamah dalam ketaatan sampai akhir hidupnya, atau sama saja dengan sebelum menunaikan ibadah haji?.&lt;br /&gt;Haji yang diterima Allah swt adalah haji yang mabrur. Berbahagialah orang yang meraih haji mabrur, sebab haji mabrur tiada balasannya kecuali surga. Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, &lt;i&gt;”Haji mabrur tiada balasannya kecuali surga. Dan dari pelaksanaan umrah ke umrah yang lain akan menghapus kesalahan antara keduanya.” &lt;/i&gt;HR. Imam Ahmad (Musnad Imam Ahmad, Jilid 15, Hal. 91).&lt;br /&gt;Sudah saatnya umat Islam meluruskan niat, bersungguh-sungguh dalam menunaikan ibadah haji, dan menjaga semangat haji dalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan lahir perubahan-perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan pribadi yang otomatis akan berdampak pada kehidupan sosial dan berbangsa.&lt;br /&gt;Bangsa ini sangat berhajat terhadap masyarakat yang berakhlakul karimah, bermoral, memiliki idealisme yang luhur yang bersumber dari keyakinan yang benar, sehingga keberkahan-keberkahan Allah swt akan segera turun di bumi pertiwi yang kita cintai. Allahu a’lam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5664854107548076104?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5664854107548076104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/09/agar-ibadah-haji-diterima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5664854107548076104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5664854107548076104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/09/agar-ibadah-haji-diterima.html' title='AGAR IBADAH HAJI DITERIMA'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-h-thnC8JKpA/S0My5TYIc6I/AAAAAAAAABM/0MFu6BvVhcA/s72-c/Ak-22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-7724711344166864359</id><published>2011-07-15T17:13:00.003+07:00</published><updated>2011-07-15T17:17:46.969+07:00</updated><title type='text'>WUKUF DAN ARAFAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-q9rvtyl46R8/TiATT_ywL3I/AAAAAAAAA3s/1zSjBhmOcpY/s1600/Copy%2Bof%2BS5002306.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-q9rvtyl46R8/TiATT_ywL3I/AAAAAAAAA3s/1zSjBhmOcpY/s200/Copy%2Bof%2BS5002306.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629520768475869042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;H. Akbar&lt;br /&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau ingin melihat  acara muktamar terbesar, teragung, terindah dan terharmoni di dunia ini,  lihatlah pada tanggal 9 Dzulhijah. Karena pada tanggal tersebut semua  hujjaj dari segala penjuru dunia melaksanakan wukuf di padang Arafah,  mereka akan datang padamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta  yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, demikian arti  firmanNya dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;surat Al Hajj 27&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Al Hajju Arafah&lt;/em&gt;, demikian pula sabda rasulullah SAW, yang menggambarkan bahwa inti haji itu adalah &lt;em&gt;wukuf&lt;/em&gt;  di Arafah. Apapun yang sudah dikerjakan dalam prosesi berhaji jika  belum berwukuf maka tidak sah hajinya. Dan begitu agungnya wukuf  tersebut hingga Imam Al Ghozali menceritakan bahwa tidaklah terlihatlah  setan pada suatu hari yang lebih kecil, lebih tersisih, lebih hina dan  lebih mendongkol dari pada hari Arafah. Dan begitu harmoninya padang  arofah dari kejauhan nampak bagaikan buih-buih putih dilautan yang  begitu indah. Karena hujjaj pada waktu itu apakah mereka pejabat,  pedagang, penyanyi yang terkenal, politisi atau penjual sate dan  sebagainya semuanya menggunakan pakaian Ihrom dengan warna putih yang  sama dan serasi. Di acara akbar tersebut tidak ada warna kesukaan atau  mode fashion favorit untuk di pilih, karena pilihan yang ada hanyalah  keinginan untuk menghambakan diri pada Pencipta manusia dan segala  keinginnanya dan Pencipta alam ini, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Alloh ‘Azza wa Jalla.     &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wukuf bisa berarti  berhenti. Dan Arafah, arti sebenarnya adalah nama tempat yang letaknya  kurang lebih 20 km dari kota Mekkah. Dan haji seseorang menjadi sah jika  berhenti sejenak dari mulai tergelincirnya matahari hingga terbenamnya  di padang Arafah, ini makna formalistic dari wukuf. Adapun kalau  diartian dari sisi spiritualistik maka makna wukuf memiliki arti yang  mendalam dan mampu menggetarkan dawai-dawai cinta kepada Allah SWT.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana diketahui,  kecintaan manusia pada dunia, mengantarkannya pada kesibukan untuk  terus tenggelam dalam urusan-urusan materi. Ketika seseorang sudah asik  dengan anak-istrinya, sudah nikmat dengan urusan kantornya, sudah enjoy  dengan aktivitas politiknya dan terhanyut dalam kepopularitasannya,  serta disaat itu ia lupa pada sesuatu yang memiliki dan menguasai semua  urusan tersebut, yaitu Allah Yang Maha Kasih, maka ini kerugian terbesar  yang menimpa manusia.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, wukuf  di Arafah bisa menjadi simbol ilahi untuk menjadikan sebagai titik awal  perubahan manusia kearah yang lebih baik dan dengan itu juga menjadikan  manusia dapat lebih banyak “melihat” pada kasih sayang Allah SWT.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana arti  bahasanya, wukuf adalah berhenti. Dan kalau dilihat dari arti  spiritualistik memiliki makna sebagai terminal pemberhentian untuk  sejenak mengingat dan Arafah – mengenal Allah lebih mendalam lagi agar  menjadi bekal dalam “perjalanan” berikutnya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Arafah berasal dari kata ‘&lt;em&gt;A-ra-fa&lt;/em&gt;,  yang berarti mengerti dan paham pada sesuatu. Dan jika di gabung dengan  makna wukuf diatas maka akan memiliki arti bahwa manusia harus wukuf  atau berhenti sejenak dari segala urusan duniawy yang melalaikannya  untuk bisa Arafah,yaitu mengenal dirinya secara hakiki sebagai media  untuk dapat mengenal Alloh SWT serta kasih sayangNya. Karena &lt;em&gt;man ‘arofa nafsahu ‘arofa rabbahu,&lt;/em&gt; barang siapa yang mengenal dirinya pasti dapat mengenal Tuhannya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Agar manusia bisa  mendapatkan keberkahan hidup ketika bergulat dalam urusan dunianya, maka  harus bisa mengenal hakekat dirinya. Dimana manusia adalah makhluk yang  lemah dan kerdil tanpa bantuan dari kekuatan Allah SWT. Di dalam diri  manusia ada begitu banyak tanda-tanda dari ke KuasaanNya. Jantung yang  selalu berdetak, darah yang mengalir secara sistimatis, empedu yang  dapat mengurai gizi yang dibutuhkan tubuh, mata yang berguna untuk  melihat keindahan, alisnya yang tidak tumbuh panjang seperti rambut  kepala, dan sebagainya adalah tanda-tanda kekuasaanNya yang dapat  mengantarkan keimanan manusia padaNya. Karena itu, manusia yang memahami  dirinya, pastilah ia tidak akan sombong dengan apa yang dihasilkannya.  Dan meyakini bahwa tidak ada ilah-ilah yang patut disembah dan dipuji di  dunia ini kecuali Alloh Yang Maha Kasih dan Sayang.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu jika  ia sudah mengenal dirinya, pasti pula ia akan mengenal Allah SWT dengan  mengetahui kasih sayangNya yang tidak bisa diukurnya. Sebagaimana  manusia yakin bahwa setiap orang tua yang mengasihi anaknya, tetapi  sulit mengukurnya. Maka bagaimana mungkin manusia dapat mengukur kasih  sayangNya yang begitu besar !. Renungkanlah sabda rasulullah SAW, yang  diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui Abu Hurairah, &lt;em&gt;”Allah  menjadikan rahmat satu bagian. DisimpanNya disisiNya sembilan puluh  sembilan bagian dan diturunkanNya ke bumi satu bagian. Satu bagian  inilah yang dibagi untuk seluruh makhluk (begitu mencakupinya  sampai-sampai dari satu bagian itu) seekor binatang yang mengangkat  kakinya karena dorongan kasih terhadap anaknya, khawatir kalau-kalau  sampai ia menginjaknya.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allah Yang Maha Kasih,  masih manyimpan 99 kasih sayang disisiNYa. Yang kelak akan dibagikan  pada makhluk-makhlukNya yang berkeinginan untuk selalu mengenalNya lebih  mendalam. Inilah makna simbolik-spiritualistik dari wukuf di arafah.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan untuk dapat mencapai arofah atau ma’rifah padaNya seorang muslim harus ber-&lt;strong&gt;&lt;em&gt;mujahadah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (bersungguh-sungguh) dalam beribadah padaNya dengan selalu berdzikir  dan bertafakkur tentang nikmat-nikmatNya. Sehingga akan melahirkan sikap  &lt;strong&gt;&lt;em&gt;mahabbah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(kepercayaan yang sempurna dengan  kehangatan cinta yang membara) pada Alloh SWT. Dengan kecintaan yang  membara ini, seorang muslim akan mengalami &lt;strong&gt;&lt;em&gt;fana’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (dirinya lebur dan hilang sama sekali), sehingga tidak ada yang dirindu  di alam semesta ini kecuali siapa yang dicintainya. Dan tidak ada yang  dirasakan kehadiran di hatinya kecuali hanya Dia yang disayang, &lt;em&gt;ma fi qolbi illa Alloh.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan jika Aisyah r.a.,  istri Rosululloh Saw, meriwayatkan bahwa rosul memberitahukan padanya  bahwa beliau tidak melihat Tuhan ketika mi’raj. Tetapi Ibnu Abbas  memberitakan bahwa nabi Saw melihat-Nya, maka keduanya benar. Rasul  tidak melihat-Nya (dengan pandangan mata), itu yang disampaikan kepada  Aisyah. Dan beliau melihat-Nya (dengan mata hati), sebagaimana riwayat  Ibnu Abbas.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Karena itu  jika anda tidak menjadi tamu Alloh untuk ber-wukuf di arafah maka  undanglah Dia menjadi Tamu di hati anda dengan wukuf sejenak dari  mengurus kepentingan yang hanya bersifat duniawi dan berkosentrasi pada  kepentingan-kepentingan Ilahi supaya bisa arafah padaNya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-7724711344166864359?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/7724711344166864359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/07/wukuf-dan-arafah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/7724711344166864359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/7724711344166864359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/07/wukuf-dan-arafah.html' title='WUKUF DAN ARAFAH'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-q9rvtyl46R8/TiATT_ywL3I/AAAAAAAAA3s/1zSjBhmOcpY/s72-c/Copy%2Bof%2BS5002306.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-659629952712358434</id><published>2011-06-19T06:43:00.002+07:00</published><updated>2011-09-17T06:39:39.737+07:00</updated><title type='text'>BATU-BATU ARAFAH BERSAKSI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-D12uQ4vq4pU/Tf04kUJEESI/AAAAAAAAA3c/pldiH7Ua_ms/s1600/Ak-05.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619710106561417506" src="http://1.bp.blogspot.com/-D12uQ4vq4pU/Tf04kUJEESI/AAAAAAAAA3c/pldiH7Ua_ms/s200/Ak-05.JPG" style="cursor: hand; cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0 10px 10px 0; width: 173px;" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam perjalanan haji bersama jamaah  rombongannya Ibrahim Al-Wasithi, sufi yang hidup pada abad keempat  Hijriah, tiba di Arafah. Saat wukuf, dia hanya asyik dengan amal ibadah  dan do’a-do’a. sepanjang hari tanggal 9 Zulhijah itu Al-Wasithi hanya  berzikir dengan penuh khusyuk sambil menangis teringat akan  kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya.  Bukankah Ibadah Haji adalah bertamu ke haribaan Allah ‘Azza wa Jalla.  Bukankah ibadah haji adalah saran kembali kepada Allah dari segala dosa.  Bukankah Padang Arafah adalah tempat hamba-hamba Allah mengadu dan  mengakui segala dosanya, lalu Allah dengan kasih sayang-Nya akan  mengampuni seluruh dosanya, walau sebanyak butir yang ada di padang  sahara sekalipun.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Wasithi  memanfaatkan waktu yang hanya satu kali satu tahun itu dengan penuh  makna. Dia tahu betul arti hari arafah. Suatu tempat menurut sebagian  riwayat – Nabi Adam, bapak umat manusia mengakui kesalahan-kesalahannya  di hadapan Allah lalu allah dengan rahmat-Nya menerima permohonan  tobatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai beribadah dan zikir panjang, Al-Wasithi keluar  dari kemahnya ingin menghirup udara Arafah. Dia memperhatikan  langit-langit biru yang menutupi padang Arafah yang terbentang lebar.  Sambil memuji-memuji allah, Al-Wasithi terus fana dalam renungan dan  tafakur akan keesaan Allah Rabbul Jalal. Kemudian, dia berjalan perlahan  selangkah demi selangkah, sampai akhirnya ia menemukan seonggokan  batu-batu kecil yang akan bisa digunakan untuk melempar jumrah kelak.  Sebelum menjemput batu-batu itu, ia ingin agar seluruh yang ada  disekitar Padang Arafah menyaksikan ikrarnya sebagai seorang Muslim dan  seorang hamba Allah. Sambil menggenggam batu-batu Arafah, Al-Wasithi  berkata, “Wahai batu-batu Arafah, saksikanlah kelak di hadapan Allah  bahwa aku berikrar Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna  Muhammadan “Abduhu Wa Rasululhu, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain  allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam  10 Zulhijjah, saat ketika rombongan haji akan meninggalkan Arafah dan  berangkat menuju ke Muzdalifah kemudian ke Mina untuk melakukan sisa  menasik haji yang belum terlaksana, seperti mabil sejenak di Masy’ar  atau sejenak sebelum berangkat Al-Wasithi tidur kecapaian. Katanya, dia  bermimpi dalam tidurnya bahwa hari kiamat telah tiba. Lautan manusia  tengah berdiri menanti hisab dari Allah. Keadaan seperti Arafah tempat  manusia berdiri dengan pakaian yang sama dan tidak terlihat ada yang  lebih utama dari sesamanya kini terlihat kembali dalam mimpinya dalam  jumlah yang jauh lebih besar. Dia saksikan betapa dahsyatnya hari itu.  Semua manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Semua manusia menyesali  perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukannya, betapapun kecilnya  perbuatan dosa itu. Tidak terlihat si anak mau menolong si ayah. Tidak  terlihat si istri memikirkan nasib suaminya. Semuanya sendiri-sendiri.  Yang dipikirkannya hanya sirinya semata-mata; apakah dia bisa selamat  atau mungkin akan diazab oleh Alloh swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saat hisab. Satu  demi satu orang dihisab dan ditimbang amalnua oleh Allah swt. Tidak ada  yang merasa dizalimi atau diperlakukan sewnang-wenang oleh allah.  Semuanya dihitung seadil-adilnya oleh Yang Maha Adil. Tiba giliran  A-Wasithi untuk dihisab. Wajahnya berubah pucat. Dia menanti hasilnya,  apakah ia akan selamat atau tidak. Betapa terkejutnya ketika tiba-tiba  ia digiring ke arah api neraka usai dihisab. Dia menangis dan mohon  pertolongan. Tapi pada hari itu siapa yang sanggup menolongnya. Dia  merintih dan menjerit. Dia memohon agar dikembalikan ke dunia untuk bisa  beramal, walau sebentar saja. Namun hari itu adalah hari pembalasan.  Bukan hari amal. Dahulu di dunia manusia telah diberi kesempatan oleh  allah untuk beramal, namun mereka kadang-kadang lalai dan bahkan  mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya al-Wasithi di pintu neraka, dan ketika  dia hampir-hampir dijebloskan ke dalamnya, tiba-tiba ada sebuah batu  muncul dan berupaya menahannya. Malaikat azab berusaha menggeserkan batu  tersebut, tetapi mereka tak berdaya. Dibawanya lagi Al-Wasithi ke pintu  kedua, tetapi batu lain muncul lagi menghalanginya. Begitulah  seterusnya sampai pintu ke tujuh. Setiap kali batu itu menahannya dari  api neraka, ia kemudian bersaksi, “Ya allah, kami adalah batu-batu kecil  Arafah. Kami menyaksikan bahwa si Polan ini telah berikrar dan bersaksi  bahwa tiada Tuhan ,melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasululloh”.  Para malaikat kemudian membawanya ke ‘Arasy. Di sana kemudian Allah  berfirman, “Batu-batu Arafah itu telah menyaksikan ikrar dan syahadahmu  dan mereka tidak menyia-nyiakanmmu. Karena itu, mana mungkin aku akan  sia-siakan ikrarmu. Aku terima syahadah dan kesaksianmu. Dan kini  masuklah ke dalam surga-Ku”………..&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #ffcccc; font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-659629952712358434?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/659629952712358434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/06/batu-abtu-arafah-bersaksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/659629952712358434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/659629952712358434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/06/batu-abtu-arafah-bersaksi.html' title='BATU-BATU ARAFAH BERSAKSI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-D12uQ4vq4pU/Tf04kUJEESI/AAAAAAAAA3c/pldiH7Ua_ms/s72-c/Ak-05.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-8800348672715414637</id><published>2011-05-26T05:45:00.003+07:00</published><updated>2011-05-26T05:52:26.252+07:00</updated><title type='text'>HAJI, MOMENTUM PERBAIKAN DIRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2iSL9QlwaFA/Td2HliWNBPI/AAAAAAAAA3Q/ETAzGo8QjIY/s1600/Ak-22.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2iSL9QlwaFA/Td2HliWNBPI/AAAAAAAAA3Q/ETAzGo8QjIY/s200/Ak-22.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5610789789718349042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : H. Akbar&lt;br /&gt;Ketua Bimbingan Ibadah Haji Arrafiiyah&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kaum muslimin, ibadah haji merupakan &lt;em&gt;madrasah&lt;/em&gt; yang dipenuhi   berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan   memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan   faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah   pelaksanaan haji mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan   keimanan dimana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan   bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para   hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ  بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى  كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ  فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا  مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya   mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta   yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka   menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” &lt;/em&gt;(Al Hajj: 27-28).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam   ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam   ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan   bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif   (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang   akan diperoleh dari ibadah haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut   diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada   firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan   alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat   “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ   ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, &lt;em&gt;“(Wahai   Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya   mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara   untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah   ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh   manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar   dan pengampunan dosa dari Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt;. Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat   keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala   dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn1"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya   dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang   dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan,   keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada   Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa   ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa   Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima   oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi   baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari   kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa   hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya   kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” &lt;/em&gt;(Ar Rahman: 60).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan   baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai   hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia   akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn3"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;[3]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang   dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang   dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas   bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah   haji tersebut  dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; dan sesuai dengan tuntunan rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.   Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah   diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan   tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik   daripada sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Dengan demikian  terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa  ibadah haji yang dikerjakan  diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang  terdapat di tengah-tengah  pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang  berhaji melaksanakannya dengan  ikhlas dan sesuai dengan tuntunan  rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.  Kedua, tanda yang  muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu  tumbuhnya keshalihan pada  diri orang yang telah berhaji, yang ditandai  dengan bertambahnya  ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan  dan dosa. Dia memulai  kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi  dengan keshalihan dan  istiqamah&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa   amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya  dengan  sebaik mungkin. Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; telah menjelaskan kondisi   orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan   yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,   dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka   akan kembali kepada Tuhan mereka.”&lt;/em&gt; (Al Mukminun: 60).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang   diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan   selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan   kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata   amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah   dilakukan tidak diterima oleh-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam   mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan   apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang   dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu   ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak,   wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa,   shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak   diterima oleh Allah ta’ala.”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn4"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;[4]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Hasan Al Bashri &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة ، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa   takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa   aman.”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini   tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “&lt;em&gt;Taqabbalallahu minna wa minkum.&lt;/em&gt;” Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;  Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi   Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai   mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya  dengan ucapan&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” &lt;/em&gt;(Al Baqarah: 127).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah   amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar   sudi menerima amal mereka berdua tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;" dir="rtl"&gt;يا خليل الرحمن، ترفع قوائم بيت الرحمن وأنت مُشْفق أن لا يتقبل منك&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar   Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”&lt;/em&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang   bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus   dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin,   memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan   perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan   memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;hr size="1"&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; HR. Bukhari: 1820 dan Muslim: 1350. &lt;p&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; HR. An Nasai 5/115. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih al Jami’: 2901.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; HR. Muslim: 1349.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; HR. Ahmad: 25705.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; HR. Ibnu al Mubarak dalam Az Zuhd: 985.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;  Ibnu Baththah dalam kitab beliau Al Ibanah (2/873) berkata, “…demikian   pula seorang yang baru saja pulang dari melaksanakan haji dan ‘umrah   serta menyelesaikan seluruh kegiatan manasik, apabila dirinya ditanya   mengenai haji yang telah dilaksanakannya, maka ia akan mengatakan, “Kami   telah berhaji, tidak ada lagi yang tersisa selain harapan agar amal   tersebut diterima oleh-Nya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula, do’a orang-orang bagi diri mereka sendiri atau do’a   mereka kepada sesamanya adalah, “Ya Allah, terimalah puasa dan zakat   kami.” Tatkala seorang menemui seorang yang telah berhaji, telah menjadi   kebiasaan, dia mengucapkan, “Semoga Allah menerima hajimu dan   membersihkan amalanmu.” Demikian juga, tatkala manusia saling bertemu   ketika penghujung Ramadhan, maka mereka saling mengucapkan, “Semoga   Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah sunnah kaum muslimin yang telah berlalu dan menjadi   kebiasaan kaum muslimin sampai saat ini yang diambil oleh generasi saat   ini dari generasi terdahulu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ikhwanmuslim.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/paste/pasteword.htm?ver=327-1235#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; HR. Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir 1/254 cetakan Asy Syu’ab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-8800348672715414637?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/8800348672715414637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/haji-momentum-perbaikan-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8800348672715414637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8800348672715414637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/haji-momentum-perbaikan-diri.html' title='HAJI, MOMENTUM PERBAIKAN DIRI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2iSL9QlwaFA/Td2HliWNBPI/AAAAAAAAA3Q/ETAzGo8QjIY/s72-c/Ak-22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-6518834160420446008</id><published>2011-05-14T06:45:00.003+07:00</published><updated>2011-05-14T06:48:10.680+07:00</updated><title type='text'>AIR ZAMZAM DAN KEUTAMAANNYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-NU8JMHiHitU/Tc3DBbvrRiI/AAAAAAAAA3I/O0j2HZ1UZ_w/s1600/air_zam_zam.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NU8JMHiHitU/Tc3DBbvrRiI/AAAAAAAAA3I/O0j2HZ1UZ_w/s200/air_zam_zam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5606351540541146658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Air Zam-zam terletak di depan Kabah dan saat ini sumur zam-zam telah di  tutup demi kelancaran jamaah Haji datu Umroh yang hendak ber Towaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hadist-hadist disebutkan besarnya manfaat air zam-zam, bahkan  disunahkan bagi jamaah Haji maupun Umroh untuk meminumnya, dan kesunahan  minum air zam-zam juga bagi seluruh muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadist yang menjelaskan keutamaan minum air zam-zam antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sunnguh (air zam-zam itu) penuh keberkahan dan memberi kenyang pada orang yang lapar.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Thoyalisi lain ada tambahan, “ penyembuh dari semua penyakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kesimpulan dari hadist diatas adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“  Bahwa air-zam-zam itu adalah air penuh keberkahan, yang bisa  mengenyangkan orang yang lapar dan air penyembuh dari semua penyakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai  bisa mengenyangkan orang yang lapar ini pernah dibuktikan oleh seorang  sahabat, Abu Dzar Al-Ghifari, yang pernah menetap selama 1 bulan di Kota  Mekkah dan hanya minum air air zam-zam saja tanpa rasa lapar selama  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam satu riwayat dari Imam Bukhori disebutkan bahwa  Nabi Saw pernah dibersihakan dengan air Zam-zam oleh Malaikat ketika  beliau masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kautamaan Minum Air Zam-zam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa Hadist yang menunjukan keutamaan minum Air Zam-zam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ماء زمزم لما شرب له&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air zam-zam itu tergantung (niat) orang yang meminumnya.”(HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya  keberkahan air zam-zam itu tergantung dari niat yang meminumnya, dan  ini menunjukan bahwa air zam-zam bukan sekedar air pelepas dahaga saja.  Namun lebih dari itu ia bisa menjadi wasilah (perantara) agar air  zam-zam yang kita minum mengandung manfaat dan berkah bagi tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Etika Minum Air Zam-Zam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Minum sambil menghadap Kiblat&lt;br /&gt; * Membaca Basmalah terlebih dahulu&lt;br /&gt; * Bernafas (mengeluarkan nafas)  3 x ketika minum&lt;br /&gt; * Membaca Hamdalah selesai Minum&lt;br /&gt;  * Duduk ketika minum, namun ada riwayat dari Imam Bukhori yang  berasal dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw pernah minum air zam-zam  sambil berdiri.&lt;br /&gt; * Dengan demikian berdiri maupun duduk dibolehkan  ketika minum air zam-zam. Namun duduk lebih utama. Tapi bagi yang  berhaji atau umroh tentunya sulit minum sambil duduk, ketika selesai  mengerjakan tawaf karena banyak nya jamaah yang berkurumun mengambil air  zam-zam (saat ini pintu akses ke sumur zam-zam telah ditutup, sehingga  para jamaah hanya bisa mengambil air zam-zam di tong air zam-zam yang  telah disediakan)&lt;br /&gt; * Ketika minum disisakan sedikit kemudian sisa air itu di usapkan ke kepala, wajah dan dada&lt;br /&gt; * Berdoa ketika minum air zam-zam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Minum Air Zam-zam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas ketika minum air zam-zam berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً ، وَ رِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah aku minta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan obat dari segala penyakit.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-6518834160420446008?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/6518834160420446008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/air-zamzam-dan-keutamaannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6518834160420446008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6518834160420446008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/air-zamzam-dan-keutamaannya.html' title='AIR ZAMZAM DAN KEUTAMAANNYA'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NU8JMHiHitU/Tc3DBbvrRiI/AAAAAAAAA3I/O0j2HZ1UZ_w/s72-c/air_zam_zam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-9028044835545009438</id><published>2011-05-03T07:14:00.002+07:00</published><updated>2011-05-03T07:24:59.415+07:00</updated><title type='text'>MENGGAPAI CITA-CITA AGUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ob0HmV7gojg/Tb9LRBI4JkI/AAAAAAAAA3A/o4IwBL5AqJA/s1600/01_king.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 129px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ob0HmV7gojg/Tb9LRBI4JkI/AAAAAAAAA3A/o4IwBL5AqJA/s200/01_king.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602279217207715394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada suatu hari, setelah menyelesaikan ibadah haji, seorang Syeikh  datang menemui sang Imam yang maksud dan tujuannya adaah menceritakan  pengalamannya selama menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;Berikut adalah dialog mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam  (I)   : "Wahai Syeikh, Anda telah melaksanakan ibadah haji?"&lt;br /&gt;Syeikh (S)  : "Benar, wahai Imam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I  : "Wahai, S, adakah Anda telah berhenti di &lt;i&gt;miqat&lt;/i&gt;, lalu menanggalkan semua pakaian berjahit yang    terlarang bagi yang sedang berhaji, lalu Anda mandi sunnah sebelum &lt;i&gt;ihrom&lt;/i&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S : "Ya, benar"&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hMggBA-zyZU/TZfFF-0dLVI/AAAAAAAAADc/T3f-hsL-AVs/s1600/miqot+z-3.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-hMggBA-zyZU/TZfFF-0dLVI/AAAAAAAAADc/T3f-hsL-AVs/s320/miqot+z-3.jpg" width="320" border="0" height="275" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;"Adakah Anda ketika berhenti di &lt;i&gt;miqat&lt;/i&gt;, meneguhkan niat  untuk juga berhenti dan menangglkan semua pakaian maksiat dan sebagai  gantinya mengenakan pakaian ketaatan dan kepatuhan?"&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;S : " Tidak, wahai Imam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;pada saat menanggalkan semua pakaian terlarang itu, adakah Anda juga menanggalkan dari diri Anda, semua sifat &lt;i&gt;riya, nifaq&lt;/i&gt; dan segala yang diliputi &lt;/u&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;syubha&lt;/u&gt;t&lt;/i&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;ketika mandi dan membersihkan diri sebelum memulai ihram,  adakah Anda juga berniat membersihkan diri dari segala pelanggaran dan  dosa&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu Anda tidak benar-benar berhenti di &lt;i&gt;miqat&lt;/i&gt;, tidak menanggalkan pakaian berjahit dan tidak pula mandi dan membersihkan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sang Imam melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Wahai S, &lt;u&gt;ketika mandi &lt;i&gt;ihram&lt;/i&gt; untuk membersihkan diri  dan menetapkan niat untuk memasuki ibadah haji, adakah Anda juga  menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus  kepada Allah SWT&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;pada saat mulai ber-&lt;i&gt;ihram&lt;/i&gt; , adakah Anda juga berniat mengharamkan atas diri Anda sendiri, segala yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AhZy83okAXY/TZg6nAOWb5I/AAAAAAAAADg/vXioAUPzpCw/s1600/ihram_haji01.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-AhZy83okAXY/TZg6nAOWb5I/AAAAAAAAADg/vXioAUPzpCw/s320/ihram_haji01.jpg" width="239" border="0" height="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pakaian Ihram Laki-laki&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;ketika mulai mengikat diri dalam ibadah haji, adakah Anda  pada waktu yang sama , juga melepaskan segala ikatan selain untuk Allah  SWT&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu, Anda sebenarnya tidak membersihkan diri, tidak ber&lt;i&gt;-ihram&lt;/i&gt; dan tidak pula mengikat diri dalam ibadah haji"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sang Imam melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Wahai S, bukankah Anda telah memasuki &lt;i&gt;miqat&lt;/i&gt;, lalu shalat sunat &lt;i&gt;ihram&lt;/i&gt; dua rakaat, dan setelah itu mulai melakukan perjalanan menuju rumah Allah (&lt;i&gt;baitullah&lt;/i&gt;) seraya ber-&lt;i&gt;talbiah&lt;/i&gt; (memenuhi panggilan Allah)?"&lt;br /&gt;S : "Ya, benar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Apakah &lt;u&gt;ketika memasuki &lt;i&gt;miqa&lt;/i&gt;t, Anda juga meniatkannya sebagai perjalanan menuju keridhoan Allah&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;ketika ber-shalat &lt;i&gt;ihram&lt;/i&gt; dua rakaat, adakah Anda juga berniat ber-&lt;i&gt;taqarrub&lt;/i&gt; (mendekatkan diri kepada Allah), dengan mengerjakan suatu amalan yang paling utama diantara segala macam amalan: &lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;yaitu shalat yang merupakan kebaikan utama diantara semua kebaikan yang dikerjakan hamba-hamba Allah&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu Anda tidak memasuki &lt;i&gt;miqat&lt;/i&gt;, tidak ber-&lt;i&gt;talbiah&lt;/i&gt; dan tidak shalat sunat&lt;i&gt; ihram&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian I bertanya lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Adakah Anda telah masuk  ke Masjidil Haram, memandangi Ka'bah dan ber-shalat disana?"&lt;br /&gt;S : "Ya, benar"&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZBYfXjUK0-I/TZg8zGeA7_I/AAAAAAAAADk/0AVUN_yRd3Y/s1600/masjidil-haram.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-ZBYfXjUK0-I/TZg8zGeA7_I/AAAAAAAAADk/0AVUN_yRd3Y/s320/masjidil-haram.jpg" width="320" border="0" height="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Masjidil Haram&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dYWgcAWr4Cs/TZg9rkaALXI/AAAAAAAAADo/SxQWK_CRVNg/s1600/kabah007.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-dYWgcAWr4Cs/TZg9rkaALXI/AAAAAAAAADo/SxQWK_CRVNg/s320/kabah007.jpg" width="320" border="0" height="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ka'bah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika memasuki Masjidil Haram, adakah Anda meneguhkan niat  untuk mengharamkan atas diri Anda, segala macam pergunjingan terhadap  kaum muslim&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body entry-content" id="post-body-6497280770797080089"&gt;&lt;style&gt;@font-face {   font-family: "Cambria"; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 0cm 0cm 10pt; font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman"; }div.Section1 { page: Section1; }&lt;/style&gt;   &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : “Dan &lt;u&gt;ketika sampai di kota Mekkah, adakah Anda mengukuhkan niat untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan&lt;/u&gt;?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;S : “Tidak”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : “Kalo begitu Anda tidak memasuki Masjidil Haram memandangi Ka’bah dan tidak pula bershalat di sana&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : “ Apakah Anda telah bertawaf mengelilingi Ka’bah Bailtullah dan menyentuh rukun-rukunnya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;S : "Ya, Benar”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : “&lt;u&gt;Pada saat bertawaf sambil  berjalan dan berlari, adakah Anda berniat melakukan untuk menuju  keridhaan Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan tersembunyi&lt;/u&gt;?"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;S: “Tidak”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : “Kalau begitu Anda tidak bertawaf mengelilingi Baitullah dan tidak pula menyentuh rukun-rukunnya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu beliau melanjutkan lagi:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : “Dan apakah Anda telah berjabat tangan dengan Hajar Aswad dan berdiri, bershalat di maqam Ibrahim AS?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;S : “Ya benar”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-LawPpaXRPXg/TZg_ZLTaQLI/AAAAAAAAADs/tSV6gnyu27o/s1600/19+hajar-aswad-ka%2527bah.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-LawPpaXRPXg/TZg_ZLTaQLI/AAAAAAAAADs/tSV6gnyu27o/s320/19+hajar-aswad-ka%2527bah.jpg" width="320" border="0" height="173" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Hajar Aswad&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mendengar jawaban itu sang  Imam tiba-tiba berteriak, menangis dan meratap dengan merawankan hati,  seperti hendak meninggalkan meninggalkan hidup ini. Kemudian berucap:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : "&lt;u&gt;Aduhai,  barang siapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seolah-olah ia  berjabat tangan dengan Allah! Karenanya ingatlah baik-baik, wahai insan  yang merana dan sengsara, janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang  menyebabkan engkau kehilangan kemuliaan agung yang kau capai. Atau  membatalkan kehormatan itu dengan pembangkanganmu terhadap perintah  Allah SWT, lalu mengerjakan sesuatu yang diharamkan oleh-NYA,  sebagaimana dilakukan oleh mereka yang bergelimang dalam dosa-dosa!&lt;/u&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kemudian lanjut lagi:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika  berdiri di maqam (tempat berdiri) nabi Ibrahim a.s, adakah Anda juga  memantapkan niat untuk senantiasa berdiri di atas jalan ketaatan kepada  Allah dan meninggalkan jauh-jauh segala maksiat&lt;/u&gt;?"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;S : "Tidak"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_Segu-yzaLQ/TZhAySkV5gI/AAAAAAAAADw/rW0pbT2_Lsc/s1600/mqmibrm.gif" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-_Segu-yzaLQ/TZhAySkV5gI/AAAAAAAAADw/rW0pbT2_Lsc/s1600/mqmibrm.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Maqam Ibrahim&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Fc9Y0xrGaJU/TZhA1Y0deYI/AAAAAAAAAD0/rsJgTlaux04/s1600/maqam-ibrahim3.gif" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-Fc9Y0xrGaJU/TZhA1Y0deYI/AAAAAAAAAD0/rsJgTlaux04/s200/maqam-ibrahim3.gif" width="200" border="0" height="140" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bagian Dalam Maqam Ibrahim&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;ketika ber-shalat dua rakaat di maqam nabi Ibrahim a.s.  adakah Anda juga berniat mengikuti teladan nabi Ibrahim a.s dalam shalat  beliau dalam menentang segala bisikan setan&lt;/u&gt;?"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;S : "Tidak"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;I  : "Kalau begitu Anda tidak berjabat tangan dengan Hajar Aswad, tidak  berdiri di maqam nabi Ibrahim a.s dan tidak pula ber-shalat disana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu lanjutnya lagi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Apakah Anda telah mendatangi sumur Zam-zam dan memandang kepadanya, serta minum dari airnya?&lt;br /&gt;S : "Ya, benar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-krQ1Ij7Q2eY/TZhDXMVByYI/AAAAAAAAAD4/U2uL3FQYMGA/s1600/lokasi+zam2.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-krQ1Ij7Q2eY/TZhDXMVByYI/AAAAAAAAAD4/U2uL3FQYMGA/s320/lokasi+zam2.jpg" width="320" border="0" height="177" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lokasi Sumur Zam-zam yang sekarang telah ditutup untuk umum&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Apakah Anda juga berniat menunjukkan pandangan Anda kepada  semua bentuk kepatuhan kepada Allah, dan bersamaan dengan itu,  memejamkan mata terhadap setiap maksiat (pembangkangan) terhadap-NYA&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu Anda tidak memandang kepadanya dan tidak pula meminum airnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia bertanya lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Adakah Anda telah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah dan berjalan lagi dan pulang antara keduanya?"&lt;br /&gt;S : "Ya, benar"&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PDD1yiYk1pw/TZhF4VpvkbI/AAAAAAAAAEA/sp8vP2t_qb0/s1600/safa_and_marwa_mecca-32.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-PDD1yiYk1pw/TZhF4VpvkbI/AAAAAAAAAEA/sp8vP2t_qb0/s320/safa_and_marwa_mecca-32.jpg" width="320" border="0" height="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sa'i Shafa - Marwa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Apakah pada saat-saat itu Anda juga menempatkan jiwa Anda antara harapan akan rahmat Allah dan kecemasan menghadapi azab-NYA&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu, Anda tidak mengerjakan sa'i dan tidak pula berjalan pergi dan pulang antara kedua bukit itu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutnya lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Anda telah pergi ke Mina (tempat orang merasa dirinya aman dari segala gangguan)?"&lt;br /&gt;S : "Ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2OjY0HDwrhA/TZhI7XikCEI/AAAAAAAAAEE/BM4ZIO-hOZc/s1600/mina.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-2OjY0HDwrhA/TZhI7XikCEI/AAAAAAAAAEE/BM4ZIO-hOZc/s320/mina.jpg" width="320" border="0" height="221" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Mina&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika itu, adakah Anda juga benar-benar bertekad kuat  melakukan segala sesuatu agar semua orang selalu merasa aman dari  gangguan lidah, hati dan tangan Anda sendiri&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu Anda tidak pergi ke Mina, lalu Anda melakukan wukuf di &lt;i&gt;Arafah&lt;/i&gt; mendaki Jabal Rahmah mengunjungi lembah &lt;i&gt;Namirah&lt;/i&gt; dan memanjaatkan do'a doa kepada Allah di bukit-bukit batu &lt;i&gt;Shakhariat&lt;/i&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Ya, benar"&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KysOsq203iA/TZhL0tLDCYI/AAAAAAAAAEI/407vEob5zrg/s1600/arafat_ge.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-KysOsq203iA/TZhL0tLDCYI/AAAAAAAAAEI/407vEob5zrg/s320/arafat_ge.jpg" width="309" border="0" height="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Arafah&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3YMTdVDALf4/TZhMXofGfnI/AAAAAAAAAEM/p1mRs_F0nrY/s1600/topjabal.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-3YMTdVDALf4/TZhMXofGfnI/AAAAAAAAAEM/p1mRs_F0nrY/s320/topjabal.jpg" width="320" border="0" height="189" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jabal Rahmah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika berwukuf di &lt;i&gt;Arafah &lt;/i&gt;adakah dalam kesempatan itu, Anda benar-benar menghayati &lt;i&gt;ma'rifah &lt;/i&gt;tentang kebesaran Allah dan mendalami hakikat &lt;i&gt;ma'rifah&lt;/i&gt; yang akan mengantarkan Anda kepada-NYA&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan &lt;u&gt;ketika mendaki &lt;i&gt;Jabal Rahmah&lt;/i&gt; adakah Anda sepenuhnya  mendambakan rahmat Allah bagi setiap orang mukmin dan mengharapkan  hidayah-NYA terlimpah atas setiap muslim&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika berada di lembah &lt;i&gt;Namirah &lt;/i&gt;adakah Anda  berketetapan hati untuk sekali-kali meng-amar-kan sesuatu yang ma'ruf,  sebelum Anda sendiri meng-amar-kannya atas diri Anda sendiri? dan tidak  pula melarang seseorang dari melakukan sesuatu sebelum Anda menunjukkan  larangan itu kepada diri Anda sendiri&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika berdiri di bukit-bukit sana, adakah Anda menyadarkan  diri sepenuhnya, bahwa tempat-tepat itu menjadi saksi atas segala  kepatuhan kepada Allah, lalu mencatatnya bersama para malaikat pencatat  yang melakukan atas perintah Allah Tuhan sekalian langit&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu Anda tidak berwukuf di Arafah tidak mendaki &lt;i&gt;Jabal Rahmah&lt;/i&gt;, tidak mengenal lembah &lt;i&gt;&lt;b&gt;Namirah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dan tidak pula menunjukkan do'a-do'a disana"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Imam bertanya selanjutnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Adakah Anda telah melewati dua bukit (Alamain), bershalat dua rakaat dan setelah itu meneruskan perjalanan ke &lt;i&gt;Mudzdalifah&lt;/i&gt;, memungut batu-batu kecil disana kemudian melewati&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Masy'ar Al Haram&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;(monumen suci)?"&lt;br /&gt;S : "Ya,benar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Sz2tq0Jnahc/TZhSU26Pi7I/AAAAAAAAAEQ/nKNxQu65s3Q/s1600/map_makka.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-Sz2tq0Jnahc/TZhSU26Pi7I/AAAAAAAAAEQ/nKNxQu65s3Q/s320/map_makka.jpg" width="320" border="0" height="273" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-84x8W7uP3O4/TZhS79DUexI/AAAAAAAAAEU/NnUNp-D54fk/s1600/Peta+arofah.JPG" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-84x8W7uP3O4/TZhS79DUexI/AAAAAAAAAEU/NnUNp-D54fk/s320/Peta+arofah.JPG" width="246" border="0" height="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika shalat dua rakaat pada malam menjelang &lt;i&gt;yaum an-nahr&lt;/i&gt;  (10 Dzulhijjah), adakah Anda meniatkannya sebagai shalat syukur, seraya  mengharapkan tersingkirnya segala kesulitan dan kedatangan segala  kemudahan dalam hidup Anda&lt;/u&gt;?&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;"Dan ketika lewat diantara kedua bukit itu, dengan sikap lurus  tanpa menoleh kekanan dan kiri adakah Anda saat itu juga meneguhkan  niat untuk tidak bergeser sedikitpun dari agama Islam agama yang haqq,  baik ke arah kanan ataupun kiri tidak dengan hatimu atau lidahmu dan  tidak pula dengan segala gerak-gerik anggota tubuhmu yang lain?&lt;/u&gt;"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;"Dan ketika menuju Mudzdalifah dan memungut batu-batu kecil di  sana untuk melempar jumroh adakah Anda juga berniat melempar jauh-jauh  segala macam maksiat dan kejahilan terhadap Allah SWT dan sekaligus  menguatkan hatimu untuk senantiasa mengejar ilmu dan amal yang diridhoi  Allah?&lt;/u&gt;"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;"Dan ketika melewati Masy'ar al-haram, adakah Anda juga  meng-isyaratkan kepada diri Anda sendiri agar ber-sya'ir sebagaimana  yang dilakukan orang-orang yang penuh taqwa kepada Allah SWT?"&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Kalau begitu Anda tidak melewati kedua bukit (Alamain) , tidak  shalat dua rakaat, tidak berjalan ke Mudzdalifah, tidak memungut  batu-batu di-sana dan tidak pula melewati Masy'ar al-haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia bertanya lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Wahai Syekh, apakah Anda telah berhenti di Mina melempar Jumroh,  mencukur rambut, menyembelih hewan Qurban, bershalat di masjid Al-Khaif  kemudian kembali ke Mekkah dan mengerjakan tawaf ifadah?"&lt;br /&gt;S : "Ya, Benar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-C7iV1-sEwB4/TZh4hTamLzI/AAAAAAAAAEY/hiu0lWR0a18/s1600/jamarat.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-C7iV1-sEwB4/TZh4hTamLzI/AAAAAAAAAEY/hiu0lWR0a18/s320/jamarat.jpg" width="276" border="0" height="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt; &lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Eyz0sW2UWsQ/TZh4iaoe2bI/AAAAAAAAAEc/RioEAdDldm8/s1600/jamarat06.JPG" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-Eyz0sW2UWsQ/TZh4iaoe2bI/AAAAAAAAAEc/RioEAdDldm8/s320/jamarat06.JPG" width="240" border="0" height="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Salah satu Jamarat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Ketika sampai di Mina lalu melempar Jumroh, adakah Anda  meyakinkan diri sendiri bahwa Anda kini telah mencapai tujuan dan bahwa  Tuhan Anda telah memenuhi segala &lt;i&gt;umniyyah&lt;/i&gt;&lt;/u&gt; (cita-cita dan harapan)?&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;&lt;b&gt;"&lt;/b&gt;Dan pada saat melempar jumroh, adakah Anda meneguhkan hati  Anda bahwa dengan itu Anda melempar iblis, musuh bebuyutanmu, dan  memeranginya habis-habisan dengan telah disempurnakannya ibadah haji  Anda yang amat mulia itu?&lt;/u&gt; "&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;&lt;b&gt;" &lt;/b&gt;Dan pada saat mencukur habis rambut Anda, adakah Anda telah  mencukur habis pula dari hati Anda segala kenistaan dan bahwa Anda telah  keluar dan menjauh dari segala perbuatan dosa, sehingga menjadi suci  bersih seperti ketika baru lahir dari perut ibu&lt;/u&gt;?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : &lt;u&gt;"Ketika shalat di masjid Khaif, adakah Anda berniat untuk tidak memiliki perasaan &lt;i&gt;khauf&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;  (takut) kecuali kepada Allah SWT, dan kepada dosa-dosa Anda sendiri?  Dan bahwa Anda tidak mengharapkan apapun selain rahmat Allah?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "Dan pada saat memotong hewan kurban, adakah Anda juga berniat  memotong segala urat ketamakan dan kerakusan, dan sebagai gantinya  berpegang pada sifat &lt;i&gt;wara&lt;/i&gt; ( &lt;span style="font-size:small;"&gt;menjaga diri dan membentenginya dari hal-hal yang&lt;span class="ff6" style="left: 0.34em; margin-right: 0.34em; word-spacing: -0.12em;"&gt; tidak jelas hukumnya&lt;/span&gt;, atau dengan kata lain&lt;span class="ff6" style="left: 0.33em; margin-right: 0.33em; word-spacing: -0.05em;"&gt; menjaga diri dari barang yang syubhat atau jelas&lt;/span&gt;keharamannya, atau hal-hal yg dibolehkan tapi bisa menjurus ke hal yg buruk atau tidak baik) &lt;/span&gt;yang  sebenar-benarnya? Dan bahwa Anda mengikuti jejak nabi Ibrahim a.s yang  rela sepenuhnya memotong leher putera kecintaannya, buah hatinya dan  penyegar jiwanya? Agar semata menjadi teladan bagi seluruh manusia  sesuadahnya semata-mata demi memenuhi perintah Allah SWT?"&lt;br /&gt;S : "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I : "&lt;u&gt;Dan ketika kembali ke Mekkah untuk mengerjakan tawaf ifadah,  adakah Anda kini ber-ifadhah (bertolak) dari tempat pusat rahmat Allah  tetap menuju ketaatan kepada-NYA, berpegang teguh pada kecintaan  terhadap-NYA, setia menunauikan segala perintah-NYA dan ber-taqarrub  (mendekatkan diri) selalu kepada-NYA?&lt;/u&gt;"&lt;br /&gt;S: "Tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam : "Kalo begitu wahai Syekh Syibli anda tidak mencapai Mina, tidak  melempar jumroh, tidak mencukur rambut, tidak memotong qurban, tidak  mengerjakan manasik, tidak bershalat di masjid Khaif, tidak bertawaf  ifadhah dan tidak pula mendekat kepada Tuhanmu. Kemalilah berhaji lagi !  Sebab Anda sesungguhnya belum benar-benar menunuaikan ibadah haji Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan sang Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Ali  ibn Abi Thalib (cucu Imam Ali bin Abi Thalib), Syekh Sibli giat  memperdalam ilmunya , sehingga pada tahun berikutnya ia kembali lagi ke  Mekkah dengan ilmu mendalam dan keyakinan penuh&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-9028044835545009438?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/9028044835545009438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/menggapai-cita-cita-agung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/9028044835545009438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/9028044835545009438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/menggapai-cita-cita-agung.html' title='MENGGAPAI CITA-CITA AGUNG'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ob0HmV7gojg/Tb9LRBI4JkI/AAAAAAAAA3A/o4IwBL5AqJA/s72-c/01_king.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-8967623469677064915</id><published>2011-05-01T08:58:00.002+07:00</published><updated>2011-05-01T09:00:21.793+07:00</updated><title type='text'>ABDUL AZIZ BIN SAUD RAJA SAUDI PERTAMA (1880 - 1953)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Tz69cpw4OO0/Tby-oHumf0I/AAAAAAAAA24/BNrIkjh2rhc/s1600/king-abdulaziz_2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 168px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Tz69cpw4OO0/Tby-oHumf0I/AAAAAAAAA24/BNrIkjh2rhc/s200/king-abdulaziz_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601561633020608322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;`Abd al-`Azīz as-Sa`ūd&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Riyadh" title="Riyadh"&gt;Riyadh&lt;/a&gt;, sekitar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1880" title="1880"&gt;1880&lt;/a&gt;–&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taif&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Taif (halaman belum tersedia)"&gt;Taif&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/9_November" title="9 November"&gt;9 November&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1953" title="1953"&gt;1953&lt;/a&gt;) (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab" title="Bahasa Arab"&gt;bahasa Arab&lt;/a&gt;: &lt;b&gt;عبدالعزيز آل سعود&lt;/b&gt;) adalah &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Saudi" title="Arab Saudi"&gt;Arab Saudi&lt;/a&gt; yang pertama. Dia juga dikenali dengan berbagai nama, di antaranya &lt;b&gt;Ibnu Saud&lt;/b&gt;. Ia berasal dari &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keluarga_Kerajaan_Saudi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Keluarga Kerajaan Saudi (halaman belum tersedia)"&gt;Keluarga Kerajaan Saudi&lt;/a&gt; yang memerintah sebahagian dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jazirah_Arab" title="Jazirah Arab"&gt;Jazirah Arab&lt;/a&gt;.&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Riwayat_hidup"&gt;Riwayat hidup&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Saudi dilahirkan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Riyadh" title="Riyadh"&gt;Riyadh&lt;/a&gt; dan merupakan anak pasangan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Abdul_Rahman_bin_Faisal&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Abdul Rahman bin Faisal (halaman belum tersedia)"&gt;Abdul Rahman bin Faisal&lt;/a&gt; dan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sara_binti_Ahmad_al-Kabir_Sudayri&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sara binti Ahmad al-Kabir Sudayri (halaman belum tersedia)"&gt;Sara binti Ahmad al-Kabir Sudayri&lt;/a&gt;. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1890" title="1890"&gt;1890&lt;/a&gt;, semasa berusia sepuluh tahun, Ibnu Saud mengikuti keluarganya dalam pengasingan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuwait" title="Kuwait"&gt;Kuwait&lt;/a&gt; setelah direbutnya tanah keluarganya oleh dinasti &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rashidi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Rashidi (halaman belum tersedia)"&gt;Rashidi&lt;/a&gt;. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kuwait dalam keadaan tidak berharta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1901" title="1901"&gt;1901&lt;/a&gt;,  semasa berusia 22 tahun, Ibnu Saud menggantikan ayahnya sebagai ketua  keluarga dinasti Saud dengan gelar Sultan Nejd. Ia kemudian memulai  kampanye untuk merebut kembali tanah keluarganya dari dinasti Rashidi di  tempat yang kini merupakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Saudi" title="Arab Saudi"&gt;Arab Saudi&lt;/a&gt;. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1902" title="1902"&gt;1902&lt;/a&gt;, beliau bersama-sama dengan pasukan keluarga dan saudaranya berhasil merebut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Riyadh" title="Riyadh"&gt;Riyadh&lt;/a&gt; dengan membunuh gubernur Rashidi di sana.&lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Merebut_kembali_kekuasaaan"&gt;Merebut kembali kekuasaaan&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua tahun setelah berhasil merebut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Riyadh" title="Riyadh"&gt;Riyadh&lt;/a&gt;, Ibnu Saud berhasil menguasai separuh dari Nejd. Meskipun begitu, pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1904" title="1904"&gt;1904&lt;/a&gt;, dinasti Rashidi meminta bantuan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah" title="Kesultanan Utsmaniyah"&gt;Kesultanan Utsmaniyah&lt;/a&gt; untuk mengalahkan dinasti Saud (&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keluarga_Kerajaan_Saudi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Keluarga Kerajaan Saudi (halaman belum tersedia)"&gt;Keluarga Kerajaan Saudi&lt;/a&gt;). Kerajaan Utsmaniyah mengirimkan pasukan ke Arabia (Tanah Arab) dan ini menyebabkan kekalahan dinasti Saud pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/15_Juni" title="15 Juni"&gt;15 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1904" title="1904"&gt;1904&lt;/a&gt;,  namun setelah pasukan Utsmaniyah mundur disebabkan masalah tertentu,  pasukan dinasti Saud berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1912" title="1912"&gt;1912&lt;/a&gt;, Ibnu Saud berhasil menguasai &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nejd" title="Nejd"&gt;Nejd&lt;/a&gt; dengan bantuan dinasti &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wahabi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Wahabi (halaman belum tersedia)"&gt;Wahabi&lt;/a&gt;. Pada saat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_I" title="Perang Dunia I"&gt;Perang Dunia I&lt;/a&gt;, Ibnu Saud berpihak kepada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Britania_Raya" title="Britania Raya"&gt;Britania Raya&lt;/a&gt; karena dinasti Rashidi merupakan sekutu Utsmaniyah yang merupakan musuh Britania. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1922" title="1922"&gt;1922&lt;/a&gt; dinasti Saud berhasil mengalahkan dinasti Rashidi dan ini mengakhiri penguasaan dinasti Rashidi di Tanah Arab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1925" title="1925"&gt;1925&lt;/a&gt;, dinasti Saud berhasil merebut Kota Suci &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makkah" title="Makkah"&gt;Makkah&lt;/a&gt; dari Syarif Hussain bin Ali. Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/10_Januari" title="10 Januari"&gt;10 Januari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1926" title="1926"&gt;1926&lt;/a&gt;, Ibnu Saud dinobatkan menjadi Raja &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hijaz" title="Hijaz"&gt;Hijaz&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masjidil_Haram" title="Masjidil Haram"&gt;Masjidil Haram&lt;/a&gt;, &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makkah" title="Makkah"&gt;Makkah&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1932" title="1932"&gt;1932&lt;/a&gt;, setelah menguasai sebagian besar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jazirah_Arab" title="Jazirah Arab"&gt;Jazirah Arab&lt;/a&gt;  dari musuh-musuhnya, Ibnu Saud menamakan tanah gabungan Hijaz dan Nejd  sebagai Arab Saudi. Ia kemudiannya menobatkan dirinya sebagai &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja Arab Saudi&lt;/a&gt; dengan dukungan pihak &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Britania" title="Britania"&gt;Britania&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Minyak_dan_pemerintahan_Ibnu_Saud"&gt;Minyak dan pemerintahan Ibnu Saud&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Setelah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi" title="Minyak bumi"&gt;minyak bumi&lt;/a&gt; ditemukan di Arab Saudi pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1938" title="1938"&gt;1938&lt;/a&gt;,  Ibnu Saud memberikan izin bagi perusahaan-perusahaan Barat untuk  melakukan eksplorasi minyak di sana. Segala keuntungan hasil penjualan  minyak diberikan kepada keluarga Saud. Keuntungan hasil penjualan minyak  yang semakin bertambah menyebabkan Ibnu Saud mulai membelanjakan uang  itu untuk memperbaiki kehidupan rakyatnya.&lt;br /&gt;Ia memaksa suku-suku nomadik agar tinggal secara tetap di suatu tempat.  Ia juga memulai usaha untuk memberantas tindakan kriminal terutamanya  tindakan kriminal terhadap terhadap para peziarah di &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makkah" title="Makkah"&gt;Makkah&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madinah" title="Madinah"&gt;Madinah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Perang_asing"&gt;Perang asing&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Saat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II" title="Perang Dunia II"&gt;Perang Dunia II&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Saudi" title="Arab Saudi"&gt;Arab Saudi&lt;/a&gt; ialah sebuah negara yang netral tetapi lebih memihak kepada pasukan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sekutu" title="Sekutu"&gt;Sekutu&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1948" title="1948"&gt;1948&lt;/a&gt;, saat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Arab-Israel_1948" title="Perang Arab-Israel 1948"&gt;Perang Arab-Israel 1948&lt;/a&gt; meletus, Ibnu Saud mengikuti peperangan tersebut tetapi sumbangan Arab Saudi hanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Keluarga_dan_penerus"&gt;Keluarga dan penerus&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;Jumlah  anak Ibnu Saud tidak diketahui tetapi diperkirakan berjumlah 50 hingga  200 orang. Mereka terdiri dari: (nama yang menjadi Raja dihitamkan)&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Wadhba binti Muhammad al-Hazzam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saud_dari_Arab_Saudi" title="Saud dari Arab Saudi"&gt;Saud&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/12_Januari" title="12 Januari"&gt;12 Januari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1902" title="1902"&gt;1902&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/23_Februari" title="23 Februari"&gt;23 Februari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1969" title="1969"&gt;1969&lt;/a&gt;); menjadi &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja Arab Saudi&lt;/a&gt; pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1953" title="1953"&gt;1953&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1964" title="1964"&gt;1964&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Turki (1917-1919)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Tarfah binti Abdullah al-Shaykh Abdul-Wahab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Khalid (lahir 1903, meninggal dunia semasa masih bayi)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Faisal_dari_Arab_Saudi" title="Faisal dari Arab Saudi"&gt;Faisal&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; (April &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1904" title="1904"&gt;1904&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/25_Maret" title="25 Maret"&gt;25 Maret&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1975" title="1975"&gt;1975&lt;/a&gt;); menjadi &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja Arab Saudi&lt;/a&gt; pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1964" title="1964"&gt;1964&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1975" title="1975"&gt;1975&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Jauhara binti Musa'd Al Saud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Muhammad (1910-1988)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khalid_dari_Arab_Saudi" title="Khalid dari Arab Saudi"&gt;Khalid&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1913" title="1913"&gt;1913&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/13_Juni" title="13 Juni"&gt;13 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1982" title="1982"&gt;1982&lt;/a&gt;); menjadi &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja Arab Saudi&lt;/a&gt; pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1975" title="1975"&gt;1975&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1982" title="1982"&gt;1982&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jauhara&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anud (lahir 1917)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Bazza&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Nasser (lahir 1919)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bandar (lahir 1923)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fawwaz (lahir 1934)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Jauhara binti Sa'ad al-Sudairy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Saad (1920 - 1990-an)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Musaid (lahir 1923)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdalmohsen (1925-1985)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Hussah binti Ahmad al-Sudairy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sa'ad (lahir 1914, wafat 1919)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fahd_dari_Arab_Saudi" title="Fahd dari Arab Saudi"&gt;Fahd&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1923" title="1923"&gt;1923&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1_Agustus" title="1 Agustus"&gt;1 Agustus&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005" title="2005"&gt;2005&lt;/a&gt;); menjadi &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja Arab Saudi&lt;/a&gt; pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1982" title="1982"&gt;1982&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005" title="2005"&gt;2005&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_bin_Abdul_Aziz_al-Saud" title="Sultan bin Abdul Aziz al-Saud"&gt;Sultan&lt;/a&gt; (lahir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/5_Januari" title="5 Januari"&gt;5 Januari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1928" title="1928"&gt;1928&lt;/a&gt;); putra mahkota saat ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdul-Rahman (lahir 1931)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Turki (lahir 1932)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nayef (lahir 1934)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salman (lahir 1936)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ahmed (lahir 1940)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="goog_908712136"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_908712137"&gt;&lt;/span&gt;Dengan &lt;b&gt;Shahida&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mansur (1922 - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2_Mei" title="2 Mei"&gt;2 Mei&lt;/a&gt;, 1951)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mishal (lahir 1926)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Qumasha (lahir 1927)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muteb (lahir 1931)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Fahda binti Asi al-Shuraim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_dari_Arab_Saudi" title="Abdullah dari Arab Saudi"&gt;Abdullah&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; (lahir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agustus" title="Agustus"&gt;Agustus&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1924" title="1924"&gt;1924&lt;/a&gt;); &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Arab_Saudi" title="Raja Arab Saudi"&gt;Raja Arab Saudi&lt;/a&gt; sekarang, sejak &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005" title="2005"&gt;2005&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nuf&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sita&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Haya binti Sa'ad al-Sudairy&lt;/b&gt; (1913 - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/18_April" title="18 April"&gt;18 April&lt;/a&gt; 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Nura (mati 1930)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badr (lahir 1933)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hassa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdalillah (lahir 1935)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdalmajid (lahir 1940)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mashael&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Munaiyir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Talal (lahir 1931)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badr (1931-1932)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mishari (1932 - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/23_Mei" title="23 Mei"&gt;23 Mei&lt;/a&gt; 2000)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nawwaf (lahir 1933)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Mudhi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Majed (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/19_Oktober" title="19 Oktober"&gt;19 Oktober&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1938" title="1938"&gt;1938&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/12_April" title="12 April"&gt;12 April&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2003" title="2003"&gt;2003&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sattam (lahir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/21_Januari" title="21 Januari"&gt;21 Januari&lt;/a&gt; 1941)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Nouf binti al-Shalan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Thamir (1937 - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/27_Juni" title="27 Juni"&gt;27 Juni&lt;/a&gt; 1959)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mamduh (lahir 1940)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mashhur (lahir 1942)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Saida al-Yamaniyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hidhlul (lahir 1941)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Baraka al-Yamaniyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Muqren (lahir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/15_September" title="15 September"&gt;15 September&lt;/a&gt; 1945)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan &lt;b&gt;Futayma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hamud (lahir 1947)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan ?? (tidak diketahui)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Fahd (1905-1919)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sara (sekitar 1916 - Juni 2000)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Shaikha (lahir 1922)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Talal (1930-1931)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdalsalam (1941)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jiluwi (1942-1944)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-8967623469677064915?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/8967623469677064915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/abdul-aziz-bin-saud-raja-saudi-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8967623469677064915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8967623469677064915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/abdul-aziz-bin-saud-raja-saudi-pertama.html' title='ABDUL AZIZ BIN SAUD RAJA SAUDI PERTAMA (1880 - 1953)'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Tz69cpw4OO0/Tby-oHumf0I/AAAAAAAAA24/BNrIkjh2rhc/s72-c/king-abdulaziz_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5680496058023820504</id><published>2011-05-01T08:50:00.003+07:00</published><updated>2011-05-01T08:56:05.661+07:00</updated><title type='text'>IMAM MUHAMMAD BIN SAUD PENDIRI NEGARA SAUDI PERTAMA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-CLeWJCoO7fw/Tby9pkeiR7I/AAAAAAAAA2w/rV8A0v1wbqo/s1600/Saudi_Arabia.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 188px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-CLeWJCoO7fw/Tby9pkeiR7I/AAAAAAAAA2w/rV8A0v1wbqo/s200/Saudi_Arabia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601560558406092722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="long_text" id="result_box"&gt;&lt;span title=""&gt;"Imam"  Muhammad bin Saud (bahasa Arab: محمد بن سعود) (w. 1765) dianggap  sebagai kepala pertama dari House of Saud, yang secara teknis dinamai  ayahnya, Saud bin Muhammad bin Muqrin. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Dasar kekuatan awal kota Ad-Dar'iyah, di mana ia bertemu Muhammad bin Abd al-Wahhab, yang datang ke Saud untuk perlindungan. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Ibn  Saud diberikan ini, dan dua memutuskan untuk bekerja sama untuk  membersihkan Semenanjung Arab dari apa yang mereka lihat sebagai inovasi  (bidah) dalam praktik Islam dengan membawa agama kembali ke bentuk yang  paling murni. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Mereka membentuk aliansi, dan ini diresmikan oleh pernikahan putri Ibn Abd al-Wahhab Abdul Aziz, putra dan penerus Ibn Saud.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="long_text" id="result_box"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Menggunakan ideologi Ibn Al-Wahhab, Ibn Saud membantu mendirikan House of Saud di antara suku-suku lain di Semenanjung Arab. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Penggunaan agama sebagai dasar untuk legitimasi dibedakan House of Saud dari suku tetangga dan membangun dukungan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="long_text" id="result_box"&gt;&lt;span title=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Dengan demikian, Ibn Saud dianggap sebagai pendiri Negara Saudi Pertama. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Cara dia mengatur pemerintah menjabat sebagai model untuk penguasa House of Saud sampai hari ini. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Pemerintah didasarkan pada prinsip-prinsip Islam dan memanfaatkan syura. &lt;/span&gt;&lt;span title=""&gt;Ia memerintah dari 1744 sampai kematiannya pada tahun 1765.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5680496058023820504?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5680496058023820504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/imam-muhammad-bin-saud-pendiri-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5680496058023820504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5680496058023820504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/05/imam-muhammad-bin-saud-pendiri-negara.html' title='IMAM MUHAMMAD BIN SAUD PENDIRI NEGARA SAUDI PERTAMA'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-CLeWJCoO7fw/Tby9pkeiR7I/AAAAAAAAA2w/rV8A0v1wbqo/s72-c/Saudi_Arabia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-971881294232168811</id><published>2011-04-21T07:02:00.013+07:00</published><updated>2011-04-21T07:14:01.893+07:00</updated><title type='text'>MUSEUM KISWAH KA'BAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Kk52_xhRyXA/Ta92qFDJ_MI/AAAAAAAAA2c/cc1TGfi0dRc/s1600/16340_1192813743596_1325974543_30593098_6868147_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Kk52_xhRyXA/Ta92qFDJ_MI/AAAAAAAAA2c/cc1TGfi0dRc/s400/16340_1192813743596_1325974543_30593098_6868147_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597823327126813890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Museum Kiswah Ka'bah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Unq1zzRetps/Ta92gre9LvI/AAAAAAAAA2U/jDwr9bYMYxk/s1600/16340_1192821223783_1325974543_30593104_5340741_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Unq1zzRetps/Ta92gre9LvI/AAAAAAAAA2U/jDwr9bYMYxk/s400/16340_1192821223783_1325974543_30593104_5340741_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597823165645270770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tangga menuju Ka'bah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-coyiyiAMrKQ/Ta92S-dGMOI/AAAAAAAAA2M/TVqklRpriSc/s1600/16340_1192828143956_1325974543_30593109_1634925_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-coyiyiAMrKQ/Ta92S-dGMOI/AAAAAAAAA2M/TVqklRpriSc/s400/16340_1192828143956_1325974543_30593109_1634925_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597822930219577570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Alat Tenun Kiswah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vhCTcoS2Lj0/Ta92FxFjSqI/AAAAAAAAA2E/rKo62roNaLU/s1600/16340_1192828823973_1325974543_30593110_404764_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vhCTcoS2Lj0/Ta92FxFjSqI/AAAAAAAAA2E/rKo62roNaLU/s400/16340_1192828823973_1325974543_30593110_404764_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597822703292861090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pancuran Mas Ka'bah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8xu2b9Bj4hE/Ta9122RQJ4I/AAAAAAAAA18/r52F2enir7A/s1600/16340_1193106430913_1325974543_30593799_6180691_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8xu2b9Bj4hE/Ta9122RQJ4I/AAAAAAAAA18/r52F2enir7A/s400/16340_1193106430913_1325974543_30593799_6180691_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597822446986078082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mushaf Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-kdza7Sdy5Qg/Ta91mmp-C0I/AAAAAAAAA10/edC1uisKInA/s1600/16340_1192829783997_1325974543_30593112_2301242_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-kdza7Sdy5Qg/Ta91mmp-C0I/AAAAAAAAA10/edC1uisKInA/s400/16340_1192829783997_1325974543_30593112_2301242_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597822167916874562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Maqam Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-V3f2sCE3Y44/Ta91WjY3GeI/AAAAAAAAA1s/KqpA4pmHqz0/s1600/16340_1193104110855_1325974543_30593796_7622981_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-V3f2sCE3Y44/Ta91WjY3GeI/AAAAAAAAA1s/KqpA4pmHqz0/s400/16340_1193104110855_1325974543_30593796_7622981_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597821892161903074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pintu Ka'bah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fKDILZuFEo0/Ta907tqCoOI/AAAAAAAAA1c/hxytZMeJtz0/s1600/16340_1193105310885_1325974543_30593797_2441706_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fKDILZuFEo0/Ta907tqCoOI/AAAAAAAAA1c/hxytZMeJtz0/s400/16340_1193105310885_1325974543_30593797_2441706_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597821431061848290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pintu dan tiang Ka'bah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-r4A4tPf_YHM/Ta90vfkLi1I/AAAAAAAAA1U/bq6fRcHE-a0/s1600/16340_1193108590967_1325974543_30593804_1701197_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-r4A4tPf_YHM/Ta90vfkLi1I/AAAAAAAAA1U/bq6fRcHE-a0/s400/16340_1193108590967_1325974543_30593804_1701197_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597821221120740178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sumur Zamzam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-971881294232168811?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/971881294232168811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/04/museum-kiswah-kabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/971881294232168811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/971881294232168811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/04/museum-kiswah-kabah.html' title='MUSEUM KISWAH KA&apos;BAH'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Kk52_xhRyXA/Ta92qFDJ_MI/AAAAAAAAA2c/cc1TGfi0dRc/s72-c/16340_1192813743596_1325974543_30593098_6868147_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-1597843177394522404</id><published>2011-04-20T06:03:00.001+07:00</published><updated>2011-04-20T06:07:06.699+07:00</updated><title type='text'>KHUTBAH JUMAT PERTAMA RASULULLAH SAW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lDAVmqf9_Ek/Ta4Ve31Gx3I/AAAAAAAAA0g/WK2NReF4pYc/s1600/masjid-jumah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 196px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lDAVmqf9_Ek/Ta4Ve31Gx3I/AAAAAAAAA0g/WK2NReF4pYc/s320/masjid-jumah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597435006995056498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikisahkan dalam berbagai buku sejarah Rasulullah SAW, seperti Fikih Sirah, Sirah Nabawiyah, maupun Hayatu Muhammad karya Muhammad Husein Haykal, shalat Jumat pertama yang dilakukan Rasul SAW adalah di Wadi Ranuna, sekitar satu kilometer dari Masjid Quba, atau kurang lebih empat kilometer dari Madinah al-Munawwarah. Di sana kini berdiri sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dalam shalat Jumat itu diselenggarakan khutbah Jumat yang disampaikan Rasul SAW kepada kaum Muslim. Apa isi khutbah Rasul SAW pada saat itu? Hanafi al-Mahlawi dalam bukunya Al-Amakin al-Masyhurah Fi Hayati Muhammad (Tempat-tempat bersejarah yang dikunjungi Rasul SAW), isi khutbah itu adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Dia telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya dan pelajaran, setelah lama tidak ada rasul yang diutus, minimnyua ilmu, dan banyaknya kesesatan pada manusia di kala zaman menjelang akhir dan ajal kian dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk. Dan, barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyeru kepada ketakwaan kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah, baik di kala sendiri maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu tidak lain kecuali hanya mengharapkan rida Allah, maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar masanya menjadi lebih panjang. Allah memperingatkan kamu akan siksa-Nya. dan Allah Mahasayang kepada hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran [3]: 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Zat yang benar firman-Nya, melaksanakan janji-Nya, dan semua itu tidak pernah teringkari. Allah berfirman, “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS Qaf [50]: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan sekarang maupun yang akan datang, dalam kerahasiaan maupun terang-terangan. “Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS At-Thalaq [65]: 5). “Barang siapa bertakwa kepada Allah, sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab [33]: 71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah menghindarkan dari kemarahan, hukuman, dan murka-Nya. Takwa kepada Allah akan membuat wajah bersinar terang, membuat Allah rida, dan meninggikan derajat. Lakukanlah dengan sepenuh kemampuan kalian, dan jangan sampai kurang di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah mengajarkan kepada kalian dalam kitab-Nya dan membentangkan jalan-Nya, untuk mengetahui siapa yang benar dan untuk mengetahui siapa yang dusta. (QS Al-Ankabut [29]: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, berbuat baiklah, sebagaimana Dia berbuat baik kepada kalian, dan musuhilah musuh-musuh-Nya. Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih dan menamakan kalian sebagai Muslim. (QS Al-Hajj [22]: 78). Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata. (QS Al-Anfal [8]: 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada daya upaya, kecuali hanya dengan kekuatan Allah. Karenanya, perbanyaklah mengingat Allah, dan beramallah untuk kehidupan setelah mati. Sesungguhnya orang yang membangun hubungan baik dengan Allah, Allah pun akan membuat baik hubungan orang itu dengan manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah yang memberi ketetapan kepada manusia, sedang manusia tidak mampu memberi ketetapan kepada-Nya. Dia menguasai manusia, sedang manusia tidak bisa menguasai-Nya. Allah itu Maha Agung. Tiada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah isi khutbah Rasul SAW sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Thabari, Tafsir al-Qurthubi, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, dan Al-Bayan al-Muhammadi karya Dr Mustafa Asy-Sya’kah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Sya’kah menegaskan bahwa khutbah diatas merupakan khutbah Rasul SAW saat shalat Jumat pertama di Wadi Ranuna. Penjelasan ini juga diperkuat dengan keterangan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-1597843177394522404?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/1597843177394522404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/04/khutbah-jumat-pertama-rasulullah-saw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/1597843177394522404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/1597843177394522404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/04/khutbah-jumat-pertama-rasulullah-saw.html' title='KHUTBAH JUMAT PERTAMA RASULULLAH SAW'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lDAVmqf9_Ek/Ta4Ve31Gx3I/AAAAAAAAA0g/WK2NReF4pYc/s72-c/masjid-jumah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-9046215902047874878</id><published>2011-04-10T22:02:00.002+07:00</published><updated>2011-04-10T22:06:20.957+07:00</updated><title type='text'>KEISTIMEWAAN SPIRITUAL MASJID QUBA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-uiirAsYwQPQ/TaHHXrPYMrI/AAAAAAAAA0Y/VU4HX8vHBhI/s1600/mosque_quba1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uiirAsYwQPQ/TaHHXrPYMrI/AAAAAAAAA0Y/VU4HX8vHBhI/s320/mosque_quba1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593971421729010354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona kota Madinah memang tidak pernah pudar. Di kota yang kerap menjadi percontohan banyak negara itu terdapat berbagai peninggalan sejarah penyebaran dan perkembangan Islam, tak terkecuali masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Masjid Nabawi, yang ramai dikunjungi, masih ada masjid-masjid bersejarah lainnya yang tidak kalah menarik. Salah satunya Masjid Quba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid yang dinamakan berdasarkan letaknya ini adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Baginda Rasulullah SAW, di atas sebidang tanah milik keluarga Kalsum bin Hadam dari Kabilah Amir bin Auf yang diwakafkannya kepada beliau setiba di Quba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Quba merupakan sebuah kawasan pinggiran Yatsrib dan terletak sekitar tiga kilometer di selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sendiri yang mendesain masjid itu. Bahkan beliau ikut bekerja, tidak segan-segan mengangkat bahan material bangunan, sehingga tampak letih yang teramat sangat pada wajahnya yang mulia. Nabi Muhammad SAW menunjukkan suri teladan yang begitu mulia, yang tak hanya pandai menyuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW juga orang pertama yang meletakkan batu di mihrab masjid tersebut menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, kiblat pertama umat Islam, kemudian disusul berturut-turut oleh Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Siapakah yang menduga, ternyata proses peletakan batu kiblat ini kemudian paralel dengan sejarah pengangkatan Khulafaur Rasyidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rampung, di masjid inilah untuk kali pertama shalat berjama’ah dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba kala itu dijadikan sebagai masjid percontohan masjid-masjid yang didirikan kemudian hari. Bangunan bersahaja itu memenuhi syarat-syarat standar pendirian masjid. Terdapat suatu ruang persegi empat untuk shalat dan sebuah serambi. Ruangan itu bertiang pohon kurma dan beratap datar dari pelepah daun kurma bercampurkan tanah liat, yang melindungi jama’ah dari buruknya cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah masjid terdapat ruang terbuka yang biasa disebut sahn. Dan di sahn itulah ada sebuah sumur tempat mengambil air wudhu. Kebersihan area masjid itu begitu terjaga dan cahaya matahari serta udara dapat masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika peralihan arah kiblat umat Islam menghadap ke Masjidil Haram, masjid itu tentu mengalami rekonstruksi. Arah kiblat, yang semula menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, diputar balik menghadap ke arah Baitullah di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, masjid itu, yang kerap dikunjungi oleh Baginda Rasulullah SAW tiap hari Sabtu bila beliau bertugas di luar Madinah, diperbaiki karena rusak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, masjid yang terletak sekitar lima kilometer di sebelah tenggara kota Madinah ini telah mengalami perbaikan dan perluasan berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan fisiknya mengalami banyak perkembangan. Salah satunya, keempat menara setinggi 47 meter yang mengelilingi masjid berwarna putih bersih. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara pada masjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksi kembali terjadi pada masa Sultan Al-Asyraf Saif Al-Din Qait-Bey dari Dinasti Mamluk. Masjid tersebut dilengkapi dengan sebuah mimbar baru dari pualam. Mimbar itu kemudian diganti dengan mimbar yang terkenal dengan sebutan “Mimbar Masjid Raya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada masa kepemimpinan Raja Fahd ibn Abdul Aziz tahun 1986, Masjid Quba kembali direnovasi dan diperluas, menelan biaya  90 juta riyal (Rp.90.000.000.000,-). Hingga saat ini, inilah renovasi terbesar masjid tersebut, tapi tetap mempertahankan bentuk arsitektur tradisionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi selatan masjid dibuat galeri terbuka dengan deretan tiang. Sedangkan di sisi sebelah utara terdapat dua serambi bertiang. Di sebelah timur dan barat terdapat tempat terbuka dengan dinding tembok berbeton. Pada bagian atasnya berjejer sebanyak enam kubah besar, masing-masing berdiameter 12 meter, serta 56 kubah kecil yang masing-masing berdiameter enam meter. Kubah-kubah tersebut ditopang oleh pilar-pilar beton yang sangat kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara lantai halaman, yang terbuka, dilapisi marmer yang anti panas. Di bagian ini terdapat atap yang dapat bergerak, terbuka dan tertutup otomatis, serta terpal yang sangat kokoh, yang melindungi lantai atau jama’ah dari sengatan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid ini memiliki 19 pintu, terdiri dari tiga pintu utama. Tiga pintu utama, yang berdaun pintu besar, diperuntukkan bagi para jama’ah yang ingin memasuki masjid mulia itu. Dua pintu diperuntukkan bagi jama’ah laki-laki, sedangkan satu pintu bagi jama’ah perempuan. Berbagai petunjuk dan informasi khusus ditempatkan pada dinding luar masjid dan di dinding pintu. Di seberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar-mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakarang yang bertanggung jawab atas renovasi masjid ini adalah keluarga Saud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks masjid ini memiliki luas 135.000 meter persegi. Sementara ruang shalat utama seluas 5.035 meter persegi, yang bisa menampung hingga 20.000 jama’ah. Masjid ini, sebelum diperluas, pada zaman Rasulullah, hanya memiliki luas 1.200 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kompleks masjid ini terdapat kantor, pertokoan, dan ruang tamu. Kompleks masjid juga dilengkapi dengan tempat tinggal imam dan muadzin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas Dasar Taqwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keistimewaan-keistimewaan bangunan fisik tersebut, Masjid Quba juga memiliki keistimewaan spiritual khusus dari Allah SWT. Yakni, masjid ini disebut Masjid Taqwa, seperti termaktub dalam Al-Quran surah At-Tawbah ayat 108, yang artinya “Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah SWT menyukai orang-orang yang bersih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ulama tafsir, umat Islam tidak diperkenankan bersikap egois dalam meraih kemulian. Shalat berlama-lama, bahkan hingga tinggal di dalam masjid tersebut, sementara yang lainnya tidak bisa memasukinya, sangat dibenci Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid itu dibangaun berdasarkan ketaqwaan kepada Allah, maka sejatinya umat Islam pun bisa beribadah di dalamnya dengan penuh taqwa kepada-Nya. Semoga....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-9046215902047874878?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/9046215902047874878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/04/keistimewaan-spiritual-masjid-quba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/9046215902047874878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/9046215902047874878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/04/keistimewaan-spiritual-masjid-quba.html' title='KEISTIMEWAAN SPIRITUAL MASJID QUBA'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uiirAsYwQPQ/TaHHXrPYMrI/AAAAAAAAA0Y/VU4HX8vHBhI/s72-c/mosque_quba1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-2579267809959644569</id><published>2011-03-30T21:31:00.006+07:00</published><updated>2011-03-31T05:13:29.957+07:00</updated><title type='text'>KEISTIMEWAAN DAN RAHASIA DI BALIK AIR ZAMZAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-RY54CRHu0cU/TZOjvIlkU_I/AAAAAAAAAz8/hw3RztwB8Kk/s1600/Ak-03.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-RY54CRHu0cU/TZOjvIlkU_I/AAAAAAAAAz8/hw3RztwB8Kk/s400/Ak-03.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589991592651150322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : H. AKBAR - Ketua BIH Arrafiiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang tahu bagaimana caranya sumur zamzam bisa   mengeluarkan puluhan juta liter pada satu musim haji, tanpa pernah   kering satu kali pun. Seorang peneliti pernah diperintahkan raja Faisal   menyelidiki sumur zamzam untuk menjawab tuduhan kotor seorang doktor   dari Mesir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Mekah kita tak perlu khawatir dengan air  minum. Di setiap sudut Masjidil Haram kita bisa menemukan air zamzam,  lengkap dengan cangkir  sekali pakainya. Tinggal pijit, langsung bisa  diminum, dan gratis lagi.  Di area Masjidil Haram, di tempat tawaf,  tempat sa’i, di halaman masjid  selalu tersedia air yang berkhasiat ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika  pulang dari Masjidi Hharam, banyak jamaah mengisi dulu botol  airnya  dengan zamzam lalu ditenteng ke pemondokan. Lumayan, menghemat  uang  Real, tak perlu belanja air mineral atau memasak air di dapur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Berapa Juta Liter air zamzam?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berapa  banyak air zamzam yang di “kuras” setiap musim haji? Mari kita  hitung  secara sederhana. Jamaah haji yang berdatangan dari seluruh  penjuru  dunia pada setiap musim haji dewasa ini berjumlah sekitar dua  juta  orang. Semua jemaah diberi 5 liter air zamzam ketika pulang nanti  ke  tanah airnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau 2 juta orang membawa pulang  masing-masing 5 liter zamzam ke  negaranya, itu saja sudah 10 juta  liter. Disamping itu selama di Mekah,  kalau saja jamaah rata-rata  tinggal 25 hari, dan setiap orang  menghabiskan 1 liter sehari, maka  totalnya sudah 50 juta liter !!. Ini  hanya gambaran saja, betapa luar  biasanya air zamzam ini dikonsumsi  manusia, tanpa pernah kering!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itulah  salah satu keanehannya. Puluhan juta liter air bisa keluar dari  sumur  di Mekah ini yang letaknya di tengah padang pasir yang kering.  Daerah  gurun yang hujannya saja cuma 2 kali setahun. Dan air itu keluar  dari  sumur air yang hanya seukuran sekitar 5 x 4 meter sedalam 40an  meter,  bukan dari bendungan seukuran Waduk Ombo misalnya. Allahu akbar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keanehan air Zamzam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada  tahun 1971, seorang doktor dari negeri Mesir mengatakan kepada  Press  Eropa bahwa air Zamzam itu tidak sehat untuk diminum. Asumsinya   didasarkan bahwa kota Mekah itu ada di bawah garis permukaan laut. Air   Zamzam itu berasal dari air sisa buangan penduduk kota Mekah yang   meresap, kemudian mengendap terbawa bersama-sama air hujan dan keluar   dari sumur Zamzam. Masya Allah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu saja ini merupakan  prasangka buruk yang merugikan dunia Islam.  Berita ini sampai ke  telinga Raja Faisal yang amat marah mendengarnya.  Beliau lalu  memerintahkan Mentri Pertanian dan Sumber Air untuk  menyelidiki masalah  ini, dan mengirimkan sampel air Zamzam ke  Laboratorium-laboratorium di  Eropa untuk ditest.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tariq Hussain, insinyur kimia yang  bekerja di Instalasi Pemurnian Air  Laut untuk diminum, di Kota Jedah,  mendapat tugas menyelidikinya. Pada  saat memulai tugasnya, Tariq belum  punya gambaran, bagaimana sumur  Zamzam bisa menyimpan air yang begitu  banyak seperti tak ada batasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;p&gt;Hanya Sumur kecil&lt;/p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika  sampai di dalam sumur, Tariq amat tercengang ketika menyaksikan  bahwa  ukuran “kolam” sumur itu hanya 18 x 14 feet saja (Kira-kira 5 x 4   meter). Tak terbayang, bagaimana caranya sumur sekecil ini bisa   mengeluarkan jutaan galon air setiap musim hajinya. Dan itu berlangsung   sejak ribuan tahun yang lalu, sejak zaman Nabi Ibrahim AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tariq  mulai mengukur kedalaman air sumur. Dia minta asistennya masuk ke   dalam air. Ternyata air sumur itu hanya mencapai sedikit di atas bahu   pembantunya yang tinggi tubuhnya 5 feet 8 inci. Lalu dia menyuruh   asistennya untuk memeriksa, apakah mungkin ada cerukan atau saluran pipa   di dalamnya. Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya,   ternyata tak ditemukan apapun!.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia berpikir, mungkin saja  air sumur ini disupplai dari luar melalui  saluran pompa berkekuatan  besar. Bila seperti itu kejadiannya, maka  dia bisa melihat  turun-naiknya permukaan air secara tiba-tiba. Tetapi  dugaan inipun tak  terbukti. Tak ditemukan gerakan air yang mencurigakan,  juga tak  ditemukan ada alat yang bisa mendatangkan air dalam jumlah  besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya  dia minta asistennya masuk lagi ke dalam sumur. Lalu  menyuruh berdiri,  dan diam ditempat sambil mengamati sekelilingnya.  Perhatikan dengan  sangat cermat, dan laporkan apa yang terjadi, sekecil  apapun. Setelah  melakukan proses ini dengan cermat, asistennya tiba-tiba  mengacungkan  kedua tanganya sambil berteriak: “Alhamdulillah, saya  temukan dia!  Pasir halus menari-nari di bawah telapak kakiku. Dan air  itu keluar  dari dasar sumur”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu asistennya diminta berputar  mengelilingi sumur ketika tiba saat  pemompaan air (untuk dialirkan ke  tempat pendistribusian air)  berlangsung. Dia merasakan bahwa air yang  keluar dari dasar sumur sama  besarnya seperti sebelum periode  pemompaan. Dan aliran air yang keluar,  besarnya sama di setiap titik,  di semua area. Ini menyebabkan permukaan  sumur itu relatif stabil, tak  ada guncangan yang besar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seusai pengamatan itu, Tariq  mengirimkan sampel air ke beberapa  laboratorium di Eropa dan sebagian  ke laboratorium di Saudi. Dan  sebelum meninggalkan Ka’bah, dia berpesan  kepada petugas di Mekah untuk  menyelidiki keadaan sumur lainnya di  sekitar Ka’bah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesampainya di kantornya di Jedah, dia  mendapat laporan bahwa  sumur-sumur lain di sekitar Mekah dalam keadaan  kering. Jadi hanya sumur  Zamzam yang penuh air. Allahu Akbar. Jika  Allah menghendaki, apapun  bisa terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mengandung Zat Anti Kuman&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil  penelitian sampel air di Eropa dan Saudi Arabia menunjukkan bahwa   Zamzam mengandung zat fluorida yang punya daya efektif membunuh kuman,   layaknya seperti sudah mengandung obat. Lalu perbedaan air Zamzam   dibandingkan dengan air sumur lain di kota Mekah dan Arab sekitarnya   adalah dalam hal kuantitas kalsium dan garam magnesium. Kandungan kedua   mineral itu sedikit lebih banyak pada air zamzam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu  mungkin sebabnya air zamzam membuat efek menyegarkan bagi jamaah  yang  kelelahan. Tambahan lagi, hasil laboratorium Eropa menunjukkan  bahwa  zamzam layak untuk diminum, sehat untuk diminum. Ini otomatis  menjawab  prasangka buruk doktor dari Mesir tadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keistimewaan lain,  komposisi dan rasa kandungan garamnya selalu stabil,  selalu sama dari  sejak terbentuknya sumur ini. “Rasanya” selalu terjaga,  diakui oleh  semua jemaah haji dan umrah yang selalu datang tiap tahun.  Tak pernah  ada yang complain. Dan air zamzam ini tak pernah dicampur  bahan kimia  apapun seperti layaknya air PAM kita. Murni air sehat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Satu  kehebatan lagi, sumur air zamzam tak pernah ditumbuhi lumut,  padahal  di seluruh dunia sumur itu selalu ditumbuhi lumut dan tumbuhan   mikroorganisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bisa Menyembuhkan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diriwayatkan  dalam Sahih Muslim, Nabi bertanya kepada Abu Dzarr, yang  telah tinggal  selama 30 hari siang malam di sekitar Ka’bah tanpa  makan-minum, selain  zamzam. “Siapa yang telah memberimu makan?”. “Saya  tidak punya apa-apa  kecuali air zamzam ini, tapi saya bisa gemuk dengan  adanya gumpalan  lemak di perutku” Abu Dzarr menjelaskan, “Saya juga  tidak merasa lelah  atau lemah karena lapar, dan tak menjadi kurus”.  Tambah Abu Dzarr. Lalu  Nabi saw menjelaskan: ”Sesungguhnya, zamzam ini  air yang sangat  diberkahi, ia adalah makanan yang mengandung gizi”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nabi  SAW menambahkan: “Air zamzam bermanfaat untuk apa saja yang  diniatkan  ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh  dari  penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan  maksud  supaya merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika  engkau  meminumnya agar hilang rasa hausmu, maka Allah akan menghilangkan   dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah   untuk Ismail”. (HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasulullah  SAW pernah mengambil air zamzam dalam sebuah kendi dan tempat  air dari  kulit, kemudian membawanya kembali ke Madinah. Air zamzam itu   digunakan Rasulullah SAW untuk memerciki orang sakit dan kemudian   disuruh meminumnya. Itu sebabnya saat ini banyak jamaah yang membawa air   zamzam untuk diberikan kepada famili dan kerabatnya di tanah air.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yusria  Abdel-Rahman Haraz dari negeri Arab, mengatakan bahwa ia  terserang  penyakit “bisul” di matanya. Sakitnya bukan main, tak bisa  disembuhkan  dengan obat. Dia hampir mendekati buta. Seorang dokter  terkenal  menasehati dia untuk diinjeksi dengan obat khusus, yang mungkin  bisa  menyembuhkan sakitnya. Tapi ternyata ada efek sampingannnya yang  bisa  membuat dia buta selamanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yusria sangat yakin akan  kemurahan Allah. Dia lalu pergi melaksanakan  umrah dan memohon kepada  Allah menyembuhkan penyakitnya. Di Baitullah  dia melakukan tawaf, yang  saat itu tak terlalu padat dengan manusia. Dia  lalu bisa tinggal lebih  lama di lokasi air zamzam. Dia manfaatkan untuk  terus membasuh kedua  matanya yang sakit. Ketika dia kembali ke hotel,  aneh, kedua matanya  yang sakit menjadi sembuh, dan bisulnya berangsur  hilang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kejadian  ini membuktikan ucapan Rasulullah SAW di atas:” Air zamzam  bermanfaat  untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau  minum  dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah  menyembuhkannya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-2579267809959644569?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/2579267809959644569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/03/keistimewaan-dan-rahasia-di-balik-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/2579267809959644569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/2579267809959644569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/03/keistimewaan-dan-rahasia-di-balik-air.html' title='KEISTIMEWAAN DAN RAHASIA DI BALIK AIR ZAMZAM'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-RY54CRHu0cU/TZOjvIlkU_I/AAAAAAAAAz8/hw3RztwB8Kk/s72-c/Ak-03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-7443338638604929994</id><published>2011-03-10T05:44:00.001+07:00</published><updated>2011-03-10T05:48:59.912+07:00</updated><title type='text'>TATACARA IHRAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-33hwPp8dbhE/TXgDhWAyJ7I/AAAAAAAAAzs/--Uzi6oH8FY/s1600/Ak-37.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 171px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-33hwPp8dbhE/TXgDhWAyJ7I/AAAAAAAAAzs/--Uzi6oH8FY/s200/Ak-37.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582215609505163186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. AKBAR&lt;br /&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;br /&gt;Ciomas Bogor&lt;br /&gt;HP  08159244764&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;PENGERTIAN IHRAM&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Kata ihram diambil dari bahasa arab  dari kata  "Al-haram" yg bermakna terlarang / tercegah. Dinamakan ihram karena  seseorang yg masuk kepada kehormatan ibadah haji dg niatnya  dia  dilarang berkata &amp;amp; beramal dg hal-hal tertentu  seperti jima'   menikah  berucap ucapan kotor  &amp;amp; lain-sebagainya. Dari sini dapat  diambil satu definisi syar'i bahwa ihram adalah salah satu niat dari dua  nusuk (yaitu haji &amp;amp; umrah) / kedua-duanya secara bersamaan .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdasarkan ini  jelaslah kesalahan pemahaman sebagian kaum muslimin  bahwa ihram adalah berpakaian dg kain ihram  karena ihram adalah niat  masuk ke dalam haji / umrah  sedangkan berpakaian dg kain ihram hanya  merupakan satu keharusan bagi seorang yg telah berihram.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;TATA CARA IHRAM&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Telah diketahui bersama bahwa seorang yg berniat  melakukan haji / umrah  diharuskan mencontoh Rasulullah Shallallahu  'alaihi wa sallam dalam melaksanakan hal tersebut  sebagaimana  dijelaskan oleh hadits-hadits yg shohih  sebagai pengamalan darihadits  Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ambillah dariku manasik kalian".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Disunnahkan utk mandi sebelum ihram bagi laki-laki &amp;amp; perempuan   baik dalam keadaan suci / haidh  sebagaimana yg diriwayatkan oleh  Jabir Radhiyallahu 'anhu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;فَخَرَجْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَيْنَا ذَاالْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ  أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِيْ بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ  إِلَى رَسُوْلِ اللهِ كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ: اغْتَسِلِيْ  وَاسْتَثْفِرِِيْ بِثَوْبٍ وَ احْرِمِيْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Lalu kami keluar bersama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu  tatkala sampai di Dzul Hulaifah  Asma binti  Umais melahirkan Muhammad  bin Abi Bakr  lalu ia (Asma) mengutus (seseorang utk bertemu) kepada  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (dan berkata):  Apa yg aku  kerjakan? Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:  Mandilah  &amp;amp; beristitsfarlah kemudian ihram." (Riwayat Muslim (2941) 8/404  Abu  Daud no.1905  1909 &amp;amp; Ibnu Majah no.3074)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila tdk mendapatkan air maka tdk perlu bertayammum  karena Allah  Subhanahu wa Ta'alal menyebutkan tayamum dalam bersuci dari hadats  sebagaimana firmanNya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ  فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا  بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا  فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدُُ  مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا  مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hai orang-orang yg beriman  apabila kamu hendak mengerjakan shalat   maka basuhlah mukamu &amp;amp; tanganmu sampai dg siku  &amp;amp; sapulah  kepalamu &amp;amp; (basuh) kakimu sampai dg kedua mata kaki  &amp;amp; jika kamu  junub maka mandilah  &amp;amp; jika kamu sakit / dalam perjalanan / kembali  dari tempat buang air (kakus) / menyentuh perempuan  lalu kamu tdk  memperoleh air  maka bertayamumlah dg tanah yg baik (bersih); " (Al  Maidah:6)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka hal ini tdk bisa dianalogikan (dikiaskan) kepada yg lainnya   juga tdk ada contoh / perintah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  utk bertayammum  apalagi kalau mandi ihram tersebut bertujuan utk  kebersihan. Memang perintah mandi tersebut adalah utk kebersihan  dg  dalil perintah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Asma bintu  Umais yg sedang haidh utk mandi sebagaimana dalam hadits diatas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Disunnahkan memakai minyak wangi ketika ihram  sebagaimana dikatakan oleh 'Aisyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كُنْتُ أُطَيِّبُ النَّبِيَّ لإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ وَلِحِلِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوْفَ بِاْلبَيْتِ.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku memakaikan wangi-wangian kepada nabi utk ihramnya sebelum  berihram &amp;amp; ketika halalnya sebelum thawaf di Ka'bah" (HR. Bukhary  no.1539 &amp;amp; Muslim no. 1189).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan hal itu hanya diperbolehkan pd anggota badan  bukan pd pakaian  ihram  karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لاَ تَلْبِسُوْا ثَوْبًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَ لاَ الْوَرْسُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Janganlah kalian memakai pakaian yg terkena minyak wangi za'faran &amp;amp; wars." (Muttafaqun alaih).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau kita meninjau permasalahan memakai minyak wangi pd ihrom maka terdapat dua keadaan:&lt;br /&gt;1. Memakainya sebelum mandi &amp;amp; berihram  ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;2.  Memakainya setelah mandi &amp;amp; sebelum ihram  &amp;amp; minyak wangi  tersebut tdk hilang sampai setelah melakukan ihram. Ini dibolehkan oleh  para ulama kecuali Imam Malik &amp;amp; orang-orang yg sependapat dg  pendapatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalil dibolehkannya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبُ  بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيْصَ الدَّهْنِ فِيْ رَأْسِهِ وَ  لِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ رواه مسلم&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kalau ingin berihram  memakai wangi- wangian yg paling wangi yg beliau dapatkan kemudian aku  melihat kilatan minyak di kepalanya &amp;amp; jenggotnya setelah  itu".(HR.Muslim no.2830 ).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Aisyah berkata pula:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى وَبِيْصَ اْلمِسْكِ فِيْ مَفْرَقِ رَسُوْلِ اللهِ وَ هُوَ مُحْرِمٌ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Seakan akan aku melihat kilatan misk (minyak wangi misk) di bagian  kepala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sedangkan beliau dalam  keadaan ihram ". (HR. Muslim no. 2831 &amp;amp; Bukhari no. 5923).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya tentang dua permasalahan seputar pemakaian minyak wangi dalam ihram yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Apabila seseorang memakai wangi-wangian di badannya yaitu di  kepala &amp;amp; jenggotnya  lalu minyak wangi tersebut menetes / meleleh ke  bawah  apakah hal ini berpengaruh / tidak?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawab.&lt;br /&gt;Tidak berpengaruh  karena perpindahan minyak wangi tersebut  dg sendirinya &amp;amp; tdk dipindahkan  &amp;amp; juga karena tampak pd Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam &amp;amp; sahabatnya tdk menghiraukan kalau  minyak wangi tersebut menetes karena mereka memakainya pd keadaan yg  dibolehkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Kemudian jika seorang yg berihram (muhrim) akan berwudhu &amp;amp; dia  telah mamakai minyak rambut yg wangi  maka tentu akan mengusap  kepalanya dg kedua telapak tangannya  jika dia lakukan maka akan  menempellah minyak tersebut pd kedua telapak tangannya walaupun hanya  sedikit  maka apakah perlu memakai kaos tangan ketika akan mengusap  kepala tersebut?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jawab.&lt;br /&gt;Tidak perlu  bahkan hal itu berlebih-lebihan dalam agama  &amp;amp; tdk ada dalilnya  demikian juga tdk perlu mengusap kepalanya dg  kayu / kulit  cukup dia mengusapnya dg telapak tangannya karena ini  termasuk yg dimaafkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Mengenakan dua helai kain putih yg dijadikan sebagai sarung &amp;amp;  selendang  sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لِيُحْرِمْ أَحَدُكُمْ فِىْ إِزَارٍ وَ رِدَاءٍ وَ نَعْلَيْنِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dg menggunakan sarung  &amp;amp; selendang serta sepasang sandal." (HR. Ahmad 2/34 &amp;amp;  dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diutamakan yg berwarna putih berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;خَيْرُ ثِيَابِكُمُ اْلبَيَاضِ فَالْبَسُوْهَا وَكَفِّنُوْا فِبْهَا مَوْتَكُمْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sebaik-baik pakaian kalian adalah yg putih  maka kenakanlah &amp;amp;  kafanilah mayat kalian padanya" (HR. Ahmad  lihat Syarah Ahmad Syakir  4/2219  dia berkata: isnadnya shahih)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Manasik (hal. 21): "Disunnahkan  berihram dg dua kain yg bersih  jika keduanya berwarna putih maka itu  lebih utama. Dan dibolehkan ihram dg segala jenis kain yg di mubahkan  dari katun shuf (bulu domba) &amp;amp; lain sebagainya. Juga dibolehkan  berihram dg kain warna putih &amp;amp; warna-warna yg diperbolehkan yg tdk  putih  walaupun berwarna-warni".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan bagi wanita tetap memakai pakaian wanita yg menutup semua auratnya  kecuali wajah &amp;amp; telapak tangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Disunahkan berihram setelah shalat  sebagaimana dalam hadits Ibnu  Umar dalam shahih Bukhary bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;أَتَانِيْ الَّليْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّيْ فَقَالَ: صَلِّ فَىْ هَذَا الْوَادِىْ الْمُبَارَكِ وَقُلْ عُمْرَةً فِىْ حَجَّةٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tadi malam utusan dari Rabbku telah datang lalu berkata: "Shalatlah  di Wadi (lembah) yg diberkahi ini &amp;amp; katakan:  Umrotan fi hajjatin."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan hadits Jabir:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;فَصَلَّىْ رَسُوْلُ اللهِ فِيْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ  حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتَهُ عَلَىْ الْبَيْدَاءِ أَهَلَّ  بِالْحَجِّ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat di masjid  (Dzulhulaifah) kemudian menunggangi Al-Qaswa' (nama onta beliau) sampai  ketika ontanya berdiri di al-Baida'   beliau berihram utk haji".  (HR.Muslim).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka yg sesuai dg Sunnah  lebih utama &amp;amp; sempurna adalah berihram  setelah shalat fardhu  akan tetapi apabila tdk mendapatkan waktu shalat  fardhu maka terdapat dua pendapat dari para ulama:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat Pertama: Tetap disunnahkan shalat dua rakaat &amp;amp; ini pendapat jumhur berdalil dg keumuman hadits Ibnu Umar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;صَلِّ فَىْ هَذَا الْوَادِىْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(shalatlah di Wadi ini)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat Kedua: Tidak disyariatkan shalat dua rakaat  ini pendapat  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sebagaimana beliau katakan dalam Majmu'  Fatawa 26/108: "Disunnahkan berihram setelah shalat  baik fardhu maupun  tathawu' (sunnah) kalau ia berada pd waktu (shalat) tathawu' (sunnah)  menurut salah satu dari dua pendapat. Pada pendapat yg lain: kalau dia  shalat fardhu maka berihram setelahnya  &amp;amp; jika tdk maka tdk ada  shalat yg khusus bagi ihram &amp;amp; ini yg rajih."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan beliau berkata di dalam Ikhtiyarat hal. 116:  Dan berihram  setelah shalat fardhu  kalau ada  / (setelah shalat) sunnah (nafilah)   karena ihram tdk memiliki shalat yg khusus. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Berniat utk melaksanakan salah satu dari tiga manasik  &amp;amp; niat  tersebut disunnahkan utk diucapkan. Yaitu dg memilih salah satu dari  bentuk ibadah haji: ifrad  qiran &amp;amp; tamatu' sebagaimana yg dikatakan  Aisyah Radhiyallahu 'anha.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَمِنَّا مَنْ  أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ وَ مِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَ عُمْرَةٍ وَ مِنَّا  مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَ أَهَلَّ رَسُوْلُ اللهِ بِحَجٍّ فَأَمَّا مَنْ  أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ فَحَلَّ عَنْهُ بَعْدَ قُدُوْمِهِ وَ أَمَّا مَنْ  أَهَلَّ بِحَجٍّ أَوْ جَمَعََ بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَلَمْ  يَحِلُّوْا حَتَّى كَانَ يَوْمَ النَّحَرِ (متفق عليه)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pd  tahun haji wada' maka ada diantara kami yg berihram dg umrah &amp;amp; ada  yg berihram dg haji &amp;amp; umrah &amp;amp; ada yg berihram dg haji saja   sedangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berihram dg haji saja   adapun yg berihram dg umrah maka dia halal setelah datangnya &amp;amp; yg  berihram dg haji / yg menyempurnakan haji &amp;amp; umrah tdk halal (lepas  dari ihramnya) sampai dia berada dihari nahar . (Mutafaq alaih)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang yg manasik ifrad mengatakan:&lt;br /&gt;لَبَيْكَ حَجًَّا / لَبَيْكَ الَّلهُمَّ حَجًّا&lt;br /&gt;dan seorang yg manasik tamatu' mengatakan:&lt;br /&gt;لَبَيْكَ عُمْرَةً / لَبَيْكَ الَّلهُمَّ عُمْرَةً&lt;br /&gt;dan ketika hari tarwiyah (8 Dzulhijah) menyatakan:&lt;br /&gt;لَبَيْكَ حَجًّا / لَبَيْكَ الَّلهُمَّ حَجًّا&lt;br /&gt;dan sunnah yg manasik Qiran menyatakan:&lt;br /&gt;لَبَيْكَ عُمْرَةً و حَجًّا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. Talbiyah yaitu membaca:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَبَّيْكَ الَّلهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ  إِنَّ الْحَمْدَ وَنِعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syariika laka labbaik Innal  hamda wani'mata laka wal mulk laa syariikaa laka &amp;amp; yg sejenisnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.1. Waktu Talbiyah&lt;br /&gt;Waktu talbiyah dimulai setelah berihram ketika  akan melakukan perjalanan  sebagaimana yg dilakukan oleh Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hajinya  berkata Jabir Radhiyallahu  'anhu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتَهُ عَلَىْ الْبَيْدَاءِ أَهَلَّ  بِالْحَجِّ فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيْدِ لَبَّيْكَ اللهم لَبَّيْكَ ……&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai membaca talbiyah  ketika telah tegak ontanya di al-Baida beliau ihlal (ihram) dg haji lalu  bertalbiyah dg tauhid  labbaika allahumma labaik ……" (HR Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.2. Bacaan Talbiyah&lt;br /&gt;Adapun bacaan talbiyah yg ma'tsur dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah:&lt;br /&gt;a.&lt;br /&gt;لَبَّيْكَ  الَّلهُمَّ لَبَّيْكَ  لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ  الْحَمْدَ وَنِعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ&lt;br /&gt;b.&lt;br /&gt;لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَ سَعْدَيْكَ وَ الْخَيْرُ بِيَدِكَ وَ الرُّغَبَاءُ إِلَيْكَ وَ الْعَمَلُ (متفق عليه من تلبية ابن عمر&lt;br /&gt;c.&lt;br /&gt;لَبَّيْكَ الَّلهُمَّ لَبَّيْكَ   لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَنِعْمَةَ لَكَ (عن عائشة رواه البخارى&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. Talbiyah yg nomor "a" ditambah kalimat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;لَبَّيْكَ ذَا الْمَعَارِجِ لَبَّيْكَ ذَا اْلفَوَاضِلِ (حديث جابر رواه مسلم)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.3. Sebab &amp;amp; maknanya&lt;br /&gt;Sebab disyariatkannya talbiyah adalah  dalam rangka menjawab panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana  dalam al-Qur'an surah al-Hajj ayat 27.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;وَأِذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Dan berserulah kepada manusia utk mengerjakan haji  niscaya mereka  akan datang kepadamu dg berjalan kaki  &amp;amp; mengendarai unta yg kurus  yg datang dari segenap penjuru yg jauh." (al-Hajj 22:27)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata dalam menafsirkan: "Ketika  Allah Azza wa Jalla memerintahkan Ibrahim Alaihissallam utk  mengkhabarkan manusia agar berhajji  dia berkata:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;يَا أَيُّهَا النَّاِس إِنَّ رَبَّكُمْ اتَّخَذَ بَيْتًا وَ أَمَرَكُمْ  أَنْ تَحُجُّوْهُ فَاسْتَجَابَ لَهُ مَا سَمِعَهُ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ  أَوْ أَكْمَةٍ أَوْ تُرَابٍ أَوْ شَيْئٍ قَالَوْا لَبَّيْكَ الَّلهُمَّ  لَبَّيْكَ (رواه ابن جرير 17106)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Wahai manusia sesungguhnya Rabb kalian telah membangun satu rumah  (ka'bah) &amp;amp; memerintahkan kalian utk berhaji kepadanya. Lalu apa saja  yg mendengarnya  baik batu-batuan  pepohonan  bukit-bukit  debu / apa  saja yg ada  menerima panggilan beliau ini lalu mereka berkata لَبَيْكَ  الَّلهُمَّ لَبَيْكَ …… (H.R Ibnu Jarir 17/106)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Hajar berkata: " Ibnu Abdil Barr berkata bahwa sejumlah dari  Ulama menyatakan: "Makna Talbiyah adalah jawaban terhadap panggilan  Ibrahim Alaihissallam ketika memberitahukan manusia utk berhaji".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun makna dari kata-kata dalam talbiyah tersebut adalah:&lt;br /&gt;(اللهم)  : Wahai Allah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(لَبَيْكَ) : Adalah penegas yg memiliki ma'na baru (lebih‎‎)  maka  saya mengulang-ulang &amp;amp; menegaskan bahwa saya menjawab / menerima  panggilan Rabb saya &amp;amp; tetap dalam keta'atan kepada-Nya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(لاَ شَرِيْكَ لَكَ): Tidak ada satupun yg menyamai Engkau (Allah) dalam segala sesuatu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(لَبَيْكَ)  : Sebagai penegas bahwa saya menerima panggilan haji  tersebut karena Allah  bukan karena pujian  ingin terkenal  ingin harta   &amp;amp; lain-lain  akan tetapi saya berhaji &amp;amp; menerima panggilan  tersebut karena Engkau saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(ِإنَّ الْحَمْدَ وَ الِّنعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ): Sesungguhnya saya  berikrar &amp;amp; mengimani bahwa semua pujian &amp;amp; nikmat itu hanyalah  milik-Mu demikian juga kekuasaan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(لاَ شَرِيْكَ لَكَ):Yang semua itu tdk ada sekutu bagiMu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau kita melihat makna kata-kata yg ada dalam talbiyah tersebut   didapatkan adanya penetapan tauhid &amp;amp; jenis-jenisnya sebagaimana yg  dikatakan oleh Jabir (أَهَلَّ بِالتَّوْحِيْدِ) (Rasulullah Shallallahu  'alaihi wa sallam bertalbiyah dg tauhid"). Hal ini tampak kalau kita  mentelaah &amp;amp; memahami makna kata-kata tersebut  lihatlah dalam  kata-kata&lt;br /&gt;(لَبَيْكَ اللهم لَبَيْكَ لَبَيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ  لَبَيْكَ) terdapat peniadaan kesyirikan dalam peribadatan  kemudian (لاَ  شَرِيْكَ لَكَ لَبَيْكَ) terdapat tauhid rububiyyah karena kita telah  menetapkan kekuasaan yg mutlak hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata   &amp;amp; hal itupun mengharuskan seorang hamba utk mengakui terhadap tauhid  uluhiyyah  karena iman kepada tauhid rububiyyah mengharuskan iman  kepada tauhid uluhiyyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan dalam kata (إنَّ الْحَمْدَ وَ الِّنعْمَةَ لَكَ) terdapat  penetapan sifat-sifat terpuji pd Dzat  &amp;amp; bahwa perbuatan Allah Azza  wa Jalla adalah hak  hal ini merupakan tauhid asma' &amp;amp; sifat Allah  Azza wa Jalla.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau demikian keharusan orang yg talbiyah maka dia akan selalu  merasakan keagungan Allah &amp;amp; akan selalu menyerahkan amal ibadahnya  hanya utk Allah semata bukan hanya sekedar mengucapkan tanpa dapat  merasakan hakikat dari talbiyah tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.4. Pelaksanaan Talbiyah&lt;br /&gt;Talbiyah ini diucapkan dg mengangkat suara bagi kaum laki-laki sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَمَرَنِيْ أَنْ آمُرَ أَصْحَابِيْ أَنْ يَرْفَعُوْا أَصْوَاتَهِمْ بِالتَّلْبِيَّةِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Jibril telah datang kepadaku &amp;amp; dia memerintaahkanku agar aku  memerintahkan sahabat-sahabatku agar mengangkat suara mereka dalam  bertalbiyah".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan tdk disyari'atkan bertalbiyah dg berjama ah  akan tetapi apabila  terjadi kebersamaan dalam talbiyah tanpa disengaja &amp;amp; tdk dipimpin  maka hal itu tdk mengapa. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa  sallam &amp;amp; para shahabatnya bertalbiyah dalam satu waktu  padahal  jumlah mereka sangat banyak  maka hal tersebut sangat memungkinan  terjadinya talbiyah dg suara yg berbarengan. Akan tetapi mengangkat  suara dalam talbiyah ini jangan sampai mengganggu &amp;amp; menyakiti  dirinya sendiri sehingga dia tdk dapat terus bertakbir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan utk wanita tdk disunahkan mengeraskan suara mereka bahkan  mereka diharuskan utk merendahkan suara mereka dalam bertalbiyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6.5. Waktu Berhenti Talbiyah.&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan pendapat para  ulama dalam penentuan waktu berhenti talbiyah bagi orang yg berumroh /  berhaji dg tamatu' menjadi beberapa pendapat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat Pertama: Ketika masuk Haram (kota Makkah)  &amp;amp; ini  pendapat Ibnu Umar  Urwah &amp;amp; Al Hasan serta mazdhab Maliki. Mereka  berdalil dg hadits yg diriwayatkan oleh Bukhori &amp;amp; An Nasa ai yg  lafadznya;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا دَخَلَ أَدْنَىْ الْحَرَمِ أَمْسَكَ عَنْ  التَّلْبِيَّةِ ثُمَّ يَبِيْتُ بِذِيْ طَيْ وَيُصَلِّى بِهِش الصُّبْحَ  وَيَغْتَسِلُ وَيُحَدِّثُ أَنَّ النَّبِيْ  كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ibnu Umar ketika masuk pinggiran Haram menghentikan talbiyah   kemudian menginap di Dzi thuwa. Beliau sholat shubuh di sana serta mandi  &amp;amp; beliau berkata bahwa Nabipun berbuat demikian"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat Kedua: Ketika melihat rumah-rumah penduduk Makkah &amp;amp; ini pendapat Said bin Al-Musayyib&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat Ketiga: Ketika sampai ke Ka'bah &amp;amp; memulai thawaf dg  menyentuh (istilam) hajar aswad  ini pendapat Ibnu Abbas  Atha'  Amr bin  Maimun  Thawus  An-Nakha'i  Ats-Tsaury  Asy-Syafi'i  Ahmad &amp;amp; Ishaq  serta mazdhab Hanafi. Mereka berdalil dg hadits Ibnu Abbas secara  marfu':&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كَانَ يُمْسِكُ عَنِ التَّلْبِيَّةِ فِيْ اْلعُمْرَةِ إِذَا اسْتَلَمَ الْحَجَرَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Dia menghentikan talbiyah dalam umoh setelah menyentuh (istilam)  hajar aswad" (HR Abu Daud At Tirmidzy &amp;amp; Al Baihaqy  tetapi  dilemahkan oleh Al-Albany dalam Irwa' 4/297)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan juga hadits Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya dg lafazh:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;اعْتَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ثلاثَا عُمَرَ كُلَّهَا فِيْ ذِيْ اْلقَعْدَةِ فَلَمْ يَزَلْ يُلَبِّيْ حَتَّى اسْتَلَمَ الْحَجَرَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan umrah tiga kali   seluruhnya di bulan dzul qa'dah &amp;amp; beliau terus bertalbiyah sampai  menyentuh (istilam) hajar aswad" (HR Ahmad &amp;amp; Baihaqi denan sanad yg  lemah karena ada Hajaaj bin Abdullah bin Arthah &amp;amp; dilemahkan oleh  Al-Albanny dala Irwa' 4/297)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka juga berkata:  Karena talbiyah adalah memenuhi panggilan utk  ibadah maka dihentikan ketika memulai ibadah  yaitu thawaf.  Dan ini  pendapat yg dirajihkan oleh Syaikul Islam &amp;amp; Ibnu Qudamah akan tetapi  yg rajih adalah pendapat pertama. Berdasarkan penjelasan dari Ibnu Umar  bahwa Rasulullah juga melakukan hal itu  ini menunjukkan bahwa Ibnu  Umar berlaku demikian karena melihat Rasululloh telah melakukan.  Pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Khuzaimah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian juga waktu haji terdapat beberapa pendapat ulama.&lt;br /&gt;Pertama:  Menghentikannya ketika berada di Arafah setelah tergelincirnya matahari  &amp;amp; ini pendapat Aisyah  Sa'ad bin Abi Waqash  Ali  Al-Auza'i   Al-Hasan Al-Bashry &amp;amp; madzhab Malikiyah. Berdalil dg hadits:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;الحَجُّ عَرَفَةُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Haji itu adalah wuquf di Arafah &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka kalau telah sampai Arafah  habislah pemenuhan panggilan  karena  telah sampai kepada inti &amp;amp; rukun pokok ibadah tersebut. Akan tetapi  dalil ini lemah karena bertentangan dg riwayat bahwa Rasululloh masih  bertalbiyah setelah tanggal 9 Dzuljhijjah tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua: Menghentikannya ketika melempar jumroh aqobah &amp;amp; ini  pendapat jumhur  akan tetapi mereka berselisih menjadi dua pendapat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. Menghentikan di awal batu yg di lempar dalam jumroh aqobah &amp;amp;  ini pendapat kebanyakan dari mereka  dg dalil hadits Al-Fadl bin Al  Abbas&lt;/p&gt; &lt;p&gt;كُنْتُ رَدِيْفَ النَبَيِ مِنْ جَمْعِ إِلَى مِنَى فَلَمْ يَزَلْ يُلَبِّيْ حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ (رواه الحماعة)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku membonceng nabi dari Arafah ke Mina &amp;amp; terus menerus bertalbiyah sampi melempar jumroh Aqobah". (HR Jama'ah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan hadits Ibnu Mas'ud dg lafadz:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;خَرَجْتُ مَعَ رسول الله فَمَا تَرَكَ التَّلْبِيَّةَ حَتَّى رَمَى  جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ إِلاَّ أَنْ يُخلِطَهَا بِتَكْبِيْرِ أَوْ  تَهْلِيْلٍ.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku berangkat bersama Rasulullah &amp;amp; beliau tdk meninggalkan  talbiyah sampai beliau melempar jumrah Aqobah agar tdk tercampur dg  tahlil / takbir" (HR Thohawi &amp;amp; Ahmad &amp;amp; sanadnya dihasankan oleh  Al-Albani dalam Irwa'  /2966).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat ini dirajihkan oleh Syakhul Islam Inu Taimiyah &amp;amp; beliau  menyatakan: Dan secara ma'na  maka seorang yg telah sampai Arafah-  walaupun telah sampai pd tempat wuquf ini- maka dia masih terpanggil  setelahnya kepada tempat wukuf yg lainnya yaitu Muzdalifah &amp;amp; kalau  dia telah wukuf di Muzdalifah maka dia terpanggil utk melempar jumrah   &amp;amp; kalau telah memulai dalam melempar jumrah maka telah selesai  panggilannya (Majmu' Fatawa 26/173)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Menghentikannya di akhir lemparan dalam Jumrah Aqabah  ini  pendapat Ahmad &amp;amp; sebagian pengikut Syafi'i serta dirojihkan oleh  Ibnu Khuzaimah dg dalil lafadz hadits Fadhl.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;أَفَضْتُ مَعَ النَّبِي n مِنْ عَرَفَةَ فَلَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حَتَّى  رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حِصَاةٍ ثُمَّ قَطَعَ  التَّلْبِيَّةَ مَعَ آخِرِ حِصَاةٍ (رواه ابو خزيمة)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku telah keluar bersama Nabi dari Arafah lalu beliau terus  bertalbiyah ampai melempar jumroh Aqobah  Beliau bertakbir setiap  lemparan batu  kemudian menghentikan talbiyah bersama akhir batu yg  dilempar" (HR Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya &amp;amp; beliau berkata:" ini  hadits shahih yg menjelaskan apa yg belum jelas dalam riwayat- riwayat  yg lain).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-7443338638604929994?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/7443338638604929994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/03/tatacara-ihram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/7443338638604929994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/7443338638604929994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/03/tatacara-ihram.html' title='TATACARA IHRAM'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-33hwPp8dbhE/TXgDhWAyJ7I/AAAAAAAAAzs/--Uzi6oH8FY/s72-c/Ak-37.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5487651505051332285</id><published>2011-02-28T05:52:00.004+07:00</published><updated>2011-02-28T06:01:06.946+07:00</updated><title type='text'>50 PELAJARAN BERHARGA DARI HAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pSK01run9rY/TWrWQUmJLeI/AAAAAAAAAzY/vXOPRYjpFQo/s1600/Ak-06.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pSK01run9rY/TWrWQUmJLeI/AAAAAAAAAzY/vXOPRYjpFQo/s200/Ak-06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578506664346725858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;H. AKBAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sinarmulya Ciomas Bogor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;HP  08159244764&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Berikut  ini adalah, 50 pelajaran  berharga dari Rukun Islam Kelima untuk  kehidupan manusia. Semoga Alloh  memberikan taufiq, bantuan, dan  menunjuki kebenaran pada kami dalam  menyelesaikan tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;1. Pendidikan untuk mentauhidkan Alloh,&lt;/strong&gt; baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: &lt;em&gt;Labbaikallohumma labbaik…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Dimasukkannya dalam talbiyah kata: &lt;em&gt;la syarika lak&lt;/em&gt; (tiada sekutu bagi-Mu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Kata &lt;em&gt;la syarika lak&lt;/em&gt; yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;d. Kata-kata: &lt;em&gt;“Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk”&lt;/em&gt;,   maksudnya adalah: “Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan   seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Alloh”, dan ini juga mengandung nilai   tauhid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;e.  Larangan thowaf di selain  Ka’bah, itu artinya kita dilarang untuk  thowaf di arofah, di jamarot, di  pemakaman, tempat keramat, tempat  bersejarah, dll. Ini semua bukti  keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan  yang berhak disembah kecuali  Alloh, dan itulah diantara bentuk nyata  mentauhidkan Alloh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;2. Pendidikan untuk banyak memuji Alloh&lt;/strong&gt;. Hal ini tampak pada kata &lt;em&gt;hamdalah&lt;/em&gt; yang ada dalam &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt;.   Meski saat datang ke tanah suci, jamaah haji sedang dalam keadaan   tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan… mereka   semua tetap memuji Alloh, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang,   sehat, dan kuat… Sungguh tak diragukan lagi, memuji Alloh dianjurkan   bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;3. Pendidikan untuk selalu membasahi lisan dengan dzikir&lt;/strong&gt;, ini tampak pada:&lt;span id="more-1398"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Disunnahkannya membaca &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt;  hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka’bah, atau   sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan   harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan   anjuran untuk memperbanyak &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Saat &lt;em&gt;thowaf&lt;/em&gt;, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Dalam sai juga demikian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;d. Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: “&lt;em&gt;la ilaaha illallohu wahdahu….&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;e. Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;f. Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;g. Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dan  masih banyak lagi tempat dan  kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir  dalam ibadah haji ini. Itu  semua mengajarkan pada seorang muslim agar  lisannya selalu basah dengan  bacaan dzikir. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;4. Mengajarkan kita untuk mengingat mati,&lt;/strong&gt;  yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini,   seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya,   sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;5. Mengajarkan manusia untuk zuhud pada dunia dan kenikmatannya&lt;/strong&gt;.   Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan   mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju   lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;6- Mendidik manusia untuk &lt;em&gt;qona’ah&lt;/em&gt;,&lt;/strong&gt; sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat &lt;em&gt;qonaah&lt;/em&gt;  itu. Oleh karena itu, para jama’ah haji dilatih untuk cukup hanya   dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur   sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan   sekedar bisa menopang tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;7. Mengajarkan pada manusia,&lt;/strong&gt; bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Alloh bila dilihat dari &lt;em&gt;dzat&lt;/em&gt;nya.   Oleh karena itu para jamaah haji sama-sama dalam pakaian dan  amalannya.  Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal  mereka,  sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi  mereka  hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh  demi  Alloh, betapa banyak para &lt;em&gt;masakin&lt;/em&gt; di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;8. Mengajarkan pada manusia&lt;/strong&gt; dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;9. Mengajarkan pada manusia&lt;/strong&gt; untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihrom.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b.  Sabar untuk tidak melakukan  kefasikan, sebagaimana firman-Nya:  “Barangsiapa berkewajiban menunaikan  ibadah haji dalam bulan-bulan  haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan  keji”. Sehingga ketika ia  pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan  terbiasa sabar dari segala  kemaksiatan, sebagaimana ia sabar  menghadapinya pada hari-hari itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;10. Mengajarkan pada muslim&lt;/strong&gt;  untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi   masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu   terlihat diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketika jama’ah haji ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pulangnya  juga harus setelah  melempar dan thowaf wada’, meski ia berasal dari  negeri yang jauh, tetap  saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan  ini, baru setelah itu  diperkenankan untuk pulang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;11. Mengajarkan pada manusia, agar menyiapkan diri sebelum melakukan ketaatan, &lt;/strong&gt;oleh   karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi,   membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan   ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi   -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal   dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum,   sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal   ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus   menambah kekhusyu’annya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;12. Mengajarkan pada manusia untuk ikhlas dan tulus hati,&lt;/strong&gt;  yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal   akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;13. Mengajarkan pada manusia untuk tawakkal dan menyerahkan urusannya hanya pada Alloh semata, &lt;/strong&gt;terutama   dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang   muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya,   tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada   Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam   menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri   jauh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;14. mengajarkan manusia untuk bertawakkal yang benar, &lt;/strong&gt;tentunya   tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan   untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: “Tidak ada  masalah  jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan  kalian”.  Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal  adalah  dengan meninggalkan berdagang dalam haji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;15. Mengajarkan pada manusia untuk mewujudkan semua amalan-amalan hati. &lt;/strong&gt;Sungguh   tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati   seperti dalam haji ini. Terkumpul dalam ibadah haji ini amalan ikhlas,   ketulusan hati, &lt;em&gt;roja’&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;tawakkal&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;waro’, muhasabah&lt;/em&gt;, keyakinan… dll”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;16. Mendidik manusia untuk menundukkan hati dari apa yang diingininya, &lt;/strong&gt;selama   hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua  larangan  ihrom haruslah ditinggalkan oleh jama’ah haji padahal hatinya   menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena   syariat melarangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;17. mengajarkan manusia untuk taat dengan aturan dan batasan syariat. &lt;/strong&gt;Hal ini nampak dalam aturan &lt;em&gt;miqot&lt;/em&gt; dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;18. Mengajarkan pada manusia untuk membuka pintu &lt;em&gt;qiyas&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;shohih&lt;/em&gt;. &lt;/strong&gt;Pelajaran   berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk   negeri Irak ketika mereka mengatakan: “Sungguh dua miqot itu, tidak pas   dengan jalan kami”, maka Umar r.a. mengatakan: “Ambillah tempat yang   sejajar dengannya di jalan kalian” (&lt;em&gt;muttafaqun alaih&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan  ini, seorang muslim tahu  bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang  kaku, dan tak bisa dirubah  sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan  syariat ini pintu qiyas,  tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka  yang memiliki syarat dan  ketentuan dalam ber-&lt;em&gt;ijtihad&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;19. Mengajarkan pada manusia tentang rukun kedua diterimanya suatu amalan, &lt;/strong&gt;yakni mengikuti tuntunan Nabi -&lt;em&gt;shollallohu alaihi wasallam&lt;/em&gt;-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: “Ambillah cara manasik kalian dariku!” (&lt;em&gt;muttafaqun alaih&lt;/em&gt;).   Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: “Melemparlah dengan   kerikil yang seperti ini!”. Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar   aswad: “Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu   memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat   Rosululloh -&lt;em&gt;shollallohu alaihi wasallam&lt;/em&gt;- menciummu, tentunya aku takkan menciummu” (&lt;em&gt;muttafaqun alaih&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya &lt;em&gt;-shollallohu alaihi wasallam-&lt;/em&gt;, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;20. Memberikan pelajaran akan mudahnya ajaran syariat, &lt;/strong&gt;sehingga   keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika   menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama’ah haji dalam memulai ihromnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Cara manasik haji yang bermacam-macam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Adanya hukum khusus bagi para jama’ah yang lemah dan lanjut usia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;21. Mendidik manusia, agar memperhatikan adanya perbedaan diantara mereka.&lt;/strong&gt;  Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak   pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada   yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara   mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan &lt;em&gt;qiron&lt;/em&gt; dan hal   itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka  ada  yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni &lt;em&gt;tamattu’&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sungguh  ini menunjukkan tingginya  perhatian syariat pada keadaan, kemampuan,  masalah, dan perbedaan  mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang  yang menuntut bersatunya  umat dalam segala hal, baik dalam amalan  maupun dalam hal  kepentingannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;22. Mengajari manusia bagaimana &lt;em&gt;fikhul khilaf&lt;/em&gt; dalam kehidupan nyata, &lt;/strong&gt;hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Perbedaan para jama’ah dalam dalam memilih cara manasiknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Perbedaan para jama’ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c.  Perbedaan para jama’ah dalam  hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan  Mina menuju Arofah.  Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang  bertalbiyah, ada juga  yang bertakbir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;d.  Perbedaan waktu bolehnya  beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat  keadaan masing-masing, bagi  yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi  yang kuat ada waktu  tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;e. Perbedaan para jama’ah dalam memilih &lt;em&gt;nafar awal&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;nafar tsani&lt;/em&gt; untuk ibadah hajinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;f. Perbedaan para jama’ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semua  contoh di atas, mengajari  para jama’ah bagaimana menyikapi perbedaan  dan individunya. Sungguh,  tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok  atau tuduhan antara satu  sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab  memilih cara manasik  tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik  yang kurang utama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;23. Mengajari manusia, bahwa tidak semua yang diterangkan oleh syari’at itu mungkin dicerna oleh akal,&lt;/strong&gt; tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Lihatlah sebagai contoh sabda Nabi &lt;em&gt;-shollallohu alaihi wasallam-&lt;/em&gt;:   “Perbanyaklah haji dan umroh, karena keduanya bisa menghilangkan   kefakiran sebagaimana mampunya tengku pembakar menghilangkan karatnya   besi. (Diriwayatkan oleh para pengarang kitab &lt;em&gt;sunan&lt;/em&gt;, dan dishohihkan oleh Albani)…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Padahal  jika di nalar dengan akal,  memperbanyak haji dan umroh itu, akan  mengundang banyak kebutuhan dan  tentunya akan banyak menghabiskan uang,  tapi syariat malah mengatakan  seperti itu. Sungguh akal tidak akan  bisa menerangkan secara rasional,  bahwa orang yang memperbanyak haji  dan umroh akan menghilangkan  kefakiran, Alloh lah yang tahu akan  hakikat di balik itu semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan  ini, seorang muslim akan  terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya  dengan Alloh dan ilmu-Nya,  sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan  mau mengakui kelemahan dan  kekurangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;24. Mengajari manusia, bahwa yang paling afdlol, adalah yang sesuai dg syariat&lt;/strong&gt;,   bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihrom dari miqot,   lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu  lebih  berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik  untuk  memuliakan syariat dan memperhatikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;25. Melatih manusia, untuk terbiasa tertib dan taat aturan.&lt;/strong&gt;  Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu   merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari   hal-hal berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umroh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Harusnya tertib ketika melempar jamarot.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;26. Mendidik manusia untuk menekan syahwatnya secara khusus&lt;/strong&gt;, oleh karena itu akad nikah menjadi larangan saat dalam keadaan ihrom, bahkan sampai &lt;em&gt;rofats&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://addariny.wordpress.com/2009/12/26/50-pelajaran-berharga-dari-haji-2/#_ftn1"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan &lt;em&gt;jima’&lt;/em&gt; pun dilarang. Tidak diragukan, ini mendidik seorang muslim agar waspada dan hati-hati dengan syahwat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;27. Mendidik manusia untuk menunaikan ibadahnya sesempurna dan sebaik mungkin&lt;/strong&gt;, oleh karena itu Alloh berfirman: “Barangsiapa yang berkewajiban haji, maka janganlah ia melakukan &lt;em&gt;rofats&lt;/em&gt;, kefasikan, dan debat (kusir) dalam ibadah hajinya”, beliau -&lt;em&gt;shollallohu alaihi wasallam&lt;/em&gt;-   juga bersabda: “Haji yang mabrur itu, tiada balasan lain baginya   kecuali surga” (Muttafaqun Alaih). Ini semua mendidik muslim untuk   menjaga kualitas ibadahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;28. Mendidik manusia untuk menyesuaikan dirinya saat keadaan dan kebiasaan lingkungannya berubah&lt;/strong&gt;.   Tentunya sepanjang tahun jama’ah haji terbiasa melakukan sesuatu di   negaranya, lalu ketika datang haji, ia harus memaksa dirinya untuk   menyesuaikan dengan waktu dan jam yang sedang ia jalani. Inilah maksud   dari arahan Umar r.a. saat mengatakan: “Prihatinlah, karena   nikmat-nikmat yang ada itu tidak akan langgeng selamanya”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;29. Mendidik manusia untuk banyak berdoa.&lt;/strong&gt; Dalam manasik haji, disunnahkan bagi muslim untuk berdoa pada Tuhannya, di kebanyakan tempat yang dikunjunginya, misalnya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Saat &lt;em&gt;thowaf&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Saat sholat sunat 2 rokaat setelah &lt;em&gt;thowaf&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Saat minum air zamzam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;d. Saat naik ke bukit Shofa dan Marwa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;e. Saat di tengah-tengah pelaksanaan sa’i.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;f. Saat Hari Arofah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;g. Setelah terbit fajarnya hari &lt;em&gt;nahr&lt;/em&gt; (tanggal 10 dzulhijjah) hingga langit menguning.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;h. Setelah melempar dua jamarot, Shughro dan Wustho.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dan  tempat-tempat lainnya, itu  semua mendidik seorang muslim untuk selalu  mendekatkan diri pada  Tuhannya dalam doa dan selalu kembali pada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;30. Mendidik muslim untuk &lt;em&gt;ta’abbud&lt;/em&gt; dengan sifat maha mendengar dan maha melihatnya Alloh ta’ala,&lt;/strong&gt; sebagaimana madzhabnya Ahlus sunnah wal jama’ah dalam menetapkan sifat dan maknanya, ini tampak dalam hal-hal berikut ini:&lt;span id="more-1410"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a.  Banyaknya bahasa yang beraneka  ragam, suara yang berbeda-beda,  kebutuhan yang bermacam-macam, pun  begitu, Dia yang maha suci tetap  mampu mendengarkan doanya ini, dan  mengabulkan doanya itu, serta  mengetahui seluruh bahasa mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b.  Dia maha tahu niat para jama’ah  haji yang berbeda-beda, dan seberapa  tulus dan ikhlasnya mereka, meski  jumlah mereka sangat banyak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;31. Melatih manusia, untuk tidak menganggap remeh apapun yang diharamkan Alloh, &lt;/strong&gt;oleh karena itulah dalam ibadah haji ini, ada beberapa kalimat yang diulang-ulang, diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Tanah haram.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Bulan haram.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Larangan-larangan ketika sedang ihrom.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan  begitu seorang muslim  terlatih untuk mengagungkan apa yang diharamkan  oleh Alloh ta’ala dari  sekian banyak sesuatu yang diharamkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;32. Melatih manusia untuk meneguhkan prinsip “loyal pada kaum muslimin dan berlepas diri dari kaum kafirin”. &lt;/strong&gt;Oleh   karena itulah disunnahkan dalam sholat sunat setelah thowaf untuk   membaca surat alkafirun, yang didalamnya menekankan dan menuangkan dasar   prinsip ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Termasuk  diantara bukti paling  nampak dari petunjuk menyelisihi kaum musyrikin  adalah, beranjaknya para  jama’ah haji (dari Muzdalifah) sebelum  terbitnya matahari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;33. Mendidik manusia untuk tenang, tertib, dan mempraktekkan prinsip &lt;em&gt;itsar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (mendahulukan orang lain dalam hal duniawi). Oleh karena itulah dahulu Rosul -&lt;em&gt;shollallohu alaihi wasallam&lt;/em&gt;-   ketika meninggalkan Arofah menyabdakan: “tenang dan tenanglah”, karena   saat itu merupakan momen yang biasanya rame dan memungkinkan  terjadinya  saling menyakiti antara kaum muslimin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sifat &lt;em&gt;waqor&lt;/em&gt;  dan tenang  adalah sifat yang selayaknya melekat pada diri seorang  muslim,  sebagaimana Alloh memberikan sifat itu pada mereka dalam  kitab-Nya:  “yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan sopan”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;34. Mendidik manusia untuk menyatukan kata, meski keadaan dan cara manasik mereka berbeda-beda.&lt;/strong&gt; Ini merupakan dasar yang agung, dan ditunjukkan dalam banyak nash syariat dan juga tampak dari keadaan para sahabat -&lt;em&gt;rodliallohu anhum&lt;/em&gt;-.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;35. Melatih manusia untuk mengingat hari kiamat,&lt;/strong&gt;  yakni dengan banyaknya orang yang berkumpul saat itu, bahkan pada hari   kiamat nanti, Alloh akan mengumpulkan manusia dari awal hingga akhir   penciptaan. Tak diragukan lagi, dengan mengingat hari kiamat, hati   seorang muslim akan hidup dan memiliki pengaruh besar dalam kekhusyu’an   dan ibadahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;36. Mendidik manusia untuk memperhatikan dan menghargai waktu. &lt;/strong&gt;Hari   arofah adalah kesempatan yang tak ada gantinya bila telah hilang,   hari-hari tasyriq adalah hari-hari yang diperuntukkan untuk berdzikir   (mengingat Alloh), dan di 10 hari pertama bulan dzul hijjah amalan   ibadah dilipat-gandakan pahalanya, itu semua melatih seorang muslim   untuk memanfaatkan waktunya untuk apapun yang bermanfaat baginya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;37. Mendidik manusia untuk menjaga &lt;em&gt;ukhuwwah imaniyyah&lt;/em&gt;,&lt;/strong&gt;  itu tampak dari bertemunya raga, yang akan menjadikan berkumpulnya   hati, dan tentunya akan terlihat pengaruh pertalian persaudaraan itu   dalam tingkah laku dan kehidupan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;38. Mengajari manusia untuk mewujudkan lahan yang riil untuk mendidik jiwa,&lt;/strong&gt; misalnya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk menjaga pandangan mata dari sesuatu yang diharamkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b. Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk &lt;em&gt;itsar&lt;/em&gt; (mendahulukan orang lain) dalam urusan duniawi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c. Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk memberi bantuan dan sedekah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;d. Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sungguh haji merupakan pusat praktek nyata dan tempat pelatihan untuk menguji kepribadian seseorang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;39. Mendidik manusia untuk membuktikan taqwanya,&lt;/strong&gt;  karena tempat ketakwaan adalah hati, dan sebagian besar amalan haji itu   bertumpu pada hati dengan derajat paling tinggi, oleh karena itulah   Alloh menyebutkan redaksi takwa dalam ayat-ayat haji, Alloh berfirman:   “Sempurnakanlah haji dan umroh itu untuk Alloh…” di akhir ayat   disebutkan: “dan bertakwalah kalian pada Alloh!”… Dia juga berfirman:   “Siapkanlah bekal (untuk haji), sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;40. Mendidik manusia agar berakhlak mulia,&lt;/strong&gt;  yang merupakan sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal di hari   kiamat nanti, hal ini tampak dari firman-Nya: “Janganlah berdebat   (kusir) dalam haji!”. Maka anjuran untuk meninggalkan debat merupakan   pendidikan untuk berakhlak mulia. Hal itu juga tampak pada anjuran Nabi &lt;em&gt;-shollallohu alaihi wasallam-&lt;/em&gt; kepada para sahabatnya untuk tetap tenang ketika meninggalkan Arofah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;41. Mendidik manusia untuk mencintai seluruh Nabi -&lt;/strong&gt;alaihimus salam-, hal ini tampak dari:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pemenuhan panggilannya Nabi Ibrohim ketika memanggil manusia untuk haji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menziarahi ka’bah yang dibangun olehnya bersama Ismail.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dan sa’i di jalannya siti hajar ketika mencarikan air untuk Isma’il.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;42. Mendidik manusia untuk menjalankan macam-macam ibadah&lt;/strong&gt;, seperti: &lt;em&gt;Thowaf&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;sa’i&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;sholat&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;mabit&lt;/em&gt;,   melempar, menyembelih, menggundul, dll. Sehingga seorang muslim   terdidik untuk tidak hanya terpaku dalam satu macam ibadah saja, tapi   menjadikan agar ibadahnya bervariasi dan merasakan nikmatnya melakukan   ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;43. Mendidik manusia untuk mengagungkan Alloh&lt;/strong&gt;, hal ini tampak dalam beberapa hal berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a. Kepala yang di… dan digundul untuk mendekatkan diri dan bersimpuh kepada Alloh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b.  Hadyu yang disembelih untuk  beribadah pada-Nya, dialirkan darahnya  karena wajah-Nya, dan nama-Nya  juga disebut ketika menyembelihnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;44. Mendidik manusia untuk mencintai Alloh.&lt;/strong&gt;  Siapapun yang mau merenungi pemandangan jama’ah haji yang mencapai   jutaan, dan merenungi bagaimana Alloh memberi mereka rizki, mengatur,   menjaga, dan menanggung kebutuhan mereka, ini akan menuntunnya untuk   mencintai-Nya. Dengan ini dan poin sebelum ini, akan terkumpul kecintaan   dan pengagungan pada Alloh, dan inilah hakekat dari ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;45. Mendidik manusia untuk mengetahui jasa &lt;/strong&gt;Nabi &lt;em&gt;-shollallohu alaihi wasallam- &lt;/em&gt;dan para sahabatnya &lt;em&gt;-rodliallohu anhum-&lt;/em&gt;  dalam menyebarkan agama ke seluruh penjuru dunia. Ketika anda merenungi   jumlah jama’ah haji yang sangat besar itu, mereka memiliki daerah,   warna, dan bahasa yang beragam, tentu anda akan tahu jasa para pendahulu   dalam menyebarkan agama Alloh ini. Lihatlah bagaimana ia bisa sampai  ke  negara-negara Asia Timur, Afrika, bahkan Eropa. Semoga Alloh  membalas  mereka dengan balasan yang paling baik atas tugas berat yang  diembannya  dengan sebaik-baiknya, dan semoga Alloh memgampuni kita atas  kekurangan  kita dalam meneruskannya, dan kita memohon kepada Alloh  agar membantu  kita dalam urusan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;46. Mendidik manusia &lt;/strong&gt;untuk berusaha membuat jengkel kaum musyrikin, dengan cara apapun, oleh karena itulah beliau -&lt;em&gt;shollallohu alaihi wasallam&lt;/em&gt;- menyariatkan &lt;em&gt;roml&lt;/em&gt;  ketika thowaf hanya untuk membuat jengkel kaum musyrikin saja, yakni   saat mereka mengata-ngatai kaum muslimin ketika datang ke Mekah: “Mereka   itu mendatangi kalian, dalam keadaan telah dilemahkan oleh &lt;em&gt;Humma&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Yatsrib&lt;/em&gt;“.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;47. Mendidik manusia agar merasakan pengaruh ibadah dalam kehidupan ini. &lt;/strong&gt;Meski   dengan banyaknya jama’ah haji, adanya keramaian, berdesakan, berat,  dan  lelah, tetap saja jiwa orang-orang itu lembut, dan jarang terjadi   masalah, suara tinggi, dan saling marah. Sebabnya adalah -&lt;em&gt;wallohu a’lam&lt;/em&gt;-,   karena ibadah yang sedang mereka lakukan, mempengaruhi keadaan jiwa   mereka, hingga merubahnya menjadi jiwa yang tinggi, yang tidak peduli   dengan hal-hal yang remeh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Beda  halnya dengan pemandangan di  pasar misalnya, banyak sekali terjadi  jeritan, dan suara yang tinggi,  banyak pula terjadi masalah dan hal-hal  buruk lainnya. Itu semua  memberikan pelajaran berharga bagi seorang  muslim, tentang adanya  perbedaan yang jelas terlihat antara dua keadaan  itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;48. Mendidik manusia untuk selalu sadar tanggung jawab.&lt;/strong&gt;  Ketika terjadi kesalahan dari para jama’ah haji -kadang sebagian   kesalahannya dalam hal-hal yang diperkirakan semua orang tahu bahwa itu   salah-, ini mendidik muslim untuk sadar tanggung-jawab yang dibebankan   di pundaknya untuk memberitahu saudaranya, menyodorkan sesuatu yang   bermanfaat bagi mereka, dan menghilangkan kebodohan yang ada pada   mereka. Penulis yakin inilah yang bisa memberi manfaat, bukan malah   mencemooh atau menuduh yang bukan-bukan pada mereka yang salah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;49. Melatih manusia untuk berjihad, dengan adanya &lt;em&gt;masyaqqoh&lt;/em&gt;, lelah, dan keinginan hati  yang tak dituruti. &lt;/strong&gt;Oleh karena itulah Nabi &lt;em&gt;-shollallohu alaihi wasallam- &lt;/em&gt;menamainya   jihad, sebagaimana dalam sabdanya: “Bagi kalian (para wanita) ada  jihad  yang tanpa perang, yaitu haji dan umroh” (HR. Bukhori)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;50. Mendidik manusia untuk bangga dengan agama dan keislamanya. &lt;/strong&gt;Ini tampak dari keadaan setan di Hari Arofah, telah disebutkan dalam kitab Al-Muwaththo’ karya Imam Malik, bahwa Nabi &lt;em&gt;-shollallohu alaihi wasallam-&lt;/em&gt;  pernah bersabda: “Tiada suatu haripun, yang saat itu setan terlihat   paling kerdil, paling hina, dan paling marah, melebihi Hari Arofah”   (dihasankan oleh Ibnu Abdil Barr &lt;em&gt;-rohimahulloh&lt;/em&gt;-). Hal ini juga   tampak dari bagaimana Alloh membangga-banggakan hambanya yang sedang   wukuf di Arofah di hadapan para malaikat, sebagaimana disebutkan dalam   shohih muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhirnya…  inilah sebagian  pelajaran berharga dari haji untuk jiwa manusia,  tentunya pelajaran yang  belum kami sebutkan di sini jauh lebih banyak  dari itu… Aku memohon  pada Alloh semoga menjadikan tulisan ini  bermanfaat… wallohu a’lam…  Akhir kata, semoga Alloh memberikan sholawat  dan salam-Nya pada Nabi  kita Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5487651505051332285?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5487651505051332285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/50-pelajaran-berharga-dari-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5487651505051332285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5487651505051332285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/50-pelajaran-berharga-dari-haji.html' title='50 PELAJARAN BERHARGA DARI HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pSK01run9rY/TWrWQUmJLeI/AAAAAAAAAzY/vXOPRYjpFQo/s72-c/Ak-06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5560545957182167544</id><published>2011-02-16T21:23:00.003+07:00</published><updated>2011-02-28T05:58:24.285+07:00</updated><title type='text'>ENAM PANTANGAN HAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-1Gm-pXC9L54/TVvfi_bdgJI/AAAAAAAAAzQ/UTNQUKOeMu4/s1600/S5003189.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1Gm-pXC9L54/TVvfi_bdgJI/AAAAAAAAAzQ/UTNQUKOeMu4/s200/S5003189.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574294756036280466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;H. AKBAR&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sinarmulya Ciomas Bogor&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar bisa menunaikan ibadah secara baik, ada tips menarik yang perlu   diperhatikan. Ada enam hal yang harus diperhatikan para jemaah haji  Indonesia ketika berada di tanah suci antara lain :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pantangan Pertama,&lt;/strong&gt;  jangan mudah percaya pada pengemis yang mengaku kehilangan semua harta  benda mereka dan perlu kembali ke Jeddah, Makkah, Madinah  atau daerah  lainnya. Lebih baik berikan sadaqah Anda melalui badan  resmi seperti  amil zakat karena mereka lebih mengetahui siapa yang  membutuhkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pantangan Kedua,&lt;/strong&gt;  jangan berbicara dalam Bahasa Inggris dan asing di toko-toko Saudi  Arabia.  Biasakanlah berbicara Bahasa Arab, walau setengah-setengah.  Jika Anda  berbicara dalam Bahasa Inggris, maka pedagang akan menaikkan  hara barang  dagang hingga 200 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pantangan Ketiga,&lt;/strong&gt; jangan biarkan perempuan berbelanja sendiri tanpa pendamping pria. Sebaiknya belanjalah bersama-sama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pantangan Keempat,&lt;/strong&gt; jangan memotret dalam Masjidil Haram. Anda harus merelakan tas Anda digeledah oleh petugas keamanan mesjid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pantangan Kelima,&lt;/strong&gt;  jangan naik taksi, sewa unta atau jasa lainnya,  kecuali Anda dan si  pemberi jasa sudah sepakat dengan harganya.  Intinya, tawar dulu dan  jangan langsung terima, dan jangan langsung  naik.&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;Pantangan Enam,&lt;/strong&gt;  jangan menawar jasa pemotretatan dari atas unta  secara sembarangan,  karena si pelayan akan langsung mengambil gambar  Anda dan memaksa Anda  membeli fotonya. Anda harus berani bilang, "No Picture".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5560545957182167544?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5560545957182167544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/enam-pantangan-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5560545957182167544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5560545957182167544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/enam-pantangan-haji.html' title='ENAM PANTANGAN HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1Gm-pXC9L54/TVvfi_bdgJI/AAAAAAAAAzQ/UTNQUKOeMu4/s72-c/S5003189.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-8490770994472416206</id><published>2011-02-12T21:58:00.003+07:00</published><updated>2011-02-12T22:06:07.287+07:00</updated><title type='text'>HAJI MABRUR = HAJI SOSIAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-QEjaY9JufyM/TVahQaEU4JI/AAAAAAAAAzI/6_pD9_5xkvI/s1600/Ak-12.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-QEjaY9JufyM/TVahQaEU4JI/AAAAAAAAAzI/6_pD9_5xkvI/s200/Ak-12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5572818892165013650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. AKBAR&lt;br /&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;br /&gt;Sinarmulya 2/5 No 46 Ciomas Bogor&lt;br /&gt;HP 08159244764&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Apakah itu haji mabrur, wahai Abu Bakar?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak di Madinah nanti,” jawab Abu Bakar singkat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Haji  mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam   titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “Dan haji yang mabrur, tiada   balasan baginya kecuali surga.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk mendapatkan janji  inilah, setiap Muslim akan melakukan  berbagai upaya dan pengorbanan  agar dapat menunaikan ibadah haji dan  sekaligus melakukan berbagai  ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur  (baik) atau maqbul  (diterima).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sayang, pemahaman tentang makna “haji  mabrur” itu seringkali  dibatasi oleh dinding-dinding ritual yang ketat.  Dalam memahami mabrur  atau tidaknya haji, seseorang jarang melihat  jauh di balik dari  praktik-praktik ritual yang terkait dengan haji.  Perhatian sepenunya  terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun,  wajib, maupun  sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaannya,  itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari  pelaksanaan ibadah haji?  Apakah ibadah haji sekadar dimaksudkan untuk  mengumpulkan pahala  sebanyak-banyaknya? Atau barangkali sekadar  dimaksudkan untuk  membersihkan dosa-dosa masa lalu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jawabannya pasti  tidak. Ibadah dalam Islam tidak maksudkan justeru  untuk membangun  “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan.  Ruku’ dan sujud  seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas kepuasan  pribadi atau  keinginan untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan  individu saja,  walau itu atas justifikasi akhirat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah rahasia dari  ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa  hajinya akan diketahui  mabrur atau tidak di saat telah kembali ke  Madinah (kampung  halamannya). Bahwa di saat kembali berada di  tengah-tengah kehidupan  kesehariannya, terjadi perubahan yang positif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imannya  menjadi semakin “tajam”, sehingga mampu menembus kuatnya  batas-batas  wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan  bertambah.  Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara  positif,  menjadikan semua di sekitarnya merasa aman dan tenteram karena  sang  haji.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdoman kepada cerita si tukang sepatu maupun  jawaban Abu Bakar  R.A. di atas jelas bahwa haji adalah amalan ibadah  dalam Islam yang  memiliki konsekuensi sosial yang tinggi. Betapa tidak?  Panggilan berhaji  dalam Islam itu sendiri dikumandangkan dalam bentuk  panggilan  “kemanusiaan”: Dan kumandangkanlah kepada manusia (wahai  Ibrahim) untuk  datang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu  (untuk berhaji)  dengan berjalan kaki dan mengendarai onta-onta yang  jinak. Mereka  berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh (Al Qur’an).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika  Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berhaji dalam Al  Qur’an, juga  dipakai panggilan “kemanusiaan”: Dan bagi Allah atas  manusia untuk  berhaji kepada Baitullah, bagi siapa yang mampu (Al  Qur’an).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua  hal dia atas menunjukkan ikatan sosial kemanusiaan yang  terdapat dalam  ibadah haji itu. Dan kenyataannya memang demikian. Di  saat musim haji,  mereka yang datang ke tempat-tempat suci itu hanya  dipandang dengan  satu pandangan, yaitu “pandangan kemanusiaan”. Mereka  tidak lagi  dipandang dalam ikatan-ikatan sosial dan keduniaan lainnya.  Hanya satu  kriteria yang membedakan di antara mereka, kriteria ketakwaan  yang  tidak ditentukan oleh afiliasi sosial manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesadaran  nilai sosial dalam haji ini seharusnya ditumbuh-suburkan  di saat  manusia diterkam oleh gaya hidup egoistik dunia modern.  Dinding-dinding  pembatas sosial begitu kuat menjadikan manusia  kehilangan koneksi  batin. Dinding-dinding itu menjadikan manusia saling  menilai, bukan  lagi dengan penilaian kemanusiaannya, tapi lebih dekat  kepada penilaian  hewaninya. Manusia saling berbangga dengan ras, suku,  warna kulit,  kebangsaan, dan tentunya tingkatan perekonomiannya. Seolah  semua inilah  yang menentukan harga diri (dignity) seorang anak insan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemampuan  menembus dinding-dinding pembatas sosial menjadi sebab  tumbuhnya rasa  solidaritas yang tinggi. Kesenangan atau penderitaan  sesama di  sekitarnya akan mudah terlacak, karena ada rasa kemanusiaan  yang  tinggi. Ada sensitivitas yang tajam untuk merasakan apa yang  terjadi di  sekitarnya. Terbangun kesadaran sosial yang tinggi sebagai  akibat dari  sensitivitas tadi. Perbedaan sosial atau status ekonomi  tidak menjadi  penghalang untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Disebutkan  dalam sejarah bahwa suatu ketika Umar bin Khattab pernah  berangkat  sholat Jum’at sambil memegang perutnya. Ketika ditanya oleh  seorang  sahabat, apa gerangan yang terjadi? Umar menjawab: “Demi Allah  saya  lapar dan tidak akan merasakan kenyang selama anak-anak yatim dan  kaum  miskin masih merasakan kelaparan.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beliaulah yang  pernah bertanya kepada seorang sahabatnya: “Apakah  engkau tidur dengan  baik semalam?” Sahabat menjawab: “Iya Umar, saya  tidur dengan nyenyak”.  Umar memberitahu: “Demi Allah, saya tidak nyenyak  tidur dalam tiga  malam ini karena khawatir akan dimintai  pertanggungjawaban oleh para  janda, anak yatim, dan kaum miskin pada  hari kiamat nanti”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  suatu malam beliau ke luar dari rumahnya untuk melakukan  pengecekan  langsung situasi kota Madinah. Dari kejauhan beliau melihat  api yang  menyala. Ketika mendekat didapatilah seorang ibu yang nampaknya  sedang  memasak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Umar bertanya: “Apa yang sedang Anda masak dan  kenapa memasak di  tengah malam?” Sang ibu menjawab: “Sungguh saya  memasak batu-batuan  untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan.  Mudah-mudahan dengan melihat  nyala api ini mereka tertidur sambil  menunggu makanan ini siap untuk  dihidangkan.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya  hanyalah seorang janda yang punya banyak anak. Umar sebagai  pemimpin  tidak bertanggung jawab membiarkan kami kelaparan seperti ini,”  lanjut  sang ibu sambil terus menerus menuduh Umar tidak bertanggung  jawab,  tanpa menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Umar  sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanpa  berbicara sepatah kata pun, airmata Umar mengalir membasahi  pipi dan  janggut beliau, mendengarkan pengaduan ibu itu. Beliau kemudian   meninggalkan ibu itu dan kembali ke Madinah malam itu juga langsung   menuju baitul mal (gudang penyimpangan bahan-bahan bantuan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diambilnya  sekarung gandum dan beberapa potong lauk (syahm) dan  dipikulnya  sendiri kembali menuju tempat ibu tadi. Di tengah jalan,  beliau  berpapasan dengan seorang sahabat. Sahabat terkejut melihat Umar   memikul sekarung gandum. Beliau menawarkan diri untuk membawakan karung   tersebut. Tawaran itu ditolak olehnya seraya berkata: “Akankah engkau   mengambil alih tanggung jawabku di hadapan Allah kelak?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sungguh  contoh solidaritas sosial yang agung dari sahabat dan  pemimpin agung.  Bahwa accountability (pertanggungjawaban) bukan sekadar  duniawi  sifatnya, tapi yang lebih penting adalah pertanggungjawaban di  akhirat  kelak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukankah di saat jutaan manusia menjerit dalam  genggaman kerisauan  ekonomi, tiada pekerjaan, harga kebutuhan pokok  yang melonjak, manusia  seharusnya tersadarkan akan urgensi haji sosial.  Di saat saudara-saudara  sebangsa dan seiman hidup dan menghidupi  keluarganya di bawah  kolong-kolong jembatan itu, di saat-saat para ayah  bercucuran keringat  tanpa pernah mencukupi kebutuhan keluarganya, di  saat ribuan anak-anak  potensi bangsa harus kehilangan kesempatan  belajar karena biaya  pendidikan yang tinggi, kita tersadarkan oleh  hajinya sang tukang  sepatu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Haji yang terbangun di  atas fondasi kesadaran sosial yang tinggi dan  bukannya haji yang  semakin membawa kepada prilaku egoistik atas nama  Tuhan dan ridhaNya. ﻿&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-8490770994472416206?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/8490770994472416206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/haji-mabrur-haji-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8490770994472416206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/8490770994472416206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/haji-mabrur-haji-sosial.html' title='HAJI MABRUR = HAJI SOSIAL'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QEjaY9JufyM/TVahQaEU4JI/AAAAAAAAAzI/6_pD9_5xkvI/s72-c/Ak-12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-6361336775668704977</id><published>2011-02-03T05:33:00.003+07:00</published><updated>2011-02-03T05:45:03.191+07:00</updated><title type='text'>FENOMENA TAQLID DAN MENGIKUTI TRADISI DALAM BERHAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TUndzA5bwyI/AAAAAAAAAy8/eXa_Prc5X4Q/s1600/Ak-05.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TUndzA5bwyI/AAAAAAAAAy8/eXa_Prc5X4Q/s200/Ak-05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569226282704290594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;H. AKBAR&lt;p&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ciomas Bogor&lt;/p&gt;&lt;p&gt;CP : 08159244764&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para  pembaca yang mulia, bila kita memerhatikan sekian kesalahan yang   terjadi pada kebanyakan jamaah haji, maka penyebabnya bermuara pada dua   faktor:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Faktor dari dalam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Faktor dari luar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor  dari dalam adalah penyebab yang berasal dari diri jamaah haji itu   sendiri. Hal ini terjadi manakala seorang jamaah haji mengabaikan bekal   ilmu yang hakikatnya merupakan bekal utama yang harus dia persiapkan.   Tentunya, ketika bekal ilmu tidak dimiliki maka manasik hajinya pun jauh   dari manasik haji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia akan   lebih cenderung mengikuti manasik haji yang dilakukan oleh mayoritas   orang (tradisi) di sekitarnya. Padahal apa yang dilakukan oleh mayoritas   orang itu belum tentu sesuai dengan tuntunan manasik Rasulullah   shallallahu ‘alaihi wa sallam. Permasalahan pun semakin runyam manakala   di antara jamaah haji itu ada yang berkeyakinan bahwasanya mengikuti   manasik haji/ tradisi yang biasa dilakukan mayoritas orang itu merupakan   jaminan kebenaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan  berkata: “Di antara masalah (yang  terjadi di masa, pen.) jahiliyyah  adalah bahwasanya mereka mengukur  suatu kebenaran dengan jumlah  mayoritas, dan menilai suatu kesalahan  dengan jumlah minoritas.  Sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan  orang berarti benar,  sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang  berarti salah. Inilah  patokan yang ada pada diri mereka dalam menilai  yang benar dan yang  salah. Padahal patokan ini keliru, karena Allah  Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;وَإِنْ  تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي  اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ إِنْ  يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ  الظَّنَّ وَإِنْ هُم إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dan  jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi  ini,  niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak  lain  hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain  hanyalah  berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Al-A’raf: 187)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;وَمَا وَجَدْنَا لأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقُوْنَ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dan  Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji.  Sesungguhnya  Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.”  (Al-A’raf:  102)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan lain sebagainya.” (Syarh Masa`il Al-Jahiliyyah, hal. 60)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh  Sulaiman bin Abdullah Alusy-Syaikh berkata: “Dalam hadits  ini1  terdapat bantahan terhadap orang yang berdalih dengan hukum  mayoritas,  dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka.  Tidaklah  demikian adanya. Bahkan yang semestinya adalah mengikuti  Al-Qur`an dan  As-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir  Al-‘Azizil  Hamid, hal.106).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh  berkata: “Hendaknya  seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu  dengan jumlah mayoritas,  karena telah banyak orang-orang yang tertipu  (dengannya). Termasuk  orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun.  Mereka berkeyakinan di dalam  beragama sebagaimana yang diyakini oleh  orang-orang bodoh lagi sesat  (mengikuti mayoritas manusia, pen.) dan  tidak mau melihat kepada apa  yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa  Ta’ala dan Rasul-Nya.” (Qurratu  ‘Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq  kitab Fathul Majid, hal. 83, no.  1)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para pembaca, dengan  demikian “budaya” ngikut tradisi atau ngikut  mayoritas orang dalam  beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  (termasuk dalam menunaikan  ibadah haji), tidak bisa dibenarkan dalam  syariat Islam. Oleh karena  itu, sudah saatnya bagi umat Islam untuk  berupaya meniti jejak  Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam dalam  segala amal ibadahnya,  agar apa yang dipersembahkan kepada Allah  Subhanahu wa Ta’ala tersebut  tidak sia-sia bahkan tercatat sebagai  amalan shalih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun  faktor penyebab dari luar adalah adanya orang-orang yang mudah  berfatwa  tentang urusan agama (termasuk masalah haji) tanpa ilmu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh  Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:  “Sebagian kaum  muslimin –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan  hidayah dan  taufiq-Nya kepada mereka– melakukan banyak perkara ibadah  tanpa  berasaskan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa   sallam. Terlebih dalam masalah haji, yang seringkali penyebabnya adalah   adanya orang-orang yang mudah berfatwa tanpa ilmu, serta saling   berlomba untuk mengeluarkan fatwa demi meraih pujian dan popularitas.   Sehingga terjadilah kesesatan dan penyesatan (terhadap umat).” –Hingga   perkataan beliau–: “Kebanyakan kesalahan yang terjadi pada jamaah haji   berpangkal dari sini (yakni; fatwa tanpa ilmu) dan saling meniru di   antara mereka (orang-orang awam) tanpa ada kejelasan dalilnya.”   (Akh-tha`un Yartakibuha Ba’dhul Hujjaj)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka dari itu, kami  serukan kepada segenap jamaah haji untuk benar-benar  selektif dalam  memilih guru pembimbing haji. Carilah guru pembimbing  yang berilmu dan  berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  shallallhu  ‘alaihi wa sallam, agar haji yang anda lakukan tergolong  haji mabrur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana  pula kami serukan kepada segenap jamaah haji agar menjauhi  sikap  taqlid buta dalam beribadah, termasuk ketika berhaji. Baik taqlid  buta  terhadap tradisi, ormas, partai, atau pun  tokoh/panutan/ustadz/kyai,  dsb. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela sikap  taqlid buta dalam beberapa  ayat-Nya dan menjelaskan kepada kita  bahwasanya sikap taqlid buta itu  merupakan kebiasaan kaum musyrikin2  ketika dakwah para nabi sampai  kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُوْنَ.   بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى   آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Apakah  seandainya telah kami datangkan kepada mereka sebuah kitab  (hujjah)  sebelum munculnya kesyirikan yang mereka lakukan, kemudian  mereka mau  berpegang dengannya? Ternyata justru mereka berkata:  “Sesungguhnya kami  telah mendapati nenek moyang kami di atas sebuah  prinsip (aqidah yang  mereka yakini), maka kami adalah orang-orang yang  mendapat petunjuk  dengan mengikuti jejak pendahulu kami.” (Az-Zukhruf:  21-22)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para  imam yang empat sendiri, tidak menganjurkan murid-muridnya dan  segenap  kaum muslimin untuk taqlid buta kepada mereka. Bahkan mereka  berpesan  agar umat ini kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya  yang  shahih. Berikut ini kami bawakan beberapa nukilan dari perkataan  mereka  yang terdapat dalam kitab Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi  wa  sallam karya Asy-Syaikh Al-Albani (hal. 46-53):&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Al-Imam Abu  Hanifah rahimahullah mengatakan: “Tidak halal bagi siapa  pun mengambil  pendapat kami tanpa mengetahui dari mana dasar hujjah yang  kami ambil.”  Dalam riwayat lainnya, beliau mengatakan: “Haram bagi  siapa pun yang  tidak mengetahui dalil yang saya pakai, untuk berfatwa  dengan pendapat  saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, pendapat  yang sekarang  kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk darinya (kami  tinggalkan  pendapat tersebut).”&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Saya  hanyalah manusia biasa  yang mungkin salah dan mungkin benar. Maka  telitilah pendapatku, apabila  sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah  maka ambillah. Dan apabila tidak  sesuai dengan keduanya maka  tinggalkanlah.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:  “Semua permasalahan yang  sudah disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam yang  shahih dan berbeda dengan pendapat saya, maka  saya rujuk dari pendapat  tersebut baik ketika saya masih hidup atau pun  meninggal dunia.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:  “Janganlah kalian taqlid  kepadaku dan jangan pula taqlid kepada Malik,  Asy-Syafi’i, Al-Auza’i,  atau (Sufyan) Ats-Tsauri. Akan tetapi ambillah  (dalil) dari mana mereka  mengambil.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penutup&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para pembaca yang mulia, setelah kita lalui beberapa bahasan di atas maka dapatlah disimpulkan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1.  Sebuah ibadah akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala  manakala  terpenuhi dua syarat; ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wa  Ta’ala  semata, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa  sallam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Ibadah haji merupakan jenis ketaatan yang utama dan  salah satu bentuk  taqarrub yang termulia. Karena itu haruslah  dipersembahkan untuk Allah  Subhanahu wa Ta’ala semata, tanpa diiringi  niatan duniawi, mencari nama,  gelar, pamor, dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3.  Perjalanan ke tanah suci sangat membutuhkan bekal ilmu. Karena dengan   ilmulah, seseorang akan terbimbing dalam melakukan ibadah hajinya   sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih   dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan kesalahan   sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan baginya   kecuali Al-Jannah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Seseorang yang akan menunaikan ibadah haji  hendaknya mencari guru  pembimbing yang berilmu lagi berpegang-teguh  dengan Kitabullah dan  Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  agar haji yang  ditunaikannya benar-benar di atas ilmu dan bashirah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4.  Sikap ikut-ikutan dalam beribadah (termasuk ketika berhaji) merupakan   perbuatan tercela. Demikian pula sikap taqlid buta terhadap tradisi,   ormas, partai, atau pun tokoh/panutan/ustadz/kyai dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5.  Para imam yang empat; Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad telah   bersepakat agar umat Islam kembali/merujuk kepada Sunnah Nabi   shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih di dalam menjalankan agamanya.   Sebagaimana pula mereka telah bersepakat agar umat Islam meninggalkan   pendapat mereka manakala tidak sesuai dengan Sunnah Nabi shallallahu   ‘alaihi wa sallam yang shahih. Mudah-mudahan hidayah dan taufiq Allah   Subhanahu wa Ta’ala selalu mengiringi kita semua, amin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-6361336775668704977?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/6361336775668704977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/fenomena-taqlid-dan-mengikuti-tradisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6361336775668704977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6361336775668704977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/02/fenomena-taqlid-dan-mengikuti-tradisi.html' title='FENOMENA TAQLID DAN MENGIKUTI TRADISI DALAM BERHAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TUndzA5bwyI/AAAAAAAAAy8/eXa_Prc5X4Q/s72-c/Ak-05.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-6578505617591887568</id><published>2011-01-27T08:46:00.002+07:00</published><updated>2011-01-27T09:00:12.713+07:00</updated><title type='text'>IBADAH HAJI DAN KEUTAMAANNYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TUDRZKrKAtI/AAAAAAAAAys/aXsxWTVbKz8/s1600/Ak-10.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TUDRZKrKAtI/AAAAAAAAAys/aXsxWTVbKz8/s200/Ak-10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566679369722233554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;H. AKBAR&lt;br /&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;br /&gt;Ciomas Bogor&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di antara sekian bentuk ketaatan (ibadah)  yang  paling utama dan sarana bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa  Ta’ala  yang termulia adalah ibadah haji. Bahkan ia termasuk ibadah yang  Allah   wajibkan, dan termasuk salah satu dari rukun Islam. Rasulullah   shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ   وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ   الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Agama  Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya  tidak ada  yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu  utusan Allah,  mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan  Ramadhan, dan  berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim  no. 16, dari  shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Allah Subhanahu  wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya untuk berhaji melalui  lisan Nabiyullah  Ibrahim ‘alaihissalam, agar para hamba dapat  menyaksikan segala yang  bermanfaat bagi kebaikan hidup dunia dan akhirat  mereka. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;وَأَذِّنْ  فِي  النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَىكُلِّ ضَامِرٍ  يَأْتِيْنَ  مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dan  umumkanlah kepada manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan   mendatangimu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta kurus dari   segala penjuru yang jauh untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi   mereka.” (Al-Hajj: 27-28)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana pula Allah Subhanahu wa  Ta’ala telah mengingatkan  orang-orang yang mampu berhaji agar mereka  mempersembahkan ibadah  hajinya hanya untuk-Nya semata. Allah Subhanahu  wa Ta’ala berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;وَلِلَّهِ  عَلَى النَّاسِ  حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ  كَفَرَ  فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dan  hanya karena Allahlah haji ke Baitullah itu diwajibkan bagi  manusia  yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang kafir  maka  sesungguhnya Allah tidak butuh terhadap seluruh alam semesta.”  (Ali  ‘Imran: 97)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi  wa sallam juga  mendorong umatnya untuk menunaikan ibadah yang mulia  ini. Sebagaimana  sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;يَا   أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ. فَقَامَ   اْلأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: أَفِي كُلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟   قَالَ: لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ، وَلَوْ وُجِبَتْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهَا   وَلَمْ تَسْتَطِيْعُوا أَنْ تَعْمَلُوا بِهَا، الْحَجُّ مَرَّةً، فَمَنْ   زَادَ فَتَطَوَّعَ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Wahai sekalian  manusia, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah  mewajibkan  kepada kalian ibadah haji!” Maka berdirilah Al-Aqra’ bin  Habis seraya  mengatakan: “Apakah haji itu wajib ditunaikan setiap tahun,  ya  Rasulullah?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:   “Kalau aku katakan; ya, niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun.   Dan bila diwajibkan setiap tahun, niscaya kalian tidak akan   menunaikannya, bahkan tidak akan mampu untuk menunaikannya. Kewajiban   haji itu hanya sekali (seumur hidup). Barangsiapa menunaikannya lebih   dari sekali, maka dia telah bertathawwu’ (melakukan perbuatan sunnah).”   (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, Ad-Darimi, Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan  Ahmad,  dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat  Irwa`ul  Ghalil, karya Asy-Syaikh Al-Albani juz 4 hal. 149-150)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan  beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan akan pahalanya  yang  besar, ganjarannya yang banyak dan sebagai penebus bagi segala  dosa.  Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Barangsiapa  berhaji karena Allah lalu tidak berbuat keji dan  kefasikan (dalam  hajinya tersebut), niscaya dia pulang dari ibadah  tersebut seperti di  hari ketika dilahirkan oleh ibunya (bersih dari  dosa).” (HR Al-Bukhari  dalam Shahih-nya no. 1521 dan Muslim no. 1350,  dari shahabat Abu  Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;الْعُمْرَةُ إِلَى  الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ  لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Antara satu umrah  dengan umrah berikutnya merupakan penebus  dosa-dosa yang ada di antara  keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada  balasan baginya kecuali  Al-Jannah.” (HR Muslim no. 1349, dari shahabat  Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Kewajiban Menunaikan Ibadah Haji dengan penuh Keikhlasan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap jamaah haji berkewajiban  untuk  memurnikan niat hajinya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan untuk   bertaqarrub kepada-Nya semata. Sebagaimana pula harus berhati-hati dari   tujuan duniawi, berbangga diri, mengejar gelar/sebutan (pak haji/bu   haji, pen.), ingin dilihat orang atau mencari pamor. Karena semua itu   dapat membatalkan amalan (haji anda, pen.) dan menjadikannya tidak   diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Taudhihul Ahkam, juz   4 hal. 3-4)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal senada disampaikan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  rahimahullah.  Beliau berkata: “Merupakan suatu kewajiban atas seorang  yang berhaji  untuk meniatkan haji dan umrahnya karena Allah Subhanahu  wa Ta’ala dan  mengharapkan kebahagiaan di negeri akhirat serta  meniatkannya untuk  bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan  segala perkataan dan  perbuatan yang diharapkan dapat mendatangkan  ridha-Nya di tempat-tempat  yang mulia tersebut. Dan hendaknya selalu  waspada dari tujuan duniawi,  riya` (ingin dilihat orang), mencari  pamor, dan untuk gagah-gagahan  semata. Karena ini merupakan  sejelek-jelek niatan dan termasuk sebab  tertolaknya suatu amalan.”  (At-Tahqiq wal Idhah Lil-Katsir Min Masa`ilil  Hajji wal ‘Umrah, hal.12)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Kewajiban Menunaikan Ibadah Haji sesuai Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan  suci menuju Baitullah membutuhkan bekal yang cukup. Di  samping bekal  harta, ilmu pun merupakan bekal yang mutlak dibutuhkan.  Dengan ilmu  lah, seseorang menjadi terbimbing dalam melakukan ibadah  hajinya dan  sesuai dengan Sunnah (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam.  Lebih dari itu, akan terhindar dari berbagai macam bid’ah dan   kesalahan, sehingga hajinya pun sebagai haji mabrur yang tiada balasan   baginya kecuali Al-Jannah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam momentum hajjatul wada’ (haji  terakhir), Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam pernah menyampaikan pesan  khusus kepada umatnya, agar mereka  menunaikan ibadah haji sesuai  dengan tuntunan manasik beliau shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ambillah dariku tuntunan manasik haji kalian.” (HR. Muslim no. 1297)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para  shahabat pun sangat memerhatikan pesan beliau ini. Tak heran, jika   banyak didapati berbagai riwayat tentang manasik haji yang mereka jalani   bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula para ulama,   tidak sedikit dari mereka yang menyusun kitab-kitab tentang manasik  haji  baik yang detail atau pun yang sederhana. Semua itu menggambarkan   kepada kita bahwasanya para pendahulu umat ini telah mempersembahkan   untuk kita ilmu tentang manasik haji, agar kita dapat berhaji sesuai   dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka dari itu,  di antara nasehat yang selalu disampaikan para ulama kita  kepada calon  jamaah haji adalah; hendaknya mereka serius untuk  mempelajari dan  mendalami ilmu (tuntunan) manasik haji sebelum  menunaikannya, dengan  satu harapan agar ibadah haji yang ditunaikannya  benar-benar sempurna  dan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh  Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Kami nasehatkan  kepada calon  jamaah haji, agar belajar terlebih dahulu tentang manasik  haji yang  dituntunkan di dalam Al-Qur`an dan Sunnah Nabi shallallahu  ‘alaihi wa  sallam sebelum menunaikan ibadah hajinya. Sehingga amalan  haji yang  ditunaikannya itu benar-benar sempurna dan diterima di sisi  Allah  Subhanahu wa Ta’ala.” (Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam,  hal. 10)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Sudah seharusnya  bagi seseorang  yang hendak berhaji untuk mempelajari dan mendalami  segala yang  disyariatkan tentang haji dan umrahnya. Dan hendaknya dia  juga  menanyakan hal-hal yang belum dipahaminya (kepada seorang yang  berilmu,  pen.) agar ibadah haji yang ditunaikannya benar-benar di atas  bashirah  (ilmu).” (At-Tahqiq wal Idhah, hal. 13) &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-6578505617591887568?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/6578505617591887568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/01/ibadah-haji-dan-keutamaannya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6578505617591887568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/6578505617591887568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/01/ibadah-haji-dan-keutamaannya.html' title='IBADAH HAJI DAN KEUTAMAANNYA'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TUDRZKrKAtI/AAAAAAAAAys/aXsxWTVbKz8/s72-c/Ak-10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-5157847405065633796</id><published>2011-01-25T09:44:00.002+07:00</published><updated>2011-01-25T09:49:31.903+07:00</updated><title type='text'>MENUNAIKAN HAJI, ANTARA SUNNAH DAN KUNGKUNGAN TRADISI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TT46BrKMTHI/AAAAAAAAAyk/NA0P_vVVxhk/s1600/Ak-12.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TT46BrKMTHI/AAAAAAAAAyk/NA0P_vVVxhk/s200/Ak-12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565949989916265586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;H. AKBAR&lt;/span&gt;&lt;p class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketua Bimbingan Ibadah Haji Arrafiiyah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="fnu"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Banyak tradisi berkembang di masyarakat yang mengiringi  orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Sebagai ibadah yang  membutuhkan pengorbanan besar, seyogyanya kita jangan sampai melakukan  amalan yang bisa merusak ibadah haji ini. Yang pasti, ibadah haji harus  dilakukan di atas niat yang tulus yaitu untuk mengharap balasan dari  Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan dijalankan di atas tuntunan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;span id="more-8"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rambu-rambu Penting dalam Beribadah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang  menyatakan diri siap memikul “amanat berat” yang tidak dimampui oleh  makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi, dan gunung-gunung. Padahal  makhluk yang bernama manusia ini berjati diri zhalum (amat dzalim) dan  jahul (amat bodoh). Amanat itu adalah menjalankan segala apa yang Allah  Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dan menjauhi segala apa yang Allah  Subhanahu wa Ta’ala haramkan (beribadah kepada-Nya). Sebagaimana dalam  firman-Nya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;إِِنَّا  عَرَضْنَا اْلأََمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ  فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا  اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan  gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu karena  khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.  Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah  Subhanahu wa Ta’ala mengangkat permasalahan amanat yang Dia amanatkan  kepada para mukallafiin. Yaitu amanat menjalankan segala yang  diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan, baik dalam keadaan  tampak maupun tidak. Dia tawarkan amanat itu kepada makhluk-makhluk  besar; langit, bumi dan gunung-gunung sebagai tawaran pilihan bukan  keharusan, ‘Bila engkau menjalankan dan melaksanakannya niscaya bagimu  pahala, dan bila tidak, niscaya kamu akan dihukum’. Maka makhluk-makhluk  itu pun enggan untuk memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya,  bukan karena menentang Rabb mereka dan bukan pula karena tidak butuh  akan pahala-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menawarkannya kepada  manusia, maka ia pun siap menerima amanat itu dan memikulnya dengan  segala kedzaliman dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Maka amanat  berat itu pun akhirnya berada di pundaknya.” (Taisirul Karimir Rahman,  hal. 620)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang  Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana, tidaklah membiarkan manusia mengarungi  kehidupannya dengan memikul amanat berat tanpa bimbingan Ilahi. Maka Dia  pun mengutus para Rasul sebagai pembimbing mereka dan menurunkan Kitab  Suci agar berpegang teguh dengannya serta mengambil petunjuk darinya.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ اْلكِتَابَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa  bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab Suci dan  neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”  (Al-Hadid: 25)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, jalan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  amatlah jelas dan terang, termasuk ibadah haji. Karena semuanya telah  tercakup dalam Al-Qur`an dan Sunnah Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam.  Adapun rambu-rambu penting dalam beribadah yang dikandung Al-Qur`an dan  Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, semuanya bermuara  pada dua perkara penting:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;1. Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.&lt;br /&gt;2. Mengikuti tuntunan dan jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Dua perkara tersebut merupakan pangkal kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan juga di akhirat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang  memerhatikan kondisi alam ini, niscaya ia akan mengetahui bahwasanya  sebab dari semua kebaikan yang ada di muka bumi ini adalah beribadah  hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata (tauhidullah) dan taat  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan sebab dari  kerusakan, fitnah, bala`, paceklik, dan kekalahan dari musuh adalah  menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyeru kepada  selain jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.” (Bada`i’ul  Fawa`id, 3/17)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan keduanya merupakan barometer, apakah sebuah ibadah yang dilakukan  seseorang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala ataukah ditolak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Sebuah ibadah  tidak bisa untuk bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan  tidak diterima oleh-Nya kecuali dengan dua syarat:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;1. Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan mempersembahkan  ibadah tersebut semata-mata mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan kebahagian di negeri akhirat, tanpa ada niatan mengharap pujian dan  sanjungan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;2. Mengikuti (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam  beribadah, baik dalam hal ucapan atau pun perbuatan. Mengikuti  (tuntunan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mungkin  terealisasi dengan baik kecuali dengan mengetahui Sunnah (ajaran) Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, siapapun yang  berkeinginan untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia  harus mempelajari Sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tersebut dari para ulama yang mumpuni. Bisa dengan berkoresponden  ataupun dengan berkomunikasi secara langsung. Dan merupakan kewajiban  bagi para ulama, sang pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk  menerapkan (terlebih dahulu, pen.) Sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa  sallam dalam ibadah, akhlak, dan muamalah mereka. Kemudian berupaya  untuk menyampaikan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut  kepada umat agar kehidupan mereka terwarnai dengan warisan beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam bentuk ilmu, amal perbuatan,  dan dakwah. Sehingga mereka termasuk orang-orang sukses yang beriman  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beramal shalih, dan saling berwasiat  dengan kebenaran dan kesabaran.” (Al-Manhaj Limuridil ‘Umrah wal Hajj)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu berkata: “Jika  kebahagiaan umat terdahulu dan yang akan datang dikarenakan mengikuti  jejak para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa orang yang paling  berbahagia adalah yang paling berilmu tentang ajaran para Rasul dan  paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling mengerti tentang  sabda para Rasul dan amalan-amalannya serta benar-benar mengikutinya,  mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap masa  dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama (yang  dibawa para Rasul tersebut, pen.). Dan dari umat ini adalah Ahlus  Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, juz 2, hal. 21)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Malik rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengada-adakan perkara  baru dalam agama (bid’ah) yang dia pandang itu adalah baik, sungguh ia  telah menuduh bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah  berkhianat terhadap risalah (yang beliau emban). Karena Allah Subhanahu  wa Ta’ala berfirman (artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan agama  bagi kalian, dan Aku telah lengkapkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku  ridha Islam sebagai agama kalian.” Atas dasar ini, segala perkara yang  pada waktu itu (yakni di masa Nabi/para shahabat) bukan bagian dari  agama, maka pada hari ini pula perkara itu bukan termasuk agama.”  (Al-I’tisham, 1/49)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-5157847405065633796?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/5157847405065633796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/01/menunaikan-haji-antara-sunnah-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5157847405065633796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/5157847405065633796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/01/menunaikan-haji-antara-sunnah-dan.html' title='MENUNAIKAN HAJI, ANTARA SUNNAH DAN KUNGKUNGAN TRADISI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TT46BrKMTHI/AAAAAAAAAyk/NA0P_vVVxhk/s72-c/Ak-12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-2058943164660249379</id><published>2011-01-15T18:11:00.004+07:00</published><updated>2011-01-15T19:59:13.567+07:00</updated><title type='text'>NILAI-NILAI TAUHID DALAM IBADAH HAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TTGCb2xC7tI/AAAAAAAAAyc/z7BbNHOkgng/s1600/Ak-15.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TTGCb2xC7tI/AAAAAAAAAyc/z7BbNHOkgng/s200/Ak-15.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562370429848579794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;H. Akbar&lt;br /&gt;Ketua BIH Arrafiiyah&lt;br /&gt;Sinarmulya 2/5 No 46 Ciomas Bogor 16610&lt;br /&gt;Telp. (0251) 8633938&lt;br /&gt;CP : 08159244764&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah  haji merupakan rukun Islam yang kelima, seorang muslim yang secara  finansial cukup dan secara fisik mampu, wajib baginya untuk segera  melaksanakan kewajiban ini. Ibadah haji mempunyai banyak keutamaan,  diantaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rosulullah saw dalam  beberapa hadistnya :&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Pertama &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;: Haji Mabrur pahalanya adalah syurga, sebagaimana hadist di bawah ini : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;عن  أبي هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : العمرة  إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج مبرور ليس له جزاء إلا الجنة &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rosulullah saw bersabda : “&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Umrah sampai umrah berikutnya merupakan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;kaffarat  ( penebus dosa ) yang dilakukan antara keduanya , dan haji mabrur tidak  ada pahalanya kecuali syuga ( HR Bukhari dan Muslim )&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kedua &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;: Haji Mabrur akan dihapus segala dosanya selama ini, sebagaimana hadist di bawah ini : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;عن أبي هريرة رضى الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من حج فلم يرفث ولم يفسق ، رجع كيوم ولدته أمه &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dari  Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata: Saya pernah mendengar  Rosulullah saw : ” Barang siapa yang melakukan iabdah haji sedang dia  tidak melakukan tindakan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;rafast ( melanggar aturan haji )  dan fasik, niscaya dia akan pulang ke kampungnya dalam keadaan bersih  dari dosa-dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan oleh ibunya ( HR  Bukhari dan Muslim )&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Ketiga &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;:  Haji Mabrur lebih utama ( khusus bagi wanita ) dari pada ikut berjihad  di jalan Allah, sebagaimana hadist Aisyah ra di bawah ini : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;عن عائشة رضى الله عنها ، قالت : قلت : يا رسول الله ، نرى الجهاد أفضل العمل أفلا نجاهد ؟ قال : لكن أفضل من الجهاد حج مبرور&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dari  Aisyah ra, berkata bahwasanya ia pernah berkata : ” Wahai Rossulullah  saw, kami melihat bahwa jihad merupakan amalan yang utama, bolehkan kami  ikut berjihad ? Sabda Rosulullah saw : ” Akan tetapi saya tunjukkan  amalan yang lebih utama dari jihad yaitu haji yang mabrur ( HR Bukhari )  &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Keutamaan –keutamaan tersebut hanya akan diraih oleh orang yang telah memenuhi syarat- syarat&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;yang  telah ditentukan oleh Allah dan Rosul-Nya untuk dapat diterima amal  ibadahnya, yaitu niat ikhlas hanya mencari ridha Allah dan sesuai dengan  tuntunan Rosulullah saw. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Selain  itu, ibadat haji sebenarnya mengandung ajaran-ajaran tauhid yang saat  ini banyak kaum muslimin yang tidak memperhatikannya, padahal tauhid  merupakan tujuan utama dari ibadah haji itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Diantara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji adalah sebagai berikut : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Pertama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Seseorang yang hendak melaksanakan haji, diharuskan untuk melakukan ” &lt;em&gt;Ihram “&lt;/em&gt;,  yaitu berniat haji hanya untuk mencari ridha Allah swt. Hal ini  menunjukkan nilai tauhid yang sangat tinggi, karena kalau dia  melaksanakan haji sekedar untuk pamer dan ingin dikatakan pak haji atau  bu haji, ataupun hanya sekedar ingin bekerja mencari uang, tentunya  ibadah hajinya tidak akan diterima oleh Allah swt. Inilah salah satu  makna kalimat ” La ilaha illallah ” , yaitu tidak bertindak, beramal  maupun beribadat kecuali hanya mencari ridho Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Kemudian  timbul sebuah pertanyaan : Apakah dibolehkan melaksanakan ibadah haji  sekaligus bekerja atau berdagang ? Jawabannya dibolehkan bagi seorang  yang melakukan ibadah haji untuk sambil berniaga atau bekerja, tersebut  dalam firman Allah swt : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;” Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu” . ( Qs Al Baqarah : 198 )&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Hanya saja kebolehan ini disyaratkan untuk tetap menjadikan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;ibadah haji sebagai tujuan utamanya dan berniaga sebagai pekerjaan sambilan. Namun&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;kenyataannya sekarang,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;bahwa  ibadah haji telah menjadi barang komoditi bagi orang-orang yang mau  memanfaatkan amalan akherat sebagai sarana untuk mencari keuntungan  dunia. Fenomena semacam ini sangat mempengaruhi cara beribadah,  bermuamalah dan berpikir pada sebagian besar kaum muslimin. Dan inilah  rahasia kenapa selalu ada kasus dan masalah dalam penyelenggaran ibadah  haji di negara kita. Kecenderungan untuk selalu mengejar keuntungan  dunia yang sebanyak-banyaknya tanpa&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;mengindahkan kode etik  ajaran Islam membuat suasana haji yang mestinya diliputi dengan  kekhusu’an, keikhlasan, kaharuan dan keimananan itu berubah menjadi  ketegangan, kekerasan, ketakutan, kecemasan dan kebimbangan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Tidak  jarang disela-sela ibadah haji terjadi pencurian, penipuan, perampokan,  perampasan, penggelapan uang, pelecehan seksual , bahkan pemerkosaan.  Ketika musim haji tiba, mestinya orang-orang yang berniat melakukan  ibadah haji mempersiapkan diri dengan memperbaiki niat dan mempelajari  cara-cara melakukan ritual manasik haji yang&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;sesuai dengan  tuntutan Rosulullah saw, akan tetapi yang kita dapati sekarang bahwa  yang menjadi pikiran sebagian dari kaum muslimin yang berangkat ke tanah  suci adalah bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya pada  musim tersebut, walaupun harus melanggar ajaran-ajaran Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Kedua : &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Ketika  ber-” ihram ” seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan pakaian  yang berjahit maupun yang berbentuk pakaian jadi, dan disunnahkan untuk  memilih warna putih.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini sebagai pesan bahwa Allah  swt tidaklah melihat kepada bentuk dan wajah manusia akan tetapi yang  dilihat adalah hati dan ketaqwaan. Ini sesuai dengan sabda Rosulullah  saw : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;إن الله لا ينظر إلى صوركم و لا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;”  Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan fisik kamu, akan  tetapi Allah hanya melihat kepada hati dan amal perbuatanmu &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Selain  itu, pakaian ihram yang serba putih mengingatkan kita bahwa manusia  suatu saat akan menghadap Allah swt di akherat nanti tanpa membawa  harta, keluarga, jabatan dan gelar, akan tetapi yang dibawa adalah  amalan dan ibadahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah saw : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أوعلم ينتفع به ، وولد صالح يدعو له &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;”  Jika anak Adam mati, maka terputus amal perbuatannya kecuali tiga hal :  sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang  mendo’akannya ( HR Muslim &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Oleh  karenanya, ketika salah satu dari kaum muslimin yang meninggal dunia,  tidak boleh kuburannya dibangun dan dihiasai sebagaimana menghiasi  gedung. Dan anehnya yang terjadi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;di negara-negara  kapilatis yang maju, mereka memakaikan baju yang terbaik untuk orang  yang sudah meningal, bahkan terkadang menyertakan barang-barang  kesayangannya ke dalam liang kuburannya, selain itu kuburan –kuburan  mereka dibangun dan dihiasi bagai&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;gedung-gedung yang megah. Dalam ayat lain Allah berfirman : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;وَمَا  أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا  زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء  الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;”  Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang  mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman  dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan  yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan  mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga) (QS.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Saba’ : 37 ) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Adapun pakaian ihram yang berwarna putih menunjukkan bahwa untuk menghadap Allah dibutuhkan kesucian&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dan  kebersihan hati dari noda-noda syirik, dan dari niat mencari selain  ridha Alah swt, dibutuhkan juga kebersihan hati dari rasa dengki , hasad  dan iri, serta kebersihan hati dari tanggungan orang lain. Oleh  karenanya, dianjurkan pada setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah  haji untuk melunasi hutang –piutangnya terlebih dahulu, mengembalikan  pinjaman dan titipan, meminta maaf pada orang-orang yang pernah  disakitinya, dan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;memohon do’a restu dari orang tua dan  para ulama. Hal itu dimaksudkan agar dalam melaksanakan ibadah haji  nanti, hatinya sudah bersih, tenang pikirannya, bahkan siap setiap saat  untuk menghadap Allah jika dipanggil Allah swt di tanah suci nanti.  Sungguh sangat benar firman Allah : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“(yaitu)  di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang  yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, ( QS. Asy-Syu’ara : 88-89  ) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Setelah  melakukan ” ihram “, orang yang melaksanakan ibadah haji dianjurkan  untuk secara terus menerus mengucapkan do’a ” talbiyah “&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;yang berbunyi : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك ، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;“Ya  Allah , kami menjawab panggilan-Mu secara terus menerus, tiada sekutu  bagi-Mu, sesunnguhnya segala pujian dan nikmat hanyalah milik-Mu ,  begitu juga seluruh kerajaan ( langit dan bumi ) hanyalah milik-Mu tiada  sekutu bagi-Mu . ” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Diriwayatkan bahwa Amru bin Lahyi seorang raja yang cukup lama memerintah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;daerah  Makkah dan sekitarnya, pada suatu ketika dia dengan beberapa rombongan  datang ke kerajaan Roma, di sana rombongan raja tersebut mendapatkan  orang-orang Romawi menyembah berhala, dan mereka tertarik untuk  mengikutinya, sehingga beberapa patung sempat diboyong ke Mekkah untuk  dijadikan sesembahan. Ketika Amru bin Lahyi hendak melakukan umrah, dia  mengucapkan : &lt;em&gt;” Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaik &lt;/em&gt;”  , mendengar hal itu, syetan tidak senang dan hendak menyesatkannya.  Untuk tujuan tersebut dia merubah dirinya menjadi manusia dan berkata  kepada Amru bin Lahyi : ” Wahai baginda raja, doa talbiyah itu masih ada  tambahannya, yaitu :&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;” &lt;em&gt;Illa syarikan huwa laka&lt;/em&gt; ” ( kecuali satu sekutu&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;milik-Mu).  Mendengar pernyataan syetan tersebut Amru bin Lahyi bergetar hatinya  dan merasa takut. Gelagat seperti itu tidak disia-siakan oleh syetan,  kemudian dia meneruskannya : &lt;em&gt;” Tamlikuhu wama laka&lt;/em&gt; ” ( Engkau memiliki sekutu tersebut dan apa-apa yang sudah menjadi milik-Mu)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Sejak  peristiwa itu, diketahui bahwa Amru bin Lahyi ini adalah orang pertama  kali yang memasukkan kalimat syirik dan mencampuradukkan dengan kalimat  talbiyah dalam haji di tanah Arab.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Rosulullah saw&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;bersabda dalam hadist Isra’ Mi’raj : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;عرضت عليَّ النَّار ؛ فرأيت فيها عمرو بن لحي يجرُّ قصبه في النار &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;” Diperlihatkan kepadaku api neraka, dan saya melihat usus perut Amri bin Lahyi diseret&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;ke dalam api neraka ” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Keempat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Orang  yang melaksanakan ibadah haji ketika sampai di Mekkah diperintahkan  untuk melakukan thowaf sebanyak tujuh kali, dan disunnahkan untuk  mencium ” hajar aswad “. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra. ketika  mencium hajar aswad pernah berkata kepada batu tersebut: ” Saya  mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak memberikan madharat  dan manfaat, kalau bukan karena saya pernah melihat Rosulullah saw  mencium-mu, maka aku tidak akan menciummu. ” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Perintah  untuk mencium hajar aswad yang tidak lebih dari sebuah batu tersebut  memberikan pesan bahwa dalam beribadah ini, kadang kita tidak mengetahui  hikmah dibaliknya, atau perbuatan tersebut tidak masuk akal kita,  tetapi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;karena itu adalah perintah Allah dan Rosul-Nya,  maka kita sebagai orang yang beriman wajib mendengar dan taat tanpa  mencari-cari alasan. Dalam hal ini Allah swt berfirman : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;وَمَا  كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ  أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ  اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;”  Dan tidak sepatutnya bagi orang laki-laki yang beriman dan begitu juga  perempuan yang beriman, jika Allah dan Rosul-Nya telah memutuskan suatu  keputusan, akan ada pilihan lain dalam urusan tersebut. Dan barang siapa  yang mendurhakai Allah dan Rosul-Nya, maka sungguh telah sesat dengan  kesesatan yang nyata . ” ( Qs Al Ahzab : 36 ) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Ayat di atas memberikan pengertian bahwa salah satu makna dari&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;kalimat  ” Lailaha illallah ” adalah bahwa tiada yang boleh ditaati perintah-Nya  secara mutlak kecuali perintah Allah swt dan perintah Rosul-Nya saja,  walaupun kadang-kadang perintah tersebut tidak ataupun belum bisa kita  cerna secara akal sehat, bukankah kita setiap hari melakukan sholat lima  waktu dengan jumlah rekaat tertentu, dan banyak dari kita yang tidak  tahu akan hikmah dibalik bilangan-bilangan rekaat dalam sholat tersebut ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Di  sisi lain, kita dapati umat agama lain selain Islam, mereka mentaati  para pemimpin dan pendeta, serta tokoh-tokoh agama mereka secara membabi  buta, walaupun sering bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh  Allah swt. Sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;اتخذوا  اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ  وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ  إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا  يُشْرِكُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;”  Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai  tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera  Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada  Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang  mereka persekutukan.( Qs At Taubah : 31 )&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Diriwayatkan  bahwa ketika mendengar ayat tersebut Adi Bn Hatim, salah seorang  sahabat yang pernah memeluk agama Nasrani berkata Rosulullah saw : Wahai  Rosulullah saw sebenarnya kami tidak menyembah para pendeta tersebut  dan tidak sujud kepada mereka ? Kemudian Rosulullah bertanya kepadanya :  &lt;em&gt;” Akan tetapi bukankah jika para pendeta tersebut mengharamkan apa  yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah  kemudian kamu mentaatinya ? ” Benar ya Rsoulullah ” Jawab Adi bin Hatim.  Kemudian Rosulullah saw bersabda : ” Itulah maksud&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;menyembah para pendeta&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” ( HR Ahmad dan Tirmidzi ) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Kelima : &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Setelah  melakukan thowaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali, seorang yang melakukan  ibadah haji diperintahkan untuk melakukan sholat dua reka’at di belakang  maqam nabi Ibrahim. Kenapa ? Hal itu untuk mengingatkan akan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;jasa-jasa nabi Ibrahim as, yang dijadikan Allah swt&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;sebagi bapak tauhid, karena telah meletakkan dasar-dasar tauhid bagi kehidupan manusia sesudahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Selain  itu, pada waktu sholat dua reka’aat tersebut disunnahkan untuk membaca  surat Al Kafirun pada reka’at pertama. Surat Al Kafirun itu berisi  tentang perlepasan diri dari seluruh apa yang disembah kecuali Allah swt  , dan pada reka’at kedua disunnahkan untuk membaca suratAl Ikhlas yang  berisi tentang ke-Esaan Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ini  semua memberikan pesan kepada kita bahwa kalimat tauhid harus selalu  disebut dan dipelajari serta digali secara terus menerus, untuk kemudian  diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Keenam : &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Setelah  melakukan thowaf tujuh kali, dan sholat dua rek’at dibelakang maqam  Ibrahim, diperintahkan untuk melakukan Sa’I antara Shofa dan Marwah  sebanyak tujuh kali. Ibadat ini mengingatkan kepada kita akan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;peristiwa  yang dialami oleh Siti Hajar bersama anaknya Ismail yang pada waktu itu  masih bayi. Mereka berdua ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tengah –tengah  gurun pasir yang kering, gersang dan panas. Ketika Siti Hajar  menanyakan kepada nabi Ibrahim tentang alasan perbuatan tersebut, nabi  Ibrahim hanya diam saja, Akantetapi ketika Siti Hajar bertanya apakah  ini perintah Allah swt ?, ketika juga nabi&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Ibrahim  mengiyakannya. Mendengar jawaban tersebut siti Hajar berkata : ” Kalau  begitu, saya yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kami “. Sebuah  pernyataan yang keluar dari wanita yang kokoh imannya. Tetapi walaupun  begitu, Siti Hajar tidaklah begitu saja pasrah dengan keadaan, dan hanya  duduk serta berdo’a kepada Allah menunggu datangnya pertolongam, akan  tetapi dengan kekuatan imannya tersebut, beliau bangkit dan berusaha  dengan sekuat tenaga mencari air untuk anaknya, berlarian pulang pergi  antara bukit Shofa dan Marwah, sambil terus bertawakkal dan berkeyakinan  bahwa Alah akan menolong dan membantu-Nya. Iya…nabi Ibrahim teelah  meninggalkannya dan anaknya dengan perintah Allah, maka Allah tidak akan  menyia-nyiakannya begitu saja. Dengan keyakinan kuat seperti itu, maka  keluarlah air zamzam dari kaki Ismail, hingga sampai sekarang bisa  seluruh umat Islam bias menikmati hasil dari keimanan Siti Hajar  tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Hal  yang sama juga pernah dilakukan oleh Rosulullah saw pada perjanjian  Hudaibiyah, ketika para sahabat sangat marah dan merasa dihinakan oleh  kaum kafir Qurays dengan isi perjanjian yang tidak adil dan sangat  merugikan kaum muslimin, mereka tidak bisa menerima isi perjanjian  tersebut dan mengeluh kepada Rosulullah saw. Melihat keadaan para  sahabatnya seperti itu, Rosulullah saw menghibur mereka dengan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;sebuah pernyataan yang diukir oleh sejarah dengan tinta emas : &lt;em&gt;” Itu adalah ketentuan Allah, saya hanyalah hamba-Nya, dan saya yakin bahwa Allah swt tidaklah akan menyia-nyiakan diriku “&lt;/em&gt;.  Begitulah kepercayaan seorang mukmin yang benar terhadap perintah dan  ketentuan Allah swt, yang walaupun secara kasat mata mungkin merugikan  dan tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi dia harus yakin bahwa  dibalik semua itu ada maslahat yang lebih besar yang tidak diketahuinya.  Dalam hal ini, Allah swt berfirman :&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;وَعَسَى  أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ  شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Boleh  jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah  mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( QS Al Bqarah : 216 ) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Itulah  salah satu makna dan arti dari kalimat tauhid : Lailaha illallah, yang  artinya tidak ada yang bisa dijadikan tempat sandaran dan tawakkal  kecuali&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Ketujuh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ketika  melakukan Sa’i antara Shofa dan Marwah, seorang yang melakukan ibadah  haji diperintahkan untuk berdo’a dengan lafadh sebagai berikut : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;الله  أكبر، الله أكبر ، الله أكبر, لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك،  وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، لا إله إلا الله وحده ، لا شريك له، أنجز  وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;” &lt;em&gt;Allah  Maha Besar 3x , Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya,  Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala  sesuatu, Tiada ada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang  telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan  pasukan Ahzab dengan sendiri saja.&lt;/em&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Do’a  di atas diulang-ulang sebanyak tiga kali dan dibaca setiap naik sampai  pada Shofa dan Marwah. Ini semua menunjukkan betapa besar ajaran tauhid  dalam ibadah haji. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Nilai Tauhid Kedelapan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ketika Wukuf di padang Arafah yang merupakan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;inti  dan rukun dari ibadah haji, orang yang melakukan ibadah haji dianjurkan  untuk banyak berdo’a, bersimpuh dan menangis di hadapan Allah swt serta  memohon ampunan dan rahmat-Nya. Karena wukuf di Arafah adalah waktu  yang paling utama dan berharga dalam hidup seseorang , pada saat –saat  tersebut Allah akan menyelamatkan para hamba-Nya dari api neraka dan  membanggakannya pada malaikat. Sebagaimana tersebut dalam salah satu  haditsnya : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;وروى  ابن حبان من حديث جابر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مَا مِنْ يَوْمٍ  أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، يَنْزِلُ اللَّهُ تَعَالَى  إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الْأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;” &lt;em&gt;Diriwayatkan  dari Ibnu Hibban dalam shohihnya dari hadust Jabir bahwasanya  Rosulullah saw bersabda : ” Tiada hari yang paling utama di sisi Allah  daripada hari Arafah , pada waktu itu Allah turun ke&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;langit yang paling dekat dan membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;kepada para penghuni langit&lt;/em&gt; ” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Waktu-waktu  yang mustajab untuk berdo’a adalah setelah tergelincir matahari hingga  terbenam dan puncaknya adalah beberapa saat sebelum terbenam matahari.  Yang unik dalam wukuf di Arafah ini adalah do’a yang pernah dilantunkan  oleh Rosulullah saw, sebagaimana yang tersebut dalam salah satu  haditsnya : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;أفضل  الدعاء يوم عرفة ، وأفضل ما قلته أنا والنبيون من قبلي: لا إله إلا الله  وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Do’a  yang paling utama pada hari Arafah dan perkataan paling utama yang  pernah aku ucapkan dan diucapkan oleh paa nabi sebelumku adalah : ”  Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai  kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu,( HR  Tirmidzi, Ahmad dan Malik ) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;    &lt;/span&gt;Kalau  kita perhatikan hadist di atas, ternyata tidak kita dapatkan lafadh  do’a, yang ada hanyalah lafadh pujian kepada Allah swt. Akan tetapi  walau begitu Rosulullah saw menyebutnya dengan do’a. Hal serupa pernah  ditanyakan seseorang kepada Sofyan bin Uyainah seorang pakar hadist pada  zamannya, bahwa lafadh dalam hadist di atas bukanlah do’a, beliaupun  menjawab bahwa Allah swt pernah berfirman dalam salah satu hadist  qudsi-Nya : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Simplified Arabic';font-size:100%;"  &gt;إذا شغل عبدي ثناؤه على عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;”  Jika hamba-Ku sibuk dengan memuji-Ku ( dalam riwayat lain disebutkan : ”  dengan mengingat-Ku ) sehingga lupa untuk berdo’a dan meminta  kepada-Ku, maka niscaya Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama  dari apa yang diminta oleh orang-orang yang mengucapkan do’a dan memohon  banyak permintaan “&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-2058943164660249379?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/2058943164660249379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/01/nilai-nilai-tauhid-dalam-ibadah-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/2058943164660249379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/2058943164660249379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2011/01/nilai-nilai-tauhid-dalam-ibadah-haji.html' title='NILAI-NILAI TAUHID DALAM IBADAH HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TTGCb2xC7tI/AAAAAAAAAyc/z7BbNHOkgng/s72-c/Ak-15.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-332771010198347470</id><published>2010-12-31T07:24:00.002+07:00</published><updated>2010-12-31T08:05:47.943+07:00</updated><title type='text'>JAM MEKAH ACUAN BARU JEMAAH HAJI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TR0r-CpZL0I/AAAAAAAAAyM/I0ULtSxdiaw/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 137px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TR0r-CpZL0I/AAAAAAAAAyM/I0ULtSxdiaw/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556645860107431746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:10pt;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi  sebagian jamaah haji  Indonesia, menuju Masjidil Haram bukan lagi  perkara sulit. Pembangunan   menara jam raksasa di Mekkah Arab Saudi  yang pengerjaannya sudah hampir  rampung 95 persen tersebut sangat  membantu jamaah haji mencari jalan  menuju Baitullah. Pasalnya, jam yang  berdiri di sebuah gedung setinggi  lebih dari 600 meter ini berada  persis di pelataran Masjidil Haram  Mekkah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Jam  itu sendiri berada di Kompleks Al Abraj Al Bait  Tower. Kompleks ini  berada di pelataran Masjdil Haram. Keberadaan jam  yang disebut Royal  Mecca Clock Tower Hotel ini memang cukup membantu  para jamaah haji di  seluruh dunia yang datang ke Mekkah khususnya mereka  yang ingin  menunaikan ibadah di Masjidil Haram. Biasanya mereka  menjadikan Jam  rakasasa yang berukuran 46 × 46 meter ini sebagai acuan  menuju Masjidil  Haram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Hal  ini juga dibuktikan dari data jamaah haji tersesat  di Mekkah yang  berkurang dibandingkan musim haji tahun lalu. Walau  harus diakui tidak  ada penelitian pasti penurunan jumlah jamaah haji  sesat itu  disebabkan  adanya Royal Mecca Clock Tower ini, namun sedikit  banyak jam ini turut  berkontribusi menjadi  patokan jamaah haji ketika  menuju dan pulang  dari Masjidil Haram. Bahkan banyak dari mereka yang  menjadikan Jam  raksasa ini sebagai acuan arah tempat berkumpul kembali  usai  melaksankan ibadah di Masjdil Haram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Royal  Mecca Clock Tower Hotel merupakan proyek  mercusuar pemerintah Kerajaan  Arab Saudi. Pembangunan mega proyek yang  sudah berlangsung selama  lebih dari dua tahun ini cukup membuat  dunia  tercengang.  Hal ini  dikarenakan adanya keinginan kuat pemerintah dan  ilmuan timur tengah  menjadikan jam raksasa ini sebagai rujukan waktu  dunia bernama Mecca  mean time (MMT) , menggantikan Greenwich Mean Time  (GMT) yang telah  berusia 126 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Jam  itu memiliki empat wajah berkilauan selebar 46  meter yang terdiri atas  ubin gabungan teknologi tinggi, sebagian dihiasi  dengan emas, dengan  posisi berada di sebuah bangunan gedung dengan  tinggi 601 meter. Berada  di pelataran komplek Masjidil Haram, banguan  akan menjadi yang  tertinggi kedua di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Harus  diakui penampilan menara jam raksasa itu sangat  mirip dengan dua  Menara St Stephens Tower,tempat jam terkenal Big Ben  berada.  Soal  tingginya, jam Mekkah ini mempunyai struktur bangunan  hotel setinggi  530 meter plus tinggi jam 71 meter, sehingga total  bangunan mencapai  601 meter.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Sementara  Big Ben cuma 94,8 meter.  Masih kalah jauh  dengan menara kembar  Petronas ( 452 m), Taipei 101 (509 m) bahkan Empire  State Building (381  m). Royal Mecca Clock Tower hanya bisa tersaingi  dengan bangunan  gedung tertinggi di dunia saat ini yakni Burj Al Khalifa  di Dubai (828  m).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Menara  jam Saudi  memang bertujuan untuk mengalahkan  saingannya, terutama Big  Ben di Inggris dalam segala segi.  Big Ben  mempunyai lebar 6,9 meter,  sementara  Jam Mekkah  mepunyai lebar 46  meter. Bahkan mengalahkan jam  terbesar di dunia yang rekornya dipegang  Cevahir Mall di Turki dengan  diameter 35 meter.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Menghabiskan  dana USD 3  miliar, Royal Mecca Clock Tower Hotel berdiri di atas  komplek Abraj Al   Bait.  Menara hotel ini berdiri diantara tujuh menara  raksasa disebuah  podium masif.  Di puncak jam akan  terdapat  lengkungan bulan sabit  sebagai lambang Islam, yang saat ini dalam tahap  penyelesaian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Keunikan  Menara Jam Mekah lainnya adalah setiap datang  waktu salat, 21 ribu  lampu hijau dan putih akan berpendar-pendar.  Ditambah 16 buah lampu  vertikal yang akan memancar sejauh 7 mil ke  udara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Lampu  ini akan berkedip selama lima kali sebagai  pertanda lima waktu shalat   sekaligus mengingatkan kaum muslimin di  sekitar Mekkah untuk  menunaikan salat. Lampu ini bisa dilihat dari jarak  18 mil atau 28,8  kilometer. Sayang ketika Jurnal Nasional menyambangi  Jam Mekkah ini,  lampu belum diujicobakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Jam  yang diujicobakan pada pekan pertama bulan suci  Ramadan atau 12  Agustus 2010 ini terbesar dari tujuh menara yang  membentuk komplek  al-Bait Abraj.  Akan menjadi pusat perbelanjaan  raksasa, lebih dari  2.000 kamarhotel, dua helipads  dan dapat menampung  hingga 30.000  orang. Hotel di menara jam itu sendiri akan memiliki 1.005  kamar,  kurang sedikit dari jumlah  Istana Westminster yang memiliki  1.100  kamar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Kompleks  ini dibangun oleh Bin Laden Group, perusahaan  konstruksi terbesar di  Arab Saudi  yang  diduga terkait erat dengan   orang nomor satu paling  dicari barat, Osama bin Laden.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Saingi GMT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Mohammed  al-Arkubi, selaku manajer Royal Mecca Clock  Tower Hotel mengatakan  instalasi jam tersebut dibuat oleh perusahaan  Dubai milik Jerman,  Premiere Composite Tecknologies.  Jam itu memang  bertujuan untuk  menyangi bahkan menggantikan posisi GMT ke MMT untuk acuan 1,6 miliar  penduduk muslim di seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Menara  jam Mekkah yang merupakan jam terbesar di dunia, kabarnya akan  menantang ketepatan waktu dari standar jam internasional GMT. Dengan  adanya menara jam Mekkah ini, Arab Saudi berharap menjadi acuan jam  untuk 1,5 miliar umat muslim di seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Sebelum  jam ini berdiri megah, telah banyak wacana dan  diskusi yang digelar.   Dalam sebuah konferensi di Doha pada 2008, para  ulama dan sarjana  Muslim mengajukan berbagai argumentasi "ilmiah bahwa  waktu Mekkah  adalah global meridian yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Mereka  mengatakan Mekkah adalah pusatnya dunia.  Sementara standar Greenwich  itu diterapkan oleh barat pada tahun 1884.  Tentu perdebatan mendasar  tak sekadara mempertentangkan antara barat dan  timur saja.&lt;br /&gt;Sejumlah ilmuwan muslim memaparkan argumentasi ilmiahnya terkait penggunaan MMT ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Dalam  sebuah konferensi di Qatar yang berjudul, Mekkah  Pusat Dunia, Teori  dan Praktik, mereka beralasan kota Mekkah memang  benar-benar berada di  pusat dunia. Seperti dillansir BBC seorang  pakar Geologi berpendapat  bahwa Mekkah berada di titik lintang yang  persis lurus dengan titik  magnetik Kutub Utara. Inilah yang membedakan  Kota Mekkah yang tidka  ditemui di Greeenwich.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Apalagi  menurut cendekiawan muslim, bangsa Inggris menetapkan GMT untuk seluruh  dunia ketika negara itu masih merupakan kekuatan kolonial yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Ulama  Timur Tengah Sheikh Yusuf Al Qaradawy,  mengatakan sains modern  menunjukkan bukti bahwa Mekkah berada di pusat  bumi yang sebenarnya,  yang sekaligus merupakan bukti tentang keagungan  arah Kiblat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Konferensi  di Qatar itu juga membahas temuan seorang  Muslim Perancis yang  berinovasi menciptakan arloji Mekkah.  Arloji itu  dilaporkan berputar  berlawanan dengan arah jarum jam yang biasanya  berputar ke kanan dan  juga bisa menunjukkan arah Kiblat dari tempat  manapun di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Konferensi  Qatar merupakan bagian dari upaya dunia  Islam untuk mencari  bukti-bukti mengenai sains dari kitab suci Al Quran.  Kecenderungan ini  disebut Ijaz Al-Quran yang kasarnya berarti  keajabaiban naskah kitab  suci.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Ide  dasarnya adalah bahwa kebenaran ilmiah sudah  tertera dalam Al Quran,  dan merupakan tugas para ilmuwan untuk mencari  bukti yang sudah ada  dalam ayat-ayatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Sementara  itu dari tanaha air dikabarkan, Mantan Wakil  Presiden RI Muhammad  Jusuf Kalla mendukung penuh rencana pemerintah  Arab Saudi untuk  menjadikan Mekah sebagai sentral waktu dunia.   Menurut  Kalla akan  sangat menguntungkan bagi dunia Islam emmiliki patokan waktu  terendiri.  "Tentu kami dukung, apalagi sebagai sesama negara yang  mayoritas  penduduknya Islam, " katanya sambil mengatakan sebuah konvensi  dunia  dibutuhkan untuk mentepakan MMT.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Ketua  Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin juga  menyambut positif memindahkan  pusat waktu dunia ke Makkah "Kami kira itu  ide yang baik namun perlu  ada kesepakatan dari seluruh dunia termasuk  Indonesia," ujar  Din  diJakarta Jumat (13/8).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Ditambahkan  Yusuf Qardawi, Mekkah lebih tepat  ditetapkan menjadi poros bumi. Dalam  talkshow Syariah dan Kehidupan,  Yusuf menegaskan bahwa Mekkah adalah  meridian utama dan menjadi "titik  keselarasan magnetis sempurna".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Dia  mengklaim kota suci Mekkah adalah "zona nol  magnet". Data ini  dikuatkan oleh beberapa temuan ilmuwan Arab seperti  Abdul Basyit dari  Pusat Penelitian Nasional Mesir yang mengatakan bahwa  tidak ada gaya  magnet di Mekkah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Itulah   sebabnya jika seseorang tinggal di sana atau  melakukan perjalanan di  sana, orang akan lebih sehat karena kurang  dipengaruhi medna magnet dan  gaya gravitasi bumi. "Anda mendapatkan  penuh energi," kata Qardawi  seperti dikutip Telegraph.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;Ilmuwan  Barat menentang pernyataan tersebut. Mereka  mencatat bahwa magnet  Kutub Utara melintasi garis bujur Kanada, Amerika  Serikat, Meksiko dan  Antartika.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-332771010198347470?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/332771010198347470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/12/bagi-sebagian-jamaah-haji-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/332771010198347470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/332771010198347470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/12/bagi-sebagian-jamaah-haji-indonesia.html' title='JAM MEKAH ACUAN BARU JEMAAH HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TR0r-CpZL0I/AAAAAAAAAyM/I0ULtSxdiaw/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-3005606264410222852</id><published>2010-12-23T12:09:00.004+07:00</published><updated>2010-12-23T12:18:50.144+07:00</updated><title type='text'>ADA APA SETELAH HAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TRLa1r6l2WI/AAAAAAAAAxw/gj2RHQOm55Q/s1600/hajj01.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 142px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TRLa1r6l2WI/AAAAAAAAAxw/gj2RHQOm55Q/s200/hajj01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553741906357639522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;H. Akbar&lt;br /&gt;Ketua Bimbingan Ibadah Haji Arrafiiyah&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Muqaddimah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah memilih  jamaah haji sekalian sebagai tamu-tamuNya. Ini merupakan karunia Allah  yang sangat besar, dimana jutaan umat Islam yang ingin datang ke tanah  suci menunaikan ibadah haji tapi masih belum dapat izin dari Allah, ada  saja halangan yang datang. Adapun jamaah sekalian telah mendapatkan  kemudahan dari Allah sehingga dapat merampungkan seluruh manasik haji  dari mulai umrah sampai tawaf wada, semoga Allah mencatatnya sebagai  haji yang mabrur diampuni segala dosa kita dan agar jamaah haji diberi  perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan pulang ke tanah air, amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanda Haji Mabrur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama kita menyebutkan  tanda-tanda haji yang mabrur, diantaranya Imam Hasan Al Bashri  rahimahullah berkata: (Haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari  ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta  akhirat). Allah berfirman yang artinya: "Dan carilah (pahala) negeri  akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi  janganlah kamu lupa bagianmu di dunia". (Surat Al-Qashash: 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zuhud Terhadap Dunia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang  yang zuhud bukan berarti orang yang hanya beribadah di masjid dan tidak  mau bekerja mencari harta untuk nafkah anak dan isteri tapi orang yang  zuhud orang yang tidak diperbudak oleh hartanya, dunia boleh berada di  tangannya tidak di hatinya, aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak  melalaikannya dari ingat kepada Allah, melaksanakan shalat yang lima  waktu tepat pada waktunya, tidak memutuskan silaturahmi, tetap rajin  menuntut ilmu islam lalu mengamalkan dan menda'wahkannya, tidak  melupakan tanggung jawab mendidik isteri dan anak-anak. Orang yang zuhud  adalah orang yang penghasilannya dari yang halal, bukan dari hasil  renten, riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu,  memakan hak orang lain. Semoga Allah mengaruniakan kita semua rezeki  yang halal, baik dan berkah serta dijauhkan dari segala pendapatan yang  haram, amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lebih Baik Dari Sebelumnya Dalam Segala Hal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  lagi yang mengatakan diantara tanda haji yang mabrur adalah setelah  pulang dari menunaikan ibadah haji, ia menjadi lebih baik dari  sebelumnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam Hal Tauhid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi lebih  baik dalam hal tauhid. Jika ada diantara jamaah haji yang sebelum  hajinya masih suka pergi ke dukun untuk minta kekayaan, anak, jodoh,  cepat naik pangkat dan lain-lain maka setelah kita haji dan bertaubat  kepada Allah  bersabda?hendaklah kita tinggalkan hal tersebut karena  Rasulullah  yang artinya, "Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau  dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan  apa yang telah diturunkan kepada Muhammad".&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa  yang sebelum ia haji, suka menyembelih sapi atau lainnya untuk  dijadikan sebagai tumbal atau sesajen maka sekarang harus  meninggalkannya dan menyembelih kurban hanya untuk Allah karena Allah  berfirman yang artinya: "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan  berkorbanlah'' (Surat Al- Kautsar 2)&lt;br /&gt;"Katakanlah sesungguhnya  shalatku, sesembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabbul  Alamin tidak ada sekutu baginya" (Surat Al-An'aam: 162)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang sebelum ia haji,  masih mempercayai ramalan bintang maka tinggalkanlah dan bertawakallah kepada Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa  yang sebelum hajinya masih  mengkeramatkan keris dan jimat-jimat, maka  sekarang musnahkanlah segala jimat yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa  yang sebelum hajinya masih suka meruwat bumi untuk menghindarkan  bencana, maka sekarang bertaubatlah dan tinggalkan upacara syirik itu,  bergantunglah kepada Allah karena yang dapat menghindarkan bencana hanya  Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang sebelum hajinya masih  mengkeramatkan sapi yang dikeluarkan setiap tanggal sepuluh Muharram  bahkan berebut untuk memperoleh kotorannya yang dianggap dapat  memberikan berkah, maka ketahuilah itu adalah perbuatan syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa  yang sebelum hajinya masih meyakini bahwa nasib sial akan menimpanya  jika bepergian hari Selasa atau Sabtu juga untuk menentukan waktu  pernikahan harus dihitung secara cermat karena kalau tidak pas harinya  akan menimbulkan kesialan, maka itu semua adalah syirik. Allah tidak  mengampuni dosa syirik kecuali jika pelakunya bertaubat, sesungguhnya  Allah Maha Penerima taubat. Allah mengharamkan surga bagi orang yang  berbuat syirik. Adapun orang-orang yang beriman dan tidak mencampur  adukkan keimanan mereka dengan kesyirikan maka mereka mendapatkan  keamanan dan hidayah dari Allah Taala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam Hal Ibadah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah  jamaah haji memperbaiki ibadahnya kepada Allah, shalat yang lima waktu  jangan sampai ditinggalkan, zakat maal harus dikeluarkan dan shaum di  bulan Ramadhan harus dijalankan. Segala ibadah kita laksanakan dengan  penuh rasa cinta kepada Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat  yang tidak terhingga. Kita siap korbankan harta, tenaga dan waktu kita  demi menggapai ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam Hal Muamalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah  kita perbaiki muamalah kita dengan orang tua yang telah melahirkan dan  mendidik kita sejak kecil. Jangan sampai kita menyakiti hati mereka dan  hendaklah selalu berbakti dan memperlakukan mereka dengan  sebaik-baiknya.. Jika orang tua kita telah meninggal dunia hendaklah  kita selalu mendoakan untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muamalah Suami Isteri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  para suami hendaklah perbaiki muamalah dengan isterinya jangan mudah  marah dan membentak isterinya jika berbuat kesalahan. Lakukanlah hal-hal  yang menyenangkan isteri selama tidak bertentangan dengan syariat.  Didiklah isteri dengan nasehat, membawanya ke majelis ta'lim,  membelikannya buku dan kaset ceramah yang bermanfaat. Juga didiklah  isteri dengan memberi keteladanan Rasulullah&lt;br /&gt;bersabda: "Sebaik-baik  kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan saya adalah orang  yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para  isteri perbaikilah muamalah dengan suami jadilah isteri yang taat..  Rasulullah  bersabda: "Apabila wanita shalat yang lima waktu, berpuasa  di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan memelihara kemaluannya, maka  ia masuk surga dari pintu-pintu mana saja yang ia mau".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaatan  kepada suami dalam hal yang makruf saja adapun dalam hal maksiat tidak  ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Al-Khaliq.  Ketika suami baru datang dari pekerjaan janganlah disambut dengan  berbagai macam problem dan hal-hal yang tidak menyenangkan tetapi  sambutlah dengan senyum, sediakanlah makan dan minum serta biarkanlah  suami untuk istirahat dulu setelah itu barulah sampaikan segala problem  yang ada niscaya suami sudah lebih siap untuk mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muamalah Orang Tua dan Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  para orang tua perbaikilah dalam pendidikan terhadap anak-anak, mereka  merupakan amanat yang kelak kita akan diminta pertanggungjawabannya di  hari akhir. Didiklah mereka dengan memberikan contoh yang baik,  sekolahkanlah mereka di tempat yang baik, awasilah pergaulan mereka.  Selalulah berdoa kepada Allah agar melindungi dan menjaga mereka dari  segala kejahatan dan keburukan karena doa orang tua untuk anaknya insya  Allah mustajab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muamalah Kaum Muslimah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  kaum muslimah perbaikilah dalam hal berbusana, tutuplah aurat anda dan  jangan diperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Allah  berfirman: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak  perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, (Hendaklah mereka  mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka). Yang demikian itu supaya  mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan  Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Surat Al-Ahzab: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah  kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan  memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,  kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka  menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan  perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah  suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami  mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera  saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka,  atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki, atau  pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap  wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan  janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka  sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai  orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung".  (Surat An-Nuur: 31)&lt;br /&gt;Rasulullah   bersabda: "Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah?  saya lihat keduanya (sebelum ini), (pertama) suatu kaum yang memiliki  cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakannya untuk memukul manusia dan  (kedua) wanita yang berpakaian tapi telanjang berjalan berlenggak  lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak masuk surga dan  tidak mencium bau surga padahal bau surga itu tercium dari jarak yang  sekian dan sekian jauhnya". (Hadits Shahih, Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  banyak diantara jamaah haji wanita yang berpakaian tapi telanjang,  belum sempurna menutup auratnya, masih ada yang terlihat lehernya,  terlihat lengannya, menutup aurat dengan pakaian yang ketat sehingga  membentuk lekak lekuk tubuhnya, berpakaian dengan bahan yang tipis dan  transparan sehingga terlihat kulitnya, pada hakekatnya mereka masih  telanjang dan diancam tidak masuk surga. Hendaklah jamaah haji wanita  menjadi sadar setelah menangis dan memohon ampun kepada Allah pada saat  wuquf di Arafah, apakah kita ulangi kembali dosa-dosa kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah  jamaah haji wanita menjadi teladan bagi kaum muslimah di tanah air yang  sedang dilanda dekadensi akhlak dan moral, didiklah puteri-puteri kita  agar berbusana muslimah, nasehatilah mereka agar tidak keluar rumah  dengan menggunakan celana pendek, celana panjang lebih-lebih celana yang  sangat ketat dan perutnya terlihat, innaalillahi wa innaa ilaihi  rajiuun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah jamaah haji wanita berdandan dan bersolek  mempercantik diri, tetapi untuk siapa? Bukan untuk orang-orang diluar  rumah tapi untuk suami di rumah, kenyataan yang ada banyak dari kaum  muslimah berdandan ketika keluar rumah padahal dilarang oleh Allah yang  kita cintai, Allah berfirman: "Dan hendaklah kamu (isteri-isteri nabi)  tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti  orang-orang jahiliyah yang dahulu". (Surat Al-Ahzab: 33)&lt;br /&gt;Ayat ini berlaku juga untuk segenap kaum muslimah dan mukminah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah   bersabda bahwa seorang wanita yang pergi keluar rumah dengan  menggunakan parfum sehingga tercium oleh laki-laki lain, maka  sesungguhnya ia itu pelacur. Setiap hari kita berdoa memohon hidayah  kepada Allah, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajari  jalan-jalan hidayah berupa ilmu yang bermanfaat karena masih banyak  diantara jalan-jalan hidayah yang belum kita ketahui dibandingkan yang  sudah kita ketahui. Jangan kita menganggap ini adalah hal yang baru kita  dengar, kami sudah terbiasa dengan adat kami dan dalih-dalih lainnya  yang tidak bisa diterima oleh syariat. Allah berfirman: "Dan apabila  dikatakan kepada mereka: lkutilah apa yang telah diturunkan Allah mereka  menjawab: Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati  dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti  juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun,  dan tidak mendapat petunjuk?" (Surat Al-Baqarah: 170)&lt;br /&gt;Dan firmanNya:  "Dan tidaklah boleh bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi  perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu  ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan  mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah  dia telah sesat, sesat yang nyata". (Surat Al-Ahzab: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muamalah Secara Umum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah  kita semua memperbaiki diri dalam hal tanggung jawab kita memperbaiki  masyarakat. Bentengi aqidah umat dengan menyebarkan ilmu yang  bermanfaat, dengan saling nasehat menasehati untuk menepati kebenaran  dan nasehat menasehati untuk menetapi kesabaran, dengan saling   bekerjasama dalam hal kebaikan dan taqwa. Tidak sedikit umat Islam di  Indonesia murtad dari agamanya disebabkan kelengahan dan kelalaian kita.  Benar sebab mereka murtad adalah karena lemah iman ditambah lagi dengan  lemah ekonomi, tapi apakah boleh kita diam dan berpangku tangan? Tidak,  kita harus berbuat sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita tidak  bisa mendidik mereka karena keterbatasan ilmu kita, ajaklah mereka untuk  menghadiri majelis-majelis ilmu, bagikan buletin dan buku-buku Islam,  pinjamkan kaset-kaset ceramah yang bermanfaat. Jika mereka malas bekerja  berilah motivasi, jika mereka nganggur carikanlah pekerjaan untuk  mereka, jika puteri-puteri kita sudah dewasa carikanlah untuk mereka  suami yang baik keislamannya jangan kita biarkan mereka menikah dengan  laki-laki kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda sebagai pejabat janganlah anda  menghalangi dan mempersulit orang-orang yang ikhlas mengajak manusia  untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik, untuk mengikuti  sunnah Nabi dan tidak berbuat bid'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang tua yang  mempunyai anak puteri memakai jilbab atau cadar dukunglah mereka dan  banggalah terhadap anak anda yang taat kepada Allah, semoga Allah  menghiasi puteri anda dengan akhlak yang baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi jamaah  haji yang memiliki kelebihan harta dapat beramal jariyah dengan  membelikan kitab-kitab yang bermanfaat untuk ustadz-ustadz yang ada di  tanah air. Dan masih banyak amal-amal lainnya yang dapat kita lakukan  dalam upaya kita memperbaiki diri dan masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-3005606264410222852?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/3005606264410222852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/12/ada-apa-setelah-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/3005606264410222852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/3005606264410222852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/12/ada-apa-setelah-haji.html' title='ADA APA SETELAH HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TRLa1r6l2WI/AAAAAAAAAxw/gj2RHQOm55Q/s72-c/hajj01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-196381639580986205</id><published>2010-11-02T05:29:00.004+07:00</published><updated>2010-11-02T05:39:33.723+07:00</updated><title type='text'>TUNTUNAN IBADAH HAJI (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TM8_u4sLQRI/AAAAAAAAAxA/53fhssNRjek/s1600/Masjidil+Haram.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 153px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TM8_u4sLQRI/AAAAAAAAAxA/53fhssNRjek/s200/Masjidil+Haram.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534712541785833746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;H. Akbar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Ketua Bimbingan Ibadah Haji Arrafiiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. DEFINISI HAJI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;a. Secara Etimologi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kata haji berasal dari bahasa arab yang bermakna tujuan dan dapat dibaca dengan dua lafazh &lt;em&gt;Al-hajj&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Al-Hijj&lt;/em&gt; &lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Secara terminologi syariat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Haji menurut istilah syar’i adalah beribadah kepada Allah dengan   melaksanakan manasik yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; &lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;  dan ada pula ulama yang berpendapat: “Haji adalah bepergian dengan   tujuan ke tempat tertentu pada waktu yang tertentu untuk melaksanakan   suatu amalan yang tertentu pula&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;.   Akan tetapi definisi ini kurang pas karena haji lebih khusus dari apa   yang didefinisikan di sini, karena seharusnya ditambah dengan satu   ikatan yaitu ibadah, maka apa yang ada pada definisi pertama lebih   sempurna dan menyeluruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;2. DALIL PENSYARI'ATANNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;Haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan dia   merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seorang muslim   yang mampu, sebagaimana telah digariskan dan ditetapkan dalam Al-Qur’an,   As-Sunnah dan Ijma’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun dalil dari Al-Qur’an:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلاً ومن كفر فإن الله غني عن العـالمين&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt;M&lt;/em&gt;&lt;em&gt;engerjakan haji adalah kewajiban manusia   terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke   Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya   Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”&lt;/em&gt;. (QS. Ali Imran, 97)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;وأتموا  الحج والعمرة  لله فإن أحصرتم فما  استيسر من الهدي ولا تحلقوا رؤوسكم حتى  يبلغ الهدي محلة فمن كان منكم  مريضًا أو به أذًى من رأسه ففدية من صيام أو  صدقة أو نسك فإذا أمنتم فمن  تمتع بالعمرة إلى الحج فما استيسر من الهدي فمن  لم يجد فصيام ثلاثة أيام  فى الحج وسبعة إذا رجعتم تلك عشرة كاملة ذلك لمن  لم يكن أهله حاضرى المسجد  الحرام واتقوا الله واعلموا أن الله شديد العقاب&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu   terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah)   kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum   kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang   sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah   atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban.   Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan   umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih)   kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang   kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji   dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh   (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi   orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram   (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada   Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Baqarah,196)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalil dari As-Sunnah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;خطبنا رسول الله  فقال يأأيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Telah berkhutbah Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; kepada kami dan berkata: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;&lt;em&gt; telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.”&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;(HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan hadits Ibnu Umar &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;, Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Islam itu didrikan atas lima perkara yaitu persaksian bahwa   tidak ada sesembahan yang berhak disembah (dengan benar) kecuali Allah   dan bersaksi bahwa Muhammad &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,berhaji ke baitullah dan puasa di bulan ramadhan.”&lt;/em&gt; (H.R. Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalil ijma’ (konsesus) para Ulama’&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama dan kaum muslimin dari zaman Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; sampai sekarang telah bersepakat bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib.&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;3. SYARAT-SYARAT HAJI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;Haji diwajibkan atas manusia dengan lima syarat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Islam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Berakal&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Baligh&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Memiliki kemampuan perbekalan dan kendaraan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Merdeka&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;4. MIQOT-MIQOT UNTUK HAJI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Miqat&lt;/em&gt; adalah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh syari’at untuk suatu ibadah baik tempat atau waktu.&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Dan haji memiliki dua &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt; yaitu miqat &lt;em&gt;zamani&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;makani&lt;/em&gt;. Adapun &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt; &lt;em&gt;zamani&lt;/em&gt;  dimulai dari malam pertama bulan syawal menurut kosensus para ulama,   akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kapan berakhirnya bulan   haji. Perbedaan ini terbagi menjadi tiga pendapat yang masyhur yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Syawal, Dzul Qa’dah, dan 10 hari dari Dzul Hijjah dan ini merupakan   pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, dan Ibnu Zubair dan ini   yang dipilih madzhab hanbali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.Syawal, Dzul Qa’dah, dan 9 hari dari Dzul Hijjah dan ini yang dipilih madzhab Syafi’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah ini yang dipilih madzhab malikiyah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan yang rajih -&lt;em&gt;wallahu’alam&lt;/em&gt;- bahwa bulan Dzul Hijjah seluruhnya termasuk bulan haji dengan dalil firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال فى الحج&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa   yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka   tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam   masa mengerjakan haji.” &lt;/em&gt;(QS Al-Baqarah, 197)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan firman Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; :&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;وأذان من الله ورسوله إلى الناس يوم الحج الأكبر أن الله بريء من المشركين&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada   manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya   berlepas diri dari orang-orang musyirikin.” &lt;/em&gt;(QS At-Taubah 9:3)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam surat Al-Baqarah ini Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; berfirman (أشهر) dan   bukan dua bulan sepuluh hari atau dua bulan sembilan hari. padahal   (أشهر) jamak dari (شهر) dan hal itu menunjukkan paling sedikit tiga   bulan dan pada asalnya kata (شهر) masuk padanya satu bulan penuh dan   tidak dirubah asal ini kecuali dengan dalil syar’i &lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; maka tidak boleh berhaji sebelum bulan syawal dan tidak boleh mengakhirkan suatu amalan haji setelah bulan Dzulhijjah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai contoh seorang yang berhaji pada bulan Ramadhan maka ihramnya   tersebut tidak dianggap sah untuk haji akan tetapi berubah menjadi   ihram untuk Umrah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun miqat makani, maka berbeda-beda tempatnya disesuaikan dengan   negeri dan kota yang akan menjadi tempat awal para haji untuk melakukan   ibadah hajinya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasullulah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;وقت  رسول الله  لأهل المدينة ذا الحليفة  ولأهل الشام الجحفة ولأهل النجد قرن  ولأهل اليمن يلملم قال هن لهن لمن أتى  عليهن من غير أهلهن ممن كان يريد  الحج و العمرة فمن كان دونهن مهله من  أهله وكذلك أهل مكة يهلون منها&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; telah menentukan miqat bagi ahli Madinah &lt;strong&gt;Dzul Hulaifah&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn7"&gt;&lt;em&gt;*&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; dan bagi ahli Syam &lt;strong&gt;Al-Juhfah&lt;/strong&gt; dan bagi ahli Najd &lt;strong&gt;Qarn&lt;/strong&gt; dan bagi ahli Yamam &lt;strong&gt;Yalamlam&lt;/strong&gt;  lalu bersabda: “mereka (miqat-miqat) tersebut adalah untuk mereka dan   untuk orang-orang yang mendatangi mereka selain penduduknya bagi orang   yang ingin haji dan umrah. Dan orang yang bertempat tinggal sebelum   miqat-miqat tersebut, maka tempat mereka dari ahlinya, dan demikian pula   dari penduduk Makkah berhaji (ihlal) dari tempatnya Makkah.”&lt;/em&gt; (H.R Bukhari 2/165, 166; dan 3/21, Muslim 2/838-839, Abu Dawud 1/403, Nasa’i 5/94,95,96)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari hadits diatas Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; telah menerangkan bahwa miqat ahli Madinah adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzul Hulaifah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang dikenal sekarang dengan nama Abyar Ali yaitu sebuah tempat di Wadi Aqiq yang berjarak enam mil atau 5&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;/&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt; mil kurang seratus hasta&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn8"&gt;[7]&lt;/a&gt;  yang setara kurang lebih 11 km. dari Madinah. Dan dari makkah sejauh   sepuluh marhalah atau kurang lebih 430 Km dan sebagian ulama mengatakan   435 Km. Dan &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt; penduduk Syam adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;al-Juhfah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yaitu suatu tempat yang sejajar dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Raabigh&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan dia berada dekat laut, jarak antara &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Raabigh &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(tempat   yang sejajar dengannya) dengan makkah adalah lima marhalah atau  sekitar  201 Km, dan berkata sebagian ulama sekitar 180 km. Akan tetapi  karena  banyaknya wabah di &lt;strong&gt;&lt;em&gt;al-Juhfah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, maka para jamaah haji dari Syam mengambil &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Raabigh &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;sebagai ganti al-Juhfah. &lt;em&gt;Miqat&lt;/em&gt; ini juga sebagai &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt; penduduk Mesir, Maghrib, dan Afrika Selatan seperti Somalia jika datang melalui jalur laut atau darat dan berlabuh di&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Raabigh, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;akan tetapi kalau mereka datang melalui &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Yalamlam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; maka miqat mereka adalah miqat ahli Yaman yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Yalamlam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Yalamlam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  yang dikenal sekarang dengan daerah As Sa’diyah adalah bukit yang  memisahkan Tuhamah dengan As-Saahil, berjarak dua marhalah atau sekitar  80 km dari Makkah, dan berkata sebagian ulama sekitar 92 km.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula miqat penduduk Najd adalah&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Qarnul Manazil&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; atau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Qarnul Tsa’alib&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,   yaitu sebuah bukit yang ada di antara Najd dan Hijaz. Jaraknya dari   makkah dua marhalah atau sekitar 80 Km. dan berkata sebagian ulama   sekitar 75 Km&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn9"&gt;*&lt;/a&gt; demikian juga ahli Thaif dan Tuhamah Najd serta sekitarnya.&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn10"&gt;[8]&lt;/a&gt; Kemudian ada satu miqat lagi yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzatu ‘Irq&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yaitu tempat yang sejajar denagn &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Qarnul Manazil&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  yang terletak antara desa al-Mudhiq dan Aqiq Ath-Thaif,  jaraknya dari  Makkah dua marhalah atau sekitar 80 km. Dan miqat ini  juga untuk  penduduk Iraq. Akan tetapi terjadi perselisihan dari para  ulama tetang  penetapan Dzatul ‘Irq sebagai miqat, apakah didasarkan dari perintah  Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; atau dari perintah Umar bin Khaththab &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. Pendapat pertama menyatakan bahwa Nabilah yang menetapkannya   sebagaimana dalan hadits Abu Dawud dan An-Nasa’i dari ‘Aisyah beliau   berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أن رسول الله وقت لأهل العراق ذات العرق&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; telah menentukan miqat ahli ‘Iraq adalah Dzatul ‘irq”&lt;/em&gt; (H.R Abu Dawud no. 1739 dan an-Nasa’i 2/6)&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn11"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Pendapat kedua mengatakan bahwa Umar bin Khaththab &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;  yang menetapkannya. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari ketika penduduk   Bashrah dan Kufah mengadu kepada Umar tentang jauhnya mereka dari Qarnul   Manazil, bekata Umar &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;فانظروا حذوها من طريقكم&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Lihatlah tempat yang sejajar dengannya (Qarnul Mnazil) dari jalan kalian.”&lt;/em&gt; Lalu Umar menetapkan Dzatul ‘Irq (H.R Bukhary 1/388) dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang rajih –&lt;em&gt;wallahu’alam&lt;/em&gt;- bahwa miqat tersebut telah ditetapkan oleh Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; dan penetapan Umar tersebut bersesuian dengan apa yang telah ditetapkan Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;, dan ini adalah pendapatnya Ibnu Qudamah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Miqat-miqat diatas diperuntukkan bagi ahli tempat-tempat tersebut dan   orang-orang yang lewat melaluinya dari selain ahlinya, sehingga setiap   orang yang melewati miqat yang bukan miqatnya maka wajib baginya untuk   berihram darinya. Misalnya: orang Indonesia yang melewati Madinah dan   tinggal disana satu atau dua hari kemudian berangkat umrah atau haji   maka wajib baginya untuk berihram dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzul Hulaifah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; atau ahli Najd atau ahli Yaman yang melewati Madinah tidak perlu pergi ke &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Qarnul Manazil&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; atau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Yalamlam &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;akan tetapi diberi kemudahan oleh Allah &lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt; untuk berihram dari&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Dzul Hulaifah.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;kecuali ahli Syam yang melewati madinah dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Juhfah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, maka ada perselisihan para ulama tentang kebolehan mereka menunda ihramnya sampai ke &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Juhfah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. pendapat pertama membolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan ihram mereka sampai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Juhfah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,   dan ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik. Mereka berdalil   bahwa seorang yang melewati dua miqat wajib baginya berihram dari  salah  satu dari keduanya. Satu dari keduanya adalah cabang, yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzul Hulaifah,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan yang kedua adalah asal, yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Juhfah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  ,maka boleh mendahulukan asal dari cabangnya. dan pendapat ini yang   dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana dinukilkan   Al-Ba’ly dalam &lt;em&gt;Ikhtiyarat al-Fiqhiyah&lt;/em&gt; halaman 117.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa mereka wajib berihram dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dzul Hulaifah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  karena zhahir hadits dari Ibnu Abbas diatas, dan ini adalah pendapat   Jumhur Ulama. Dan ini adalah pendapat yang lebih hati-hati kerena   keumuman sabda Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;ولمن أتى عليهن من غير أهلهن&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan bagi yang datang melaluinya dari selain ahlinya”&lt;/em&gt; (Hadits Ibnu Abbas).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun mereka yang berada di antara miqat dengan makkah maka wajib   berihram dari tempat dia tetapkan niatnya untuk berhaji atau berumrah.   Maka hal ini menguatkan penduduk yang berada di antara Dzul Hulaifah dan   Al-Juhfah seperti penduduk ar-Rauha’, penduduk Badr dan Abyar al-Maasy   untuk berihram dari tempat mereka. Demikian juga kalau ada seorang   penduduk madinah kemudian bepergian ke Jeddah dan tinggal di sana satu   atau dua hari kemudian ingin berumrah atau berhaji maka miqatnya adalah   Jeddah kecuali kalau asal tujuan bepergiannya adalah umrah atau haji   maka hajatnya tersebut ikut asal tujuannya sehingga dia ihram dari   miqatnya yaitu Dzul Hulaifah. contohnya: Seorang mengatakan saya ingin   pergi umrah dan saya akan turun dulu di Jeddah sebelum umrah untuk   membeli barang-barang yang saya butuhkan, maka disini kepergiannya ke   Jeddah adalah ikut kepada asal tujuannya yaitu umrah. Akan tetapi kalau   asal tujuannya adalah pergi ke Jeddah dikarenakan ada kebutuhan yang   sangat penting kemudian berkata: “Kalau dikendaki Alah dan saya   mempunyai kesempatan, saya akan berumrah, maka disini umrah ikut kepada   asal tujuan yaitu ke Jeddah. Maka dia berihram di Jeddah dan jika dia   memilliki dua tujuan yang sama kuat maka diambil tujuan melaksanakan   umrah sebagai asal. Demikian juga bagi ahli Makkah, mereka berihram dari   Makkah untuk berhaji. Sedangkan untuk umrah, maka mereka harus keluar   tanah haram Makkah yang paling dekat. Dengan dalil hadits Ibnu Abbas   yang terdahulu dan hadits Aisyah ketika beliau berumrah setelah haji   maka Rasululllah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; menyuruh Abdurrahman bin Abi Bakar untuk mengantarnya ke Tan’im, sebagaimana dalam hadits Abdurrahman, beliau berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أمرني رسول الله  أن أردف عائشة وأعمرها من التنعم  (متفق عليه)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;em&gt; telah memerintahkanku untuk menemani Aisyah dan (Aisyah) berihram untuk umrah dari Tan’im “&lt;/em&gt;(H.R Mutafaq ‘alaih)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah miqatnya ahli Makkah baik dia penduduk asli maupun   pendatang berihram dari rumah-rumah mereka jika akan berhaji dan keluar   ke tempat yang halal (di luar tanah haram Makkah) yang terdekat jika   akan berumroh. Kemudan bagi mereka yang tidak melewati miqat-miqat   tersebut, maka wajib bagi mereka untuk berihram dari tempat yang sejajar   dengan miqat yang terdekat dari jalan yang dilewati tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesimpulan dari pembahasan ini bahwa mansia itu tidak lepas dari 3 keadaan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Dia berada di dalam batas haram Makkah, ini dinamakan al-Harami   atau al-Makki maka dia berikhram untuk haji dari tempat tinggalnya, dan   kalau berumrah maka harus keluar dari haram dan berihram darinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Berada di luar haram Makkah dan berada sebelum &lt;em&gt;Miqat&lt;/em&gt; maka mereka berihram dari tempatnya untuk berhaji dan berumrah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Berada di luar &lt;em&gt;Miqat&lt;/em&gt; maka mereka memiliki dua keadaan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. Melewati &lt;em&gt;Miqat&lt;/em&gt;, maka wajib berihram dari &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Tidak melewati miqat kalau ke Makkah, maka mereka berihram dari   tempat yang sejajar atau memilih miqat yang terdekat dengannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun seorang yang pergi ke Makkah tidak lepas dari dua keadaan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Pergi ke Makkah dengan niat haji atau umrah atau keduanya   bersama-sama maka tidak boleh dia masuk makkah kecuali dalam keadaan   berihram.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Pergi ke Makkah dengan niat tidak berhaji dan umrah, maka dalam hal ini para ulama terbagi menjadi dua:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. Orang yang melewati miqat dan ingin masuk makkah wajib berihram   baik ingin haji dan umrah ataupun yang lainnya, ini merupaka madzhab   Hanafiyah dan Malikiyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdalil dengan atsar Ibnu Abbas &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;إنه لا يدخل إلا من كان محرمًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya tidaklah masuk (ke haram makkah) kecuali dalam keadaan berihram”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka berkata: “Ini menunjukkan bahwa seorang mukalaf kalau melewati   miqat dengan niat masuk makkah maka tidak boleh memasukinya kecuali   dalam berihram. Demikian juga Allah telah mengharamkan makkah dan   keharaman tersebut mengharuskan masuknya dengan cara yang khusus dan   kalau tidak maka sama saja dengan yang lainnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Boleh bagi yang melewati miqat dan tidak berniat haji atau umrah untuk tidak berihram dan ini adalah madzhab Syafi’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka berdalil sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sabda Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لمن أراد الحج و العمرة (متفق عليه)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Bagi siapa saja yang ingin melaksanakan haji dan umrah” &lt;/em&gt;(Mutafaqun ‘Alaih)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sini Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; membatasi   perintah berihram kepada orang yang berniat melaksanakan haji dan umrah,   hal ini menunjukkan bahwa selainnya dibolehkan tidak berihram jika   ingin masuk makkah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berhujjah dengan masuknya Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; ke Makkah pada fathul Makkah dalam keadaan memakai topi baja pelindung kepala (&lt;em&gt;al-Mighfar&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan yang rajih –&lt;em&gt;wallahu’alam&lt;/em&gt;- adalah pendapat kedua yang   membolehkan karena asalnya adalah tidak diwajibkan untuk berihram sampai   ada dalil yang menunjukkannya. Dan ini adalah pendapat yang dirajihkan   oleh Ibnu Qudamah dan Bahaudin al-Maqdisy serta Muhammad bin Muhammad   al-Mukhtar asy-Syanqithy.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari pembahasan yang lalu menunjukkan wajibnya berihram dari   miqat-miqat yang telah ditentukan oleh syar’i, lalu bagi mereka yang   melewat miqat dan dia berniat haji atau umrah dan belum berihram maka   dia tidak lepas dari tiga keadaan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Melewati &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt; dan belum berihram, lantas dia melampaui &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt;  beberapa jauh, kemudian kembali ke miqat untuk berihram darinya, maka   hukumnya adalah boleh dan tidak terkena apa-apa, karena dia telah   berihram dari tempat yang Allah perintahkan untuk berhram.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Melewati &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt;, walaupun hanya satu kilometer, lalu berihram dan dia tidak kembali ke miqat, masalah ini ada dua gambaran:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a.Dia memiliki udzur syar’i sehingga tidak mampu untuk kembali, seperti takut kehilangan haji kalau kembali dan lain sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b.Tidak memiliki udzur syar’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;maka hukum kedua-duanya adalah sama, yaitu wajib menyembelih   sembelihan, karena dia telah kehilangan kewajiban haji, yaitu berihram   dari miqat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Melewati &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt; dan melampauinya, kemudian berihram setelah melampaui &lt;em&gt;miqat&lt;/em&gt;, lalu kembali dan berihram lagi untuk kedua kali dari miqat maka dalam hal ini ada lima pendapat ulama:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a. Wajib atasnya dam (sembelihan) baik kembali atau tidak kembali, ini pendapat malikiyah dan hanabillah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b. Tidak ada dam selama belum melaksanakan satu amalan-amalan haji atau umrah, ini madzhab Syafi’iyah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c. Kalau kembali ke miqat dalam keadaan bertalbiyah maka tidak ada   dam (sembelihan) dan kalau kembali tidak bertalbiyah maka wajib atasnya   dam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d. Rusak hajinya atau umrahnya dan wajib mengulangi ihramdari miqat, ini pendapat Sa’id bin Jubair.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e. Tidak apa-apa, ini pendapat al-Hasan al-Bashry, al-Auza’i, dan ats-Tsaury.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat pertama adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithy dalam &lt;em&gt;Mudzakirat Syarh ‘Umdah&lt;/em&gt; hal. 23.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;JENIS-JENIS MANASIK HAJI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;Jenis-jenis manasik haji yang telah ditetapkan syariat ada tiga,yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Ifrad&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ifrad merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya   berihram untuk haji tanpa dibarengi dengan umroh,maka seorang yang   memilih jenis manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi   ke Makkah dan ber-&lt;em&gt;th&lt;/em&gt;&lt;em&gt;a&lt;/em&gt;&lt;em&gt;waf qudum&lt;/em&gt;, apabila telah ber-&lt;em&gt;th&lt;/em&gt;&lt;em&gt;a&lt;/em&gt;&lt;em&gt;waf&lt;/em&gt;  maka dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari   nahar (tanggal 10 Dzul hijah dan tidak dibebani hadyu (sembelihan),serta   tidak ber-Sa’i kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada   perjalanan yang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diantara bentuk-bentuk &lt;em&gt;Ifrad&lt;/em&gt; adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a.  Berumroh sebelum bulan-bulan haji dan tinggal menetap di Makkah sampai haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b.  Berumroh sebelum bulan-bulan haji, kemudian pulang ketempat   tinggalnya dan setelah itu kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah   haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Tamattu’&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tamatu’ adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji setelah itu   berihram untuk haji pada tahun itu juga. Dalam hal ini diwajibkan   baginya untuk menyembelih &lt;em&gt;hadyu&lt;/em&gt; (sembelihan). Oleh karena itu setelah &lt;em&gt;thawaf&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;sa’i&lt;/em&gt; dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzul Hijjah berihram untuk haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Qiran&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan membawa &lt;em&gt;hadyu&lt;/em&gt; (sembelhan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;, dan qiran ini memiliki tiga bentuk:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a.  Berihram untuk haji dan umrah bersamaan, dengan menyatakan “لبيك عمرةً وحجًا ” dengan dalil bahwa Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; didatangi Jibril u dan berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة فى حجة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan “‘Umrah fi hajjatin”&lt;/em&gt; (H.R Bukhari)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b.  Berihram untuk umrah saja pertama kali kemudian memasukkan haji   atasnya sebelum memulai thawaf. Dengan dalil hadits yang diriwayatkan   ‘Aisyah ketika beliau berihram untuk umrah kemudian haidh di Saraf. Lalu   Rasulullah memerintahkan beliau untuk berihlal (ihram) untuk haji dan   perintah tersebut bukan merupakan pembatalan umrah dengan dalil sabda   Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; dalam hadits tersebut:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;سعيك طوافك لحجك وعمرتك&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Cukuplah bagi kamu thawafmu untuk haji dan umrahmu” &lt;/em&gt;(H.R Muslim no. 2925/132)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c.  Berihram untuk haji kemudan memasukkan umrah atasnya. Tentang kebolehan hal ini para ulama ada dua pendapat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Boleh dengan dalil hadits ‘Aisyah:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;أهل رسول الله  بالحج&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Rasululloh berihlal (ihrom) dengan haji”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan hadits Ibnu Umar &lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة فى حجة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan “‘Umrah fi hajjatin”&lt;/em&gt; (H.R Bukhari)&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;دخل العمرة فى الحج إلى يوم القيامة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“telah masuk umroh kedalam haji sampa hari kiamat”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalil-dalil ini menunjukkan kebolehan memasukkan umrah kedalam haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak boleh dan ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab   hanbali. Berkata Syaikhul Islam: “Dan seandainya dia berihram dengan   haji kemudian memasukkan umrah ke dalamnya, maka tidak boleh menurut   pendapat yang rajih dan sebaliknya dengan kesepakatan para ulama” &lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn12"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian berselisih para ulama dari ketiga macam/jenis manasik ini dan dapat kita simpulkan menjadi tiga pendapat:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. &lt;em&gt;Tamattu’&lt;/em&gt; lebih utama dan ini merupakan pendapat Ibnu   Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, ‘Aisyah, Alhasan, ‘Atha’, Thawus,   Mujahid, Jabir bin Zaid, Al-Qarim, Saalim, Ikrimah, Ahmad bin Hanbal,   dan madzhab ahli zhahir serta merupakan pendapat yang masyhur dari   madzhab hanbali dan satu daru dua pendapat Imam Syafi’i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Qiran lebih utama dan ini merupakan pendapat madzhab Hanafi dan Tsaury berhujjah dengan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits Anas, beliau berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;سمعت رسول الله  أهل بها جميعًا: لبيك عمرة و حجًا، لبيك عمرة و حجًا (متفق عليه)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Aku mendengar Rasulullah berihlal dengan keduanya&lt;/em&gt;&lt;em&gt;: ‘L&lt;/em&gt;&lt;em&gt;abbaik Umrotan wa hajjan&lt;/em&gt;&lt;em&gt;’&lt;/em&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;(Mutafaqun Alaih)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits Adh-Dhabi bin Ma’bad ketika &lt;em&gt;talbiyah&lt;/em&gt; dengan keduanya,   kemudian datang umar lalu dia menanyakannya,maka beliau berkata: “Kamu   telah mendapatkan sunah Nabimu” (HR Abu Dawud no. 1798; Ibnu Majah no.   2970 ddengan sanad shahih)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perbuatan Ali dan perkataannya kepada Utsman ketika menegurnya:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;سمعت النبي يلبي بها جميعا فلم أكن أدع قول رسول الله لقولك (رواه البيهقي)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Aku mendengar Rasulullah bertalbiyyah dengan keduanya sekalgus,   maka aku tidak akan meninggallkan ucapan Rasulullah karena pendapatmu “&lt;/em&gt;(H.R Baihaqi)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena pada Qiran ada pembawaan &lt;em&gt;hadyu&lt;/em&gt;, maka lebih utama dari yang tidak membawa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.  Ifrad lebih utama dan ini merupakan pendapat Imam Malik dan yang   terkenal dari Madzhab Syafi’i serta pendapat Umar, Utsman, Ibnu Umar,   Jabir dan ‘Aisyah; dengan hujjah:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadits Aisyah dan Jabir yang menjelaskan bahwa Nabi &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt; melakukan haji ifrad&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena haji tersebut sempurna tanpa membutuhkan      penguat, maka yang tidak membutuhkan lebih utama dari yang membutuhkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Amalan Khulafaur Rasyidin&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Sedangkan yang rajih –&lt;em&gt;wallahu’alam&lt;/em&gt;- adalah pendapat pertama dengan dalil:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;a.  Hadits Ibnu Abbas, beliau berkata: ketika Rasulullah sampai di   Dzi Thuwa dan menginap disana , lalu setelah shalat subuh beliau   berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;من شاء أن يجعلهاعمرة فلييجعلها عمرة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barang siapa yang ingin menjadikannya umrah maka jadikanlah dia sebagai umrah”&lt;/em&gt; (Mutafaqun Alaihi)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;b.  Hadits Aisyah:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;خرجنل  مع رسول الله  ولا أريد إلا أنه  الحج، فلما قدما مكة تطوفنا بالبيت فأمر  رسول الله  ما لم يكن ساق الهديي  أن يحل، قالت فحل من لم يكن ساق الهدي و  ناؤه لم يسقن اللهدي فاحللنا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Kami telah berangkat bersama Rasulullah dan tidaklah kami   melihat kecuali itu adalah haji, ketika kami tiba di makkah kami thawaf   di ka’bah, lalu Rasulullah memerintahkan orang yang tidak membawa hadyu   (senmbelihan) untuk bertahalul, berkata Aisyah: maka bertahalullah  orang  yang tidak membawa hadyu dan istri-istri beliatidak membawa hadyu  maka  mereka bertahalul ” &lt;/em&gt;(Mutafaqun ‘Alaih)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;c.  Juga terdapat riwayat Jabir dan Abu Musa bahwa Rasulullah   memerintahkan sahabat-sahabatnya ketika selesai thawaf di ka’bah untuk   tahalul dan menjadikannya sebagai umrah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka perintah pindah dari Ifrad dan Qiran kepada tamatu’ menujukkan   bahwa tamattu’ lebih utama. Karena, tidaklah beliau memindahkan satu hal   kecuali kepada yang lebih utama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;d.  Sabda Raslullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;لو استقبلت من أمري ما استدبرت ما سقت الهدي و لجملتها عمرة&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Seandainya saya dapat mengulangi apa yang telah lalu dari amalan   saya maka saya tidak akan membawa sembelihan dan menjadikannya Umrah”.&lt;/em&gt; (H.R Muslim Ahmad no. 6/175)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;e.  Kemarahan dan kekesalan Rasulullah &lt;em&gt;Shallallahu’alaihi Wasallam&lt;/em&gt;  kepada para sahabatnya yang masih bimbang dengan anjuran beliau agar   mereka menjadikan haji mereka umrah sebagaimana hadits Aisyah:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;فدخل علي و هو غضبان فقلت: من اغضبا يا رسول الله اخله الله النار؟ قال أوما شعرت أني أمرت الناس بأمر فإذا هم يترددون&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Maka masuklah Ali dan beliau dalam keadaan marah, lalu aku   berkata: “Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:   “Apakah kamu tidak tahu, aku memerintahkan orang-orang dengan suatu   perintah , lalu mereka bimbang. (ragu dalam melaksanakannya) “&lt;/em&gt;(H.R Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka jelaslah kemarahan beliau ini menunjukan satu keutamaan yang lebih dari yang lainnya, &lt;em&gt;Wallahu’alam&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa hukumnya disesuaikan dengan keadaan, kalau dia membawa &lt;em&gt;hadyu&lt;/em&gt; (sembelihan) maka &lt;em&gt;qiran&lt;/em&gt; lebih utama, dan apabila dia telah berumrah sebelum bulan-bulan haji maka &lt;em&gt;ifrad&lt;/em&gt; lebih utama dan selainnya &lt;em&gt;tama&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Radhiallahu’anhu&lt;/em&gt;&lt;em&gt;tu’&lt;/em&gt;  lebih utama. Beliau berkata: “Dan yang rajih dalam hal ini adalah   hukumnya berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang berhaji, kalau   dia bepergian dengan satu perjalanan umrah dan satu perjalanan untuk   haji atau bepergian ke Makkah sebelum bulan-bulan haji dan berumrah   kemudian tinggal menetap disana sampai haji, maka dalam keadaan ini &lt;em&gt;ifrad&lt;/em&gt;  lebih utama baginya, dengan kesepakatan imam yang empat. Dan apabila   dia mengerjakan apa yang telah dilakukan kebanyakan orang, yaitu   mengabungkan antara umrah dan haji dalam satu kali perjalanan dan masuk   Makkah dalam bulan-bulan haji, maka dalam keadaan ini qiran lebih utama   baginya kalau dia membawa hadyu, dan kalau dia tidak membawa &lt;em&gt;hadyu&lt;/em&gt; maka, ber-&lt;em&gt;tahal&lt;/em&gt;&lt;em&gt;l&lt;/em&gt;&lt;em&gt;ul&lt;/em&gt; dari ihram untuk umrah lebih utama”&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftn13"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;hr size="1"&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Al-Mughn&lt;/em&gt;&lt;em&gt;i&lt;/em&gt;, 5/5 &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Syarhul Mumti’&lt;/em&gt;, 7/7&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Muzakir&lt;/em&gt;&lt;em&gt;at Syarhul ‘Umdatil Fiqh&lt;/em&gt;, Kitab &lt;em&gt;Haji wal Umrah&lt;/em&gt; hal.1&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Lihat Al-Ijma, oleh Ibnul Mundzir hal 54 dan &lt;em&gt;Al-Mughny&lt;/em&gt; 5/6&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Syarhl Umdah&lt;/em&gt; oleh Ibnu Taimiyah 2/302&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Lihat &lt;em&gt;Syarhul Mumti’&lt;/em&gt;, 7/62-64 dan &lt;em&gt;Syarah Umdatul Fiqh&lt;/em&gt; hal 14&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref7"&gt;*&lt;/a&gt; dikenal sekarang dengan &lt;em&gt;As-Sa’diyah&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref8"&gt;[7]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Syarah ‘Umdah&lt;/em&gt; oleh Ibnu Taimiyah 2/316&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref9"&gt;*&lt;/a&gt; Dikenal sekarang dengan nama As-Sail al-Kabir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref10"&gt;[8]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Syarah Umdah&lt;/em&gt; Ibnu Taimiyah 2/316&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref11"&gt;[9]&lt;/a&gt; Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam &lt;em&gt;Al Irwa’&lt;/em&gt; 6/176&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref12"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Al-Ikhtiyarat &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Fiqhiyyah&lt;/em&gt;, hal 117&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-ibadah-haji-1/#_ftnref13"&gt;[11]&lt;/a&gt; Kitab &lt;em&gt;Manasik&lt;/em&gt; hal. 14&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-196381639580986205?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/196381639580986205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/11/tuntunan-ibadah-haji-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/196381639580986205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/196381639580986205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/11/tuntunan-ibadah-haji-1.html' title='TUNTUNAN IBADAH HAJI (1)'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TM8_u4sLQRI/AAAAAAAAAxA/53fhssNRjek/s72-c/Masjidil+Haram.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-1834341732914993448</id><published>2010-10-30T14:03:00.002+07:00</published><updated>2010-10-30T14:08:15.620+07:00</updated><title type='text'>BEBERAPA KESALAHAN SAAT MELAKSANAKAN IBADAH HAJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TMvESRPc9kI/AAAAAAAAAww/kKE3LpV3MMM/s1600/Copy+of+211.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 155px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TMvESRPc9kI/AAAAAAAAAww/kKE3LpV3MMM/s200/Copy+of+211.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5533732385299691074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Haji merupakan ibadah yang sangat mulia, yang akan mendekatkan diri kita  kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, dalam melakukan  haji, harus dikerjakan dengan mencontoh Rasulullah Shallallahu 'alaihi  wa sallam. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ  يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh telah ada pada Rasulullah suri tauladan yang terbaik bagi orang  yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak  berdzikir kepada Allah". [Al Ahzab : 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pada waktu haji wada':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي أَنْ لَا أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambillah manasik haji kalian, sesunguhnya aku tidak mengetahui  barangkali aku tidak akan mengerjakan haji lagi setelah ini". [HR  Ahmad].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak kaum Muslimin yang pergi menunaikan ibadah haji, namun  mereka tidak memahami hukum-hukumnya, dan tidak mengetahui hal-hal yang  bisa membatalkan ibadahnya, atau yang bisa mengurangi kesempurnaan  hajinya. Hal ini terjadi, bisa jadi karena haji merupakan ibadah yang  pelaksanaannya membutuhkan waktu yang lama, serta hukum-hukumnya lebih  banyak jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Sehingga bisa  menyebabkan seseorang yang melaksanakan haji melakukan penyimpangan dan  kesalahan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Ilmu  manasik haji adalah yang paling rumit di dalam ibadah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian jama'ah haji, mereka mengerjakan hal-hal yang tidak ada asalnya  dari Al Kitab dan As Sunnah. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama,  adanya orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu. Kedua, mereka taklid buta  kepada pendapat seseorang tanpa adanya alasan yang dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini kami akan menjelaskan beberapa kesalahan yang sering  terjadi di kalangan jama'ah haji pada umumnya, supaya kita mampu  menghindarinya dan bisa memperingatkan saudara-saudara kita agar tidak  terjatuh dalam kesalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KESALAHAN KETIKA IHRAM.&lt;br /&gt;a. Sebagian jama'ah haji, ketika melewati miqat atau sejajar dengannya  di atas pesawat, mereka menunda ihram sehingga turun di bandara Jeddah.&lt;br /&gt;Dalam Al Bukhari dan Muslim, dan selainnya dari Ibnu Abbas, dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَّتَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ  الْمَنَازِلِ وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ هُنَّ لَهُنَّ وَلِكُلِّ  آتٍ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِمْ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ  وَالْعُمْرَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nabi telah menentukan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah,  dan untuk penduduk Syam di Al Juhfah, dan untuk penduduk Najd di Qarnul  Manazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Beliau Shallallahu 'alaihi  wa sallam bersabda: "Tempat-tempat itu untuk mereka dan untuk orang  yang melewatinya, meskipun bukan dari mereka (penduduk-penduduk kota  yang telah disebutkan), bagi orang yang ingin menunaikan haji dan  umrah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لِأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menentukan miqat untuk  penduduk Irak di Dzatu 'Irq". [HR Abu Dawud dan An Nasa-i].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat tersebut adalah miqat-miqat yang telah ditetapkan oleh  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai batasan syar'i. Maka  tidaklah halal bagi seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji dan  umrah untuk merubahnya atau untuk melewatinya tanpa ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Al Bukhari, dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Ketika  dibuka dua kota ini, yakni Bashrah dan Kufah, mereka datang kepada Umar,  lalu berkata: “Wahai, Amirul Mukminin. Sesungguhnya Nabi telah  menetapkan miqat untuk penduduk Najd di Qarnul Manazil, dan tempat itu  menyimpang dari kita. Apabila kita hendak pergi ke Qarnul Manazil, maka  akan memberatkan kita”. Umar berkata,”Lihatlah kepada tempat yang  sejajar dengannya (Qarnul Manazil, Pen) dari jalan kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam atsar ini Umar bin Khaththab telah menentukan miqat bagi orang  yang tidak lewat di tempat tersebut, namun mereka sejajar dengannya.  Tidak ada bedanya orang yang melewati miqat lewat udara ataupun lewat  darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Keyakinan sebagian jama'ah haji atau umrah, bahwa yang dimaksud ihram  adalah sekedar mengenakan pakaian ihramnya setelah mengganti dari  pakaian biasa; padahal, ihram adalah niat untuk masuk ke dalam ibadah  umrah atau haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang benar, bahwa seseorang ketika mengenakan pakaian ihram, hal ini  adalah persiapan untuk ihram. Karena ihram yang sebenarnya adalah niat  untuk masuk ke dalam manasik. Hal inilah yang belum diketahui oleh  kebanyakan orang, mereka mengira, hanya dengan mengenakan pakaian ihram,  telah mulai menjauhi larangan ihram, padahal larangan-larangan ihram  dijauhi ketika seseorang mulai niat masuk ke dalam manasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ketika seorang wanita dalam keadaan haidh, dia tidak melakukan ihram  karena adanya keyakinan bahwa ihram harus dalam keadaan suci, kemudian  dia melewati miqat tersebut tanpa ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini merupakan kesalahan yang nyata, karena haidh tidak  menghalanginya untuk ihram. Seorang wanita yang haidh, ia tetap  melakukan ihram dan mengerjakan semua yang harus dikerjakan oleh jama'ah  haji, kecuali thawaf. Dia menunda thawaf sehingga suci dari haidhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata: “Nabi telah masuk ke  tempatku, (dan) aku sedang menangis”. Beliau Shallallahu 'alaihi wa  sallam  bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab: “Demi  Allah, aku berkeinginan seandainya aku tidak haji pada tahun ini”.  Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali engkau sedang  haidh?” Aku menjawab: “Benar”. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَافْعَلِي  مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى  تَطْهُرِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk wanita keturunan  Adam. Kerjakanlah semua yang dikerjakan oleh orang yang haji, kecuali  engkau jangan thawaf di Ka'bah, sehingga engkau suci". [HR Al Bukhari].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Keyakinan sebagian jama'ah haji bahwa pakaian ihram bagi kaum wanita  harus memiliki warna tertentu, seperti warna hijau atau warna lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: "Adapun sebagian orang awam yang  mengkhususkan pakaian ihram bagi wanita dengan warna hijau atau hitam,  dan tidak boleh dengan warna yang lain, maka hal ini tidak ada  asalnya”.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Keyakinan bahwa pakaian ihram yang dipakai oleh jama'ah haji tidak boleh diganti meskipun kotor.&lt;br /&gt;Hal ini merupakan suatu kesalahan dari jama'ah haji. Sebenarnya boleh  untuk mengganti pakaian ihram mereka dengan yang semisalnya, dan boleh  juga untuk mengganti sandal. Tidak menjauhi kecuali larangan-larangan  ketika ihram, sedangkan hal ini bukanlah termasuk larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz: "Tidak mengapa untuk mencuci pakaian  ihram dan tidak mengapa untuk menggantinya, atau menggunakan pakaian  yang baru, atau yang sudah dicuci”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Talbiyah secara berjama'ah dengan satu suara.&lt;br /&gt;Ibnu Al Haaj berkata : "Yakni, hendaknya mereka tidak mengerjakannya  dengan satu suara, karena hal ini termasuk bid'ah, bahkan setiap orang  bertalbiyah sendiri-sendiri tanpa bertalbiyah dengan suara orang lain,  dan hendaknya terdapat ketenangan dan keheningan yang mengiringi  talbiyah ini…".[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Ketika ihram, sebagian jama'ah membuka pundak-pundak mereka seperti  dalam keadaan idh-thiba' (Membuka pundak sebelah kanan dan menutup  sebelah kiri dengan kain ihram).&lt;br /&gt;Idh-thiba' tidak disyari'atkan kecuali ketika thawaf qudum atau thawaf  umrah. Selain itu, tidak disyari'atkan dan pundak tetap dalam keadaan  tertutup dengan pakaian ihramnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya: "Yang sunnah adalah melakukan  idh-thiba' sebelum thawaf hingga selesai, tidak ada yang lain daripada  itu".[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah : "Apabila telah selesai dari  thawaf, maka dia mengembalikan rida'nya (pakaian atas dari ihramnya)  seperti keadaan semula, karena idh-thiba' dikerjakan ketika thawaf  saja".[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Keyakinan bahwa shalat dua raka'at setelah ihram hukumnya wajib.&lt;br /&gt;Tidak ada dalil yang menunjukkan wajibnya shalat dua raka’at setelah  ihram. Bahwasanya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  ihram setelah  melakukan shalat fardhu, maka dianjurkan ihram setelah shalat fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : "Disunnahkan untuk  ihram setelah selesai shalat, baik fardhu atau sunnah, jika dikerjakan  pada waktu sunnah. (Demikian) menurut satu di antara dua pendapat. Dan  menurut pendapat yang lain, jika dia shalat fardhu, maka dia ihram  sesudahnya, dan jika bukan waktu shalat fardhu, maka bagi ihram tidak  ada shalat yang mengkhususkannya. Dan ini adalah pendapat yang paling  kuat".[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. KESALAHAN KETIKA THAWAF.&lt;br /&gt;a. Memulai thawaf sebelum Hajar Aswad.&lt;br /&gt;Hal ini termasuk perbuatan ghuluw dalam agama. Sebagian orang mempunyai  keyakinan agar lebih berhati-hati. Akan tetapi, hal ini tidak bisa  diterima, karena sikap hati-hati yang benar adalah apabila kita  mengikuti syari'at dan tidak mendahului Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagian jama'ah haji berpedoman dengan do'a-do'a khusus, terkadang  mereka dipimpin oleh seseorang untuk mentalkin, kemudian mereka  mengulang-ulanginya secara bersama-sama.&lt;br /&gt;Hal ini tidak dibenarkan, karena dua hal. Pertama. Karena di dalam  thawaf tidak ada do'a khusus. Tidak pernah diriwayatkan dari Nabi n  bahwa di dalam thawaf terdapat do'a khusus. Kedua. Bahwa do'a secara  berjama'ah adalah perbuatan bid'ah. Perbuatan ini mengganggu bagi orang  lain yang juga sedang thawaf. Yang disyari'atkan ialah, setiap orang  berdo'a sendiri-sendiri tanpa mengeraskan suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : "Didalam hal ini  –yakni thawaf- tidak ada dzikir yang khusus dari Nabi, baik perintah  atau ucapan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengajarkan hal  itu. Bahkan setiap orang berdo'a dengan do'a-do'a yang masyru'  (disyariatkan). Adapun yang disebut oleh kebanyakan orang bahwa terdapat  do'a tertentu di bawah Mizab dan tempat lainnya, maka hal itu sama  sekali tidak ada asalnya”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sebagian jama'ah haji mencium Rukun Yamani.&lt;br /&gt;Hal ini merupakan kesalahan, karena Rukun Yamani hanya disentuh dengan  tangan saja, tidak dicium. Yang dicium hanyalah Hajar Aswad, apabila  kita mampu untuk menciumnya. Jika tidak mampu, maka diusap. Jika tidak  bisa (diusap) juga, maka kita cukup dengan memberi isyarat dari jarak  jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : "Adapun Rukun  Yamani, menurut pendapat yang shahih, dia tidak boleh dicium". [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : "Telah shahih dari beliau  Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa  sallam menyentuh Rukun Yamani. Dan tidak ada yang sah dari beliau  Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam  menciumnya, atau mencium tangan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam   setelah menyantuhnya".[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Sebagian jama'ah haji mengerjakan thawaf dari dalam Hijir Isma'il.&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:  "Tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam Hijir Ismail ketika thawaf,  karena sebagian besar hijir termasuk dalam area Ka'bah, padahal Allah  memerintahkan untuk thawaf mengelilingi Ka'bah, bukan thawaf di dalam  Ka'bah".[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Keyakinan sebagian orang yang thawaf, bahwa shalat dua raka'at setelah thawaf harus dikerjakan di dekat Maqam Ibrahim.&lt;br /&gt;Yang benar, shalat dua raka'at setelah thawaf boleh dikerjakan dimana  saja dari Masjidil Haram, dan tidak wajib untuk dikerjakan di dekat  Maqam Ibrahim, sehingga tidak berdesak-desakan dan mengganggu jama'ah  lainnya.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Ketika thawaf, sebagian jama'ah haji mengusap-usap setiap yang mereka  jumpai di dekat Ka'bah, seperti Maqam Ibrahim, dinding Hijir Isma'il  dan kain Ka'bah, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Adapun seluruh  sudut Ka'bah dan Maqam Ibrahim, dan seluruh masjid dan dindingnya, dan  kuburnya para nabi dan orang-orang yang shalih, seperti kamar Nabi kita,  dan tempatnya Nabi Ibrahim dan tempat Nabi kita yang dahulu mereka  gunakan untuk shalat, dan selainnya dari kuburnya para nabi serta orang  yang shalih, atau batu yang di Baitul Maqdis, maka menurut kesepakatan  ulama, semuanya itu tidak boleh untuk diusap dan tidak boleh juga untuk  dicium".[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Sebagian jama'ah wanita berdesak-desakan ketika hendak mencium Hajar Aswad.&lt;br /&gt;Padahal Allah telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَجُّ أَشْهُرُُ مَّعْلُومَاتُُ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haji adalah pada bulan-bulan yang telah ditetapkan, barangsiapa yang  mengerjakan haji, maka janganlah berbuat rafats dan berbuat fasik dan  berbantah-bantahan dalam mengerjakan haji". [Al Baqarah : 197].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdesak-desakan ketika haji akan menghilangkan rasa khusyu' dan akan  melupakan dalam mengingat Allah. Padahal, dua hal ini termasuk maksud  yang utama ketika kita thawaf.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Sebagian jama’ah haji tetap idh-thiba' setelah selesai thawaf dan shalat dua raka'at dalam keadaan idh-thiba'.&lt;br /&gt;Dalam hal ini terdapat dua kesalahan. Pertama. Yang sunnah dalam  idh-thiba', yaitu ketika thawaf qudum. Kedua. Mereka terjatuh ke dalam  larangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang shalat sedangkan  pundak mereka terbuka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia  berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقَيْهِ شَيْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu baju yang  tidak ada di atas kedua pundaknya sesuatu dari kain". [HR Al Bukhari].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Mengeraskan niat ketika memulai thawaf.&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Nabi tidak mengatakan ‘aku niatkan  thawafku tujuh putaran di Ka'bah begini dan begini’ -hingga beliau  Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata- bahkan hal ini termasuk bid'ah  yang munkar".[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Raml (lari kecil) pada tujuh putaran seluruhnya.&lt;br /&gt;Yang sunnah ialah, melakukan raml pada tiga putaran yang pertama. Adapun  pada empat putaran yang terakhir berjalan seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Keyakinan mereka bahwa Hajar Aswad bisa memberi manfaat.&lt;br /&gt;Sebagian di antara jamaah haji, setelah menyentuh Hajar Aswad, mereka  mengusapkan tangannya ke seluruh tubuhnya atau mengusapkan kepada  anak-anak kecil yang bersama mereka. Hal ini merupakan kejahilan dan  kesesatan, karena manfaat dan madharat datangnya dari Allah. Dahulu Umar  bin Al Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا  أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu, tidak memberi  madharat dan tidak bermanfaat. Jika seandainya aku tidak melihat  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan  menciummu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Setelah selesai dari shalat dua raka'at, mereka berdiri dan berdo'a secara berjama'ah dan dikomando oleh seseorang.&lt;br /&gt;Hal ini bisa mengganggu orang lain yang sedang shalat di dekat maqam.  Mereka melampaui batas ketika berdo'a. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala  telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdo'alah kepada Rabb kalian dengan khusyu' dan perlahan, sesungguhnya  Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas". [Al A'raf : 55].  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. KESALAHAN DALAM SA'I.&lt;br /&gt;a. Melakukan sa'i antara Shafa dan Marwa sebanyak empatbelas kali, dimulai dari Shafa dan berhenti di Shafa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal yang sunnah ialah tujuh kali, bermula dari Shafa dan berakhir di Marwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Hal ini adalah salah terhadap sunnah  Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak pernah dinukil oleh  seorangpun dari beliau, dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun dari  para imam yang telah dikenal pendapat mereka, meskipun hal ini dikatakan  oleh sebagian orang belakangan yang menyandarkan kepada imam. Di antara  hal yang menjelaskan kesalahan pendapat ini (sa'i empatbelas kali),  bahwasanya beliau berbeda dalam hal ini. Beliau mengakhiri sa'i di  Marwa. Jika seandainya berangkat dan kembali dihitung sekali, pasti  beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam akan mengakhiri sa'i di Marwa".[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Shalat dua raka'at setelah selesai dari sa'i, seperti ketika selesai dari thawaf.&lt;br /&gt;Shalat dua raka'at setelah selesai thawaf telah ditetapkan oleh sunnah.  Adapun shalat dua raka'at setelah selesai dari sa'i adalah bid'ah yang  munkar dan menyelisihi petunjuk Nabi. Dalam masalah ini tidak bisa  diqiyaskan, karena bertentangan dengan nash yang shahih dalam sa'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Terus melakukan thawaf dan sa'i meskipun shalat di Masjidil Haram telah dikumandangkan iqamat.&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:  "Hendaknya (orang yang sedang sa'i atau thawaf) shalat bersama orang  lain, kemudian baru menyempurnakan thawaf dan sa'inya yang telah dia  kerjakan sebelum shalat".[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Sebagian jama'ah haji, mereka sa'i dalam keadaan idh-thiba'.&lt;br /&gt;Seharusnya dia tidak idh-thiba', karena tidak ada dalilnya dalam hal  ini. Imam Ahmad mengatakan: "Kami tidak mendengar sesuatu (tentang  sunnahnya ketika sa'i) sedikitpun juga". [17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sebagian jamaah haji berlari-lari di seluruh putaran antara Shafa dan Marwa.&lt;br /&gt;Hal ini menyelisihi sunnah, karena berlari hanya di antara dua tanda hijau saja. Yang lainnya adalah jalan seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Sebagian wanita berlari di antara dua tanda hijau seperti yang dilakukan oleh kaum lelaki.&lt;br /&gt;Padahal wanita tidak dianjurkan untuk lari, namun berjalan biasa di  antara dua tanda hijau. Ibnu Umar berkata: "Bagi kaum wanita tidak  disunnahkan raml (berlari kecil) di sekitar Ka'bah, dan (tidak) juga  antara Shafa dan Marwa".&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: "Adapun kaum wanita,  (ia) tidak disyari'atkan untuk berjalan cepat di antara dua tanda hijau,  karena wanita adalah aurat. Akan tetapi, disyari'atkan bagi mereka  untuk berjalan di seluruh putaran".[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Sebagian orang yang sa'i, setiap kali menghadap Shafa dan Marwa selalu membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللهِ  .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal yang sunnah ialah membaca ayat ini ketika pertama kali menghadap kepada Shafa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. KESALAHAN KETIKA WUKUF DI ARAFAH.&lt;br /&gt;a. Sebagian jama'ah haji berdiam di luar batasan Arafah dan tinggal di  tempat itu hingga terbenam matahari, kemudian mereka langsung menuju  Muzdalifah.&lt;br /&gt;Hal ini merupakan kesalahan besar. Karena wukuf di Arafah hukumnya  rukun, dan tidak akan sah hajinya tanpa rukun ini, berdasarkan sabda  Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Haji adalah Arafah, barangsiapa yang datang pada malam harinya sebelum  terbit fajar (hari kesepuluh), maka dia telah mendapatkan wukuf". [HR At  Tirmidzi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari.&lt;br /&gt;Dalam masalah ini Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah mengatakan, hal ini  adalah haram, menyelisihi sunnah Nabi. Karena beliau Shallallahu  'alaihi wa sallam wukuf hingga matahari terbenam dan hilang cahayanya.  Meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya matahari merupakan hajinya orang  jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mereka menghadap ke arah bukit Arafah, sedangkan kiblat berada di  belakang atau di arah kanan dan kirinya. Sebagian mereka mempunyai  keyakinan, bahwa ketika wukuf harus memandang bukit Arafah atau pergi  dan naik kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan seperti ini menyelisihi sunnah, karena sunnah dalam hal ini  ialah menghadap ke arah kiblat sebagaimana dikerjakan oleh Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata: "Menghadap ke arah bukit Arafah atau  tempat lain tidaklah terdapat keutamaan atau anjuran. Bahkan, jika dia  mengharuskan hal ini dan meyakini bahwa perbuatan ini afdhal, maka  mengerjakannya merupakan bid'ah. Dan naik ke atas bukit dengan maksud  beribadah disana merupakan bid'ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam".[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Bercepat-cepat dan bersegera ketika meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah.&lt;br /&gt;Sebagian orang sangat tergesa-gesa dengan kendaraan mereka dan dengan  suara klakson yang mengganggu orang lain, sehingga terjadi hal-hal yang  tidak terpuji, seperti saling mencela dan saling mendo'akan kejelekan di  antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Al Haaj: "Apabila seseorang meninggalkan Arafah setelah  matahari terbenam, maka hendaknya dia berjalan pelan-pelan, dan wajib  baginya untuk tenang, perlahan dan khusyu". [21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. KESALAHAN KETIKA MELEMPAR JUMRAH&lt;br /&gt;a. Keyakinan, bahwa mereka harus mengambil kerikil dari Muzdalifah.&lt;br /&gt;Anggapan seperti ini tidak ada asalnya sama sekali. Dahulu, Nabi   Shallallahu alaihi wa sallam ialah memerintahkan Ibnu Abbas untuk  mengambil kerikil, sedangkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam naik  di atas kendaraan. Yang nampak dari kisah ini, beliau Shallallahu  'alaihi wa sallam berada di dekat jumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Ibnu Baz: "Apa yang dikerjakan oleh sebagian orang untuk  mengambil kerikil ketika sampai di Muzdalifah sebelum mengerjakan  shalat, kebanyakan mereka berkeyakinan bahwa hal itu masyru', maka hal  ini merupakan kesalahan yang tidak ada asalnya. Nabi n tidak  memerintahkan untuk diambilkan kerikil, kecuali ketika beliau n  meninggalkan Masy'aril Haram menuju Mina. Kerikil yang diambil dari mana  saja sah baginya, tidak harus dari Muzdalifah, akan tetapi boleh  diambil di Mina". [22].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Keyakinan mereka bahwa ketika melempar jumrah, seakan-akan sedang melempar setan.&lt;br /&gt;Maka dari itu, ketika melempar jumrah mereka berteriak dan memaki, yang  mereka yakini sebagai setan. Semua hal ini tidak ada asalnya di dalam  syari'at kita yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Melempar dengan sandal atau sepatu dan batu yang besar.&lt;br /&gt;Hal ini bertentangan dengan Sunnah Nabi, karena beliau n melempar dengan  batu kerikil, dan beliau memerintahkan umatnya untuk melempar dengan  semisalnya. Dalam hal ini, beliau memperingatkan dari ghuluw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Mereka tidak berhenti untuk berdo'a setelah melempar jumrah yang pertama dan kedua pada hari tasyrik.&lt;br /&gt;Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu berdiri setelah  melempar jumrah ula dan wustha, dengan menghadap ke arah kiblat  mengangkat kedua tangannya dan berdo'a dengan do'a yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. KESALAHAN KETIKA MENCUKUR RAMBUT.&lt;br /&gt;Sebagian jama'ah haji mencukur sebagian dari rambutnya dan menyisakan sebagian lainnya.&lt;br /&gt;Mengomentari hal ini Syaikh Ibnu Baz berkata: "Menurut pendapat yang  terkuat di antara dua pendapat ulama, tidak sah jika memendekkan  sebagian rambut atau hanya mencukur sebagian rambutnya. Bahkan yang  wajib adalah mencukur seluruh rambutnya atau memendekkan seluruhnya. Dan  yang afdhal ialah memulai dengan bagian kanan terlebih dahulu sebelum  yang kiri".[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. KESALAHAN KETIKA ZAIARAH KE MASJID NABAWI.&lt;br /&gt;a. Keyakinan bahwa ziarah ke Masjid Nabawi ada hubungannya dengan haji dan termasuk penyempurna bagi hajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan seperti ini merupakan kesalahan yang nyata, karena ziarah ke  Masjid Nabawi tidak ditetapkan dengan waktu tertentu, dan tidak ada  hubungannya dengan haji. Barangsiapa yang pergi haji dan tidak ziarah ke  Masjid Nabawi, hajinya sah dan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagian orang yang ziarah ke kubur Nabi, mereka mengeraskan suara di  dekat kuburan. Mereka berkeyakinan, bahwa jika berdo'a di dekat kubur  Nabi akan memiliki kekhususan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini merupakan kesalahan yang besar, dan tidak disyari'atkan untuk  berdo'a di dekat kuburan, meskipun orang yang berdo'a tidak menyeru  kecuali kepada Allah. Hal ini meruapakan perbuatan bid'ah dan menjadi  wasilah menuju kesyirikan. Dahulu, kaum salaf tidak pernah berdo'a di  dekat kubur Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  ketika mereka  mengucapkan salam kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji':&lt;br /&gt;1. Majmu' Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Jama' Abdur Rahman bin Qasim.&lt;br /&gt;2. At Tahqiq wa Al Idhah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz.&lt;br /&gt;3. Hajjatu an Nabiyyi Kama Rawaaha anhu Jabir, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. Al Maktab Al Islami, Tahun 1405H.&lt;br /&gt;4. Manasiku al Hajji wa al Umrah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, Cet. Dar al Waki', Tahun 1414 H.&lt;br /&gt;5. Min Mukhalafat al Hajji wa al Umrah wa az Ziyarah, Syaikh Abdul Aziz  bin Muhammad As Sadhan, Cet. Dar Syaqraa', Tahun 1416 H, dan  Mukhtashar-nya.&lt;br /&gt;6. Al Mindhar Fi Bayani Katsirin min al Akhtha' asy Syaai'ah, Ma'aali  Syaikh Shalih Alu Syaikh, Cet. Dar al Ashimah, Tahun 1418 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1].  At Tahqiq wa al Idhah, hlm. 17.&lt;br /&gt;[2]. Fatawa Muhimmah, hlm. 25.&lt;br /&gt;[3]. Lihat Min Mukhalafat al Hajji wa al Umrah wa az Ziyarah (mukhtashar), hlm. 11.&lt;br /&gt;[4]. Hajjatu an Nabiyyi, hlm. 111.&lt;br /&gt;[5]. Al Manhaj fi Shifati al Umrati wa al Hajj, hlm. 22.&lt;br /&gt;[6]. Majmu' Fatawa, 26/109.&lt;br /&gt;[7]. Majmu' Fatawa, 26/122.&lt;br /&gt;[8]. Majmu' Fatawa, 26/97.&lt;br /&gt;[9]. Zaadul Ma'ad, 2/225.&lt;br /&gt;[10]. Majmu' Fatawa, 26/121.&lt;br /&gt;[11]. Manasiku al Hajji wal Umrah, hlm. 92.&lt;br /&gt;[12]. Majmu' Fatawa, 26/121.&lt;br /&gt;[13]. Manasik al Hajji wa al Umrah, hlm. 88&lt;br /&gt;[14]. Zaadu al Ma'ad, 2/225.&lt;br /&gt;[15]. Zaadu al Ma'ad, hlm. 213-214.&lt;br /&gt;[16]. Lihat Min Mukhalafat (mukhtashar), hlm. 23.&lt;br /&gt;[17]. At Tahqiq wa Al Idhah, 41.&lt;br /&gt;[18]. Manasikul Hajji wa Al Umrah, 95.&lt;br /&gt;[19]. Al Mindhar, 59.&lt;br /&gt;[20]. Al Mindhar,&lt;br /&gt;[21]. Lihat Min Mukhalafat (mukhtashar), hlm. 25.&lt;br /&gt;[22]. At Tahqiq wa al Idhah, hlm. 53.&lt;br /&gt;[23]. Lihat Min Mukhalafat (mukhtashar), hlm. 29.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/907497014977033759-1834341732914993448?l=arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/feeds/1834341732914993448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/10/beberapa-kesalahan-saat-melaksanakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/1834341732914993448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/907497014977033759/posts/default/1834341732914993448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com/2010/10/beberapa-kesalahan-saat-melaksanakan.html' title='BEBERAPA KESALAHAN SAAT MELAKSANAKAN IBADAH HAJI'/><author><name>H, Akbar</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/S0Mn2U5zsvI/AAAAAAAAAAY/q-OlMzffMKM/S220/Ak-37.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TMvESRPc9kI/AAAAAAAAAww/kKE3LpV3MMM/s72-c/Copy+of+211.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-907497014977033759.post-7039985276970836962</id><published>2010-10-29T06:48:00.003+07:00</published><updated>2010-10-29T07:12:03.188+07:00</updated><title type='text'>IBADAH HAJI, KEINGINAN SETIAP MUSLIM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TMoQ1Y7E1RI/AAAAAAAAAwo/WmiGSGKZV7g/s1600/3158.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k7B8iKL7vkw/TMoQ1Y7E1RI/AAAAAAAAAwo/WmiGSGKZV7g/s200/3158.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5533253601587418386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي  شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ  السُّجُودِ&lt;br /&gt;وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى  كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ&lt;br /&gt;لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ  مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا  مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ  ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ  وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ&lt;br /&gt;ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ  رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ  فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat  Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu  pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf,  dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka  akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang  kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka  mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut  nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah  berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian  daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang  yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan  kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan  nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling  rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan  barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu  adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi  kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu  kaharamannya, maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu dan  jauhilah perkataan-perkataan yang dusta". [Al Hajj : 26-30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat-ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan  keagungan dan kemuliaan al Bait al Haram (rumah yang suci, Ka’bah), juga  kemuliaan orang yang membangunnya, yaitu khalilur rahman (Nabi Ibrahim  Alaihisallam) [1].  Sebagaimana dalam ayat-ayat ini pula, terdapat  celaan terhadap orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa  Ta'al. Demikian pula celaan terhadap orang-orang yang berbuat syirik  dari kaum Quraisy, yang justru mereka berbuat kufur dan syirik di tempat  yang pertama kali diserukan tauhidullah (pengesaan Allah) dan  pengkhususan ibadah hnaya untuk Allah saja tanpa ada kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun menyebutkan dalam kitabNya yang mulia ini, bahwa Dia telah  menempatkan Ibrahim Alaihissallam di sebuah tempat, yaitu Baitullah.  Maksudnya adalah membimbingnya dan menyerahkan kepadanya, serta  mengizinkannya untuk membangunnya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat pertama dari kelima ayat di atas mengandung makna, bahwa Allah  Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihissallam dan  anaknya, yaitu Nabi Ismail Alaihissallam [3] agar membangun Ka’bah [4]   atas namaNya Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya dan  menyucikannya dari kesyirikan-kesyirikan [5],  yang (tujuannya)  diperuntukkan bagi orang orang yang thawaf mengelilinginya, yang tinggal  padanya [6],  dan shalat dengan menghadap kepadanya dari kalangan  orang-orang senantiasa melakukan ruku’ dan sujud.[7]. Pada ayat  berikutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَذِّن ف
